Riset: Virus Corona Bisa Menular Lewat Air Mata

20 Maret 2020 6:32 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
ADVERTISEMENT
Pada banyak kasus, jalur penularan virus corona SARS-CoV-2 adalah melalui partikel atau droplet sekresi pernapasan yang dihasilkan saat penderita batuk dan bersin. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh apabila orang tersebut menyentuh bagian wajahnya, terutama hidung, mulut, dan mata.
ADVERTISEMENT
Temuan-temuan itu menjadi alasan di balik keharusan menjaga kebersihan tangan dalam semua protokol pencegahan penularan virus corona. Imbauan itu juga kerap disertai larangan untuk menyentuh wajah kecuali tangan dipastikan bersih. Alasannya, tangan paling rawan mengantar virus masuk ke dalam tubuh saat bersentuhan dengan hidung, mulut, dan mata.
Dengan kata lain, hidung dan mulut berperan sebagai jalan keluar-masuk virus, keduanya perantara bagi seseorang untuk menularkan ataupun tertular. Lantas, apakah hal yang sama berlaku dengan medium mata?
Berdasarkan keterangan dari situs laman resmi American Academy of Ophthalmology, virus corona disebut dapat menular lewat mata. Bukan melalui tatapan, seperti informasi yang sempat beredar seiring merebaknya wabah, tapi melalui cairan mata atau konjungtiva.
“Orang yang terinfeksi virus corona juga dapat menyebarkan penyakit melalui air mata mereka. Menyentuh air mata atau permukaan di mana air mata tersebut menempel dapat menjadi portal lain untuk terjadinya infeksi,” tulis pernyataan American Academy of Ophthalmology, dalam situs resminya aao.org.
ADVERTISEMENT
Sejalan pula dengan yang dipaparkan oleh Dr Syed Shoeb Ahmad dari Ibn Sina Academy, India, dalam artikel yang terbit baru-baru ini di jurnal Touch Ophthalmology. Menurutnya, air mata juga pernah diindikasikan sebagai media penularan infeksi saat wabah SARS-CoV terjadi pada 2003.
Petugas Ambulans Puskesmas Kebayoran Baru, bersiap membawa pasien yang diduga terkena virus Corona di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (2/3). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Kesimpulan tersebut berdasarkan analisis serangkaian kasus penderita SARS oleh Loon et al. yang mengungkap air mata pasien juga tercemar virus. Peneliti menemukan jejak RNA virus pada sampel air mata pasien dengan pengujian lewat metode reaksi rantai transkripsi polimerase terbalik atau RT-PCR.
Sebelumnya, studi yang diterbitkan Journal Medical of Virology pada 26 Februari 2020 telah mengambil objek kajian serupa. Peneliti menguji sampel air mata milik 30 pasien COVID-19 yang dirawat di First Affiliated Hospital of Zhejiang University pada periode 26 Januari hingga 9 Februari 2020.
ADVERTISEMENT
Dengan jeda 2 sampai 3 hari, sampel air mata dan sekresi konjungtiva pasien diambil dua kali dengan alat swab sekali pakai. Setelah terkumpul, sampel kemudian diuji menggunakan metode RT-PCR. Hasilnya, dua sampel milik satu-satunya pasien dengan konjungtivitis atau radang selaput cairan mata yang diakibatkan infeksi virus, mengeluarkan hasil positif virus corona.
Ilustrasi dokter mata melakukan pemeriksaan. Sumber: Pixabay
Sedangkan 58 sampel dari pasien lain dinyatakan negatif virus corona. Penelitian ini memberi catatan tambahan, bahwa SARS-CoV-2 terdeteksi dalam air mata dan sekresi konjungtiva pada pasien yang mengalami konjungtivitis. Namun, peneliti menyebut temuan mereka masih berupa penelitian tahap awal. Perlu penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih banyak sebagai bahan evaluasi.
Meski begitu, American Academy of Ophthalmogy tetap merekomendasikan beberapa pedoman perlindungan terutama bagi dokter mata yang harus bersentuhan dekat dengan pasien saat pemeriksaan, semisal untuk funduskopi. Langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil, antara lain memakai masker N-95, kacamata goggle, dan sarung tangan ketika merawat pasien yang berpotensi terinfeksi SARS-CoV-2.
ADVERTISEMENT
Virus yang menyebabkan COVID-19 sangat rentan terhadap disinfektan berbasis alkohol dan cairan pemutih yang biasa digunakan dokter spesialis mata untuk sterilisasi instrumen oftalmik dan perabot kantor. Untuk itu, praktik disinfeksi tetap harus dijalankan untuk mencegah potensi penularan kepada tenaga medis.