Riset: Orang yang Ogah Pakai Masker Punya Kemampuan Kognitif Rendah

Di masa pandemi virus corona, penting bagi masyarakat untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan, dan selalu menggunakan masker setiap keluar rumah. Namun, masih ada saja orang yang ogah mengikuti aturan, termasuk ogah pakai masker.
Memakai masker adalah kewajiban di era pandemi untuk mencegah penularan virus. Nah, kalau ada orang yang masih bandel dan tidak mau menggunakan masker, jangan di-bully! Menurut ilmuwan, mereka memiliki kapasitas berpikir yang kurang baik.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of California, Riverside, orang-orang yang tidak mau mengikuti aturan jaga jarak dan menggunakan masker itu berhubungan dengan kemampuan mental, salah satunya kecerdasan otak. Studi ini diterbitkan dalam jurnal peer-review Prosiding National Academy of Sciences.
Sementara itu, orang yang mematuhi pedoman jarak sosial, termasuk patuh pakai masker dengan baik, memiliki kapasitas memori kerja yang lebih baik, yang merupakan indikator kecerdasan.
Dalam survei yang melibatkan 850 orang Amerika Serikat pada 13 Maret hingga 15 Maret, partisipan diminta mengisi kuesioner yang dirancang untuk menilai suasana hati, tingkat kecemasan, dan kepatuhan dengan langkah-langkah social distancing atau menjaga jarak fisik.
Peneliti juga menilai berdasarkan kecerdasan dan pemahaman mereka tentang biaya dan manfaat dari protokol kesehatan lain selama pandemi COVID-19, termasuk kepatuhan menggunakan masker.
Hasilnya, peneliti menemukan keputusan seseorang untuk mematuhi protokol kesehatan di tahap awal pandemi berkaitan dengan salah satu kemampuan kognitif, yakni seberapa banyak memori yang bisa disimpannya.
Kemampuan kognitif adalah konstruksi proses berpikir otak, termasuk ketika mengingat, memahami, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan, ketika orang ini masih kecil, menuju remaja, hingga dewasa.
Berdasarkan survei itu, orang-orang yang patuh terhadap anjuran untuk mencegah penularan memiliki kapasitas berpikir dan mengingat yang lebih baik. Sementara itu, orang yang menolak anjuran protokol kesehatan memiliki kemampuan berpikir yang lemah.
Orang yang memiliki kemampuan memori kerja yang lebih rendah, lebih kecil kemungkinannya untuk mematuhi langkah protokol kesehatan, dan kecil kemungkinannya untuk menyadari manfaat dari menjalankan protokol kesehatan untuk dirinya maupun orang lain. Sementara orang dengan kemampuan memori kerja yang baik, dapat dengan mudah memahami apa saja keuntungan menggunakan masker.
"Semakin tinggi kapasitas ingatan kerja, semakin besar kemungkinan melakukan perilaku menjaga jarak dan memakai masker,” kata penulis senior penelitian ini, Weiwei Zhang, professor psikologi dari University of California, Riverside, AS.
Korelasi ini bahkan masih bertahan setelah dikaitkan dengan faktor psikologis dan sosial ekonomi yang relevan pada responden, termasuk tingkat kecemasan, sifat kepribadian, pendidikan, dan pendapatan.
"Kami menemukan kepatuhan terhadap perilaku menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi bergantung pada proses pengambilan keputusan ini, melibatkan upaya yang besar dengan mengevaluasi untung rugi perilaku ini dalam memori kerja," sebut Zhang.
Kemampuan pengambilan keputusan ini lebih mudah bagi orang-orang dengan kapasitas memori kerja yang lebih besar. Mereka mampu mengarahkan keputusan untuk patuh menjaga jarak dan perilaku kesehatan lainnya setelah memperhitungkan keuntungannya.
Komunikasi yang "membumi"
Tim peneliti menyarankan agar para pembuat kebijakan mempertimbangkan orang-orang dengan kognitif rendah ini saat membuat aturan sosial. Pemerintah atau pemangku kepentingan dalam pandemi COVID-19 ini diminta tidak merilis informasi yang terlalu berat bagi orang-orang dengan memori kerja dan kecerdasan rendah.
Zhang menyarankan kampanye protokol kesehatan harus dibuat "singkat, jelas, dan padat" untuk menghindari informasi yang berlebihan. Informasi itu harus "dibumikan" agar orang dengan kecerdasan rendah dapat memahaminya.
“Sebelum jaga jarak menjadi kebiasaan dan norma sosial yang diadopsi dengan baik, keputusan untuk mengikuti aturan social distancing dan menggunakan masker menjadi upaya yang sangat sulit. Konsekuensinya, kita akan dengan sengaja melakukan upaya untuk mengatasi hal yang sulit dengan menghindari keputusan yang penuh usaha, seperti tidak mempraktikkan jarak sosial,” kata Zhang.
Zhang berharap orang-orang dengan kemampuan kognitif rendah tidak kesulitan lagi untuk mematuhi protokol kesehatan ketika sudah menjadi norma sosial. Mereka jadi lebih mudah untuk mengenakan masker dan menjaga jarak sosial.
Tujuan peneliti ini bukan untuk mempermalukan IQ publik. Sebaliknya, penelitian bertujuan mengidentifikasi mengapa masih banyak orang yang tidak taat jarak sosial, sekaligus untuk memberi pencerahan strategi untuk meningkatkan kepatuhan sosial.
