Roket SpaceX Diprediksi Tabrak Bulan 5 Agustus, Picu Ledakan Setara 2,8 Ton TNT

Roket SpaceX Falcon 9 diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Para peneliti memperkirakan tabrakan tersebut akan menghasilkan energi kinetik sekitar 11,8 gigajoule, atau setara dengan ledakan sekitar 2,8 ton TNT.
Hasil tabrakannya diprediksi membentuk kawah baru berdiameter sekitar 20 hingga 30 meter dan memuntahkan material ke berbagai arah. Selain menjadi momen menarik bagi astronom profesional, peristiwa ini juga berpotensi dapat diamati oleh astronom amatir dari Bumi, meski membutuhkan waktu, lokasi, dan kondisi pengamatan yang tepat.
Bukan pertama kalinya benda buatan manusia menabrak Bulan. Namun, karena ilmuwan telah mengetahui massa, lintasan, hingga lokasi perkiraan tumbukannya, insiden ini dinilai sebagai kesempatan berharga untuk mempelajari proses pembentukan kawah, dinamika material yang terlontar, hingga potensi risiko puing antariksa terhadap misi eksplorasi Bulan di masa depan.
Bulan memang terus dihantam benda-benda alami dari luar angkasa. Para ilmuwan memperkirakan sekitar 100 meteoroid berukuran bola tenis meja menghantam satelit alami Bumi itu setiap hari.
Namun, tumbukan yang akan terjadi awal Agustus mendatang berbeda. Objek yang menghantam Bulan kali ini adalah puing roket SpaceX yang dikirim manusia sendiri.
Berawal dari Misi ke Bulan
Bagian atas Falcon 9 tersebut sebelumnya digunakan untuk mengirim dua wahana pendarat ke Bulan pada 2025, yakni Blue Ghost-1 milik Firefly Aerospace dan Hakuto-R Resilience milik perusahaan Jepang ispace.
Misi kedua wahana itu berakhir dengan hasil berbeda. Blue Ghost-1 berhasil mendarat dengan sukses di Bulan, sementara komunikasi dengan Hakuto-R Resilience terputus saat proses pendaratan. Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian atas Falcon 9 tidak lagi memiliki bahan bakar yang cukup untuk kembali ke Bumi maupun diarahkan ke luar angkasa.
"Setelah tugasnya selesai, roket itu tidak lagi memiliki bahan bakar untuk kembali ke Bumi atau berpindah ke ruang angkasa yang lebih jauh. Akibatnya, roket tetap berada di orbit yang tidak stabil hingga akhirnya gravitasi mengarahkannya ke jalur tumbukan dengan permukaan Bulan," jelas Gregory Radisic, peneliti dari Centre for Space, Cyberspace and Data Law, Bond University, dalam tulisannya di The Conversation.
Para astronom mengonfirmasi pada Mei 2026 bahwa puing roket tersebut berada di jalur yang akan menabrak Bulan. Berdasarkan prediksi terbaru, objek itu diperkirakan menghantam wilayah dekat Kawah Einstein, yang berada di sisi barat Bulan.
Tabrakan Setara Hampir 3 Ton TNT
Hasil studi terbaru yang dipublikasikan di arXiv dan belum ditelaah oleh rekan sejawat memperkirakan tumbukan tersebut akan menghasilkan energi kinetik sekitar 11,8 gigajoule dengan momentum mencapai 9,7 meganewton. Besarnya energi itu setara dengan ledakan sekitar 2,8 ton TNT.
Benturan tersebut tidak akan membuat puing roket tenggelam ke dalam Bulan. Sebaliknya, tabrakan akan menciptakan kawah baru sekaligus melontarkan debu dan batuan Bulan ke area sekitarnya. Model komputer memperkirakan material yang terlontar akan membentuk lapisan di sekitar kawah dengan diameter sekitar 70 meter.
"Area ini akan menjadi lokasi yang sangat menarik karena material segar dari bawah permukaan Bulan akan terekspos dan dapat dipotret oleh wahana antariksa yang melintas di kemudian hari. Hal ini akan sangat membantu memahami komposisi material target," tulis tim peneliti.
Bahkan, sebagian material diperkirakan dapat terlontar hingga hampir 1.000 kilometer dari lokasi tumbukan. Menurut peneliti, hal tersebut penting untuk dipelajari karena dapat menjadi potensi bahaya bagi astronaut maupun infrastruktur yang kelak dibangun di permukaan Bulan.
Apakah Bisa Dilihat dari Bumi?
Kawah yang terbentuk kemungkinan hanya dapat diamati oleh wahana yang mengorbit Bulan. Namun, kilatan cahaya saat tumbukan berpotensi terlihat dari Bumi maupun teleskop luar angkasa. Sayangnya, peluang tersebut tidak terlalu besar.
Berbeda dengan meteoroid alami yang biasanya melaju sangat cepat dan menghasilkan kilatan terang saat menghantam Bulan, puing Falcon 9 bergerak dengan kecepatan sekitar 2 kilometer per detik, jauh lebih lambat.
Menurut peneliti, semakin rendah kecepatan tumbukan, semakin redup pula cahaya yang dihasilkan. Meski demikian, tumbukan buatan ini memiliki satu keuntungan besar dibandingkan tumbukan alami, yakni ilmuwan telah mengetahui waktu dan lokasi kejadiannya.
Dengan begitu, teleskop dapat diarahkan ke titik tumbukan sebelum peristiwa terjadi sehingga peluang mendeteksi kilatan cahaya maupun material yang terlontar menjadi lebih besar.
Tim peneliti memperkirakan waktu terbaik untuk mengamati peristiwa tersebut adalah sekitar 06.35 UTC atau sekitar pukul 13.35 WIB pada 5 Agustus 2026. Wilayah Amerika Selatan serta sebagian kawasan Amerika Utara bagian tengah hingga selatan diperkirakan memiliki peluang terbaik karena saat itu masih berada dalam kondisi gelap.
Bantu Ilmuwan Pelajari Bulan
Peristiwa ini mengingatkan pada misi LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) milik NASA pada 2009.
Kala itu, NASA dengan sengaja menabrakkan roket Centaur ke sebuah kawah yang selalu berada dalam bayangan di kutub selatan Bulan untuk mencari jejak air. Eksperimen tersebut berhasil mengungkap adanya material yang kemungkinan tidak pernah terkena sinar Matahari selama miliaran tahun.
NASA juga menemukan bahwa tanah di kawah-kawah gelap Bulan mengandung berbagai material penting, termasuk es air yang relatif murni di sejumlah lokasi. Meski tumbukan Falcon 9 kali ini tidak direncanakan sebagai eksperimen ilmiah, para peneliti menilai peristiwa tersebut tetap menjadi peluang penting.
Karena massa, ukuran, dan lintasan objek sudah diketahui, data hasil pengamatan dapat digunakan untuk mengkalibrasi model pembentukan kawah, mempelajari kilatan cahaya akibat tumbukan, hingga memahami risiko puing antariksa terhadap pangkalan maupun astronaut yang kelak bertugas di Bulan.
