Rumah Sakit Ini Tak Sengaja Bikin Populasi Ulat Paling Beracun di AS Meledak

Sebuah rumah sakit di Texas, Amerika Serikat, secara tidak sengaja membuat populasi ulat paling beracun di AS meledak hingga 7.300 persen. Hal ini bisa terjadi akibat usaha rumah sakit tersebut untuk menghalau burung-burung liar yang berada di sekitar rumah sakit.
Namun, meski burung-burung berhasil diusir, ulat-ulat beracun justru bermunculan dan hidup tanpa pemangsa alami. Padahal, ulat beracun ini dapat memberikan sengatan yang rasanya sama seperti patah tulang selama berjam-jam.
Awalnya, rumah sakit tersebut menggunakan jaring untuk mencegah burung-burung terbang di sekitar daerahnya. Namun, ketika burung-burung tersebut menghilang, ulat dari ngengat Megalopyge Opercularis mendadak meledak.
Setelah diteliti selama tiga tahun, ilmuwan menemukan ledakan populasi hingga 7.300 persen pada pohon-pohon yang diberikan jaring.
Ulat dari ngengat Megalopyge Opercularis memang terkenal karena sengatannya yang luar biasa. Ulat ini dapat menusukkan duri tubuhnya ke tubuh korban yang kurang beruntung.
Selama 5 hingga 10 menit kemudian, duri tersebut akan mulai memasukkan racun ke tubuh korban. Ketika itu, korban akan mulai merasakan rasa sakit yang sangat amat luar biasa yang kemudian akan menyebar ke seluruh tubuh.
Jika sudah, korban akan semakin menderita dengan munculnya berbagai rasa tidak nyaman seperti sakit kepala, mual, sakit perut, hingga muntah-muntah. Lokasi sengatan juga akan membekas merah hingga beberapa hari ke depan.
“Rasanya seperti mengalami patah tulang dan rasa sakitnya bisa bertahan hingga berjam-jam," ujar salah satu tim peneliti yang pernah tersengat, Mattheau Comerford, kepada Newsweek.
“Saya pernah disengat pada pergelangan tangan dan rasa sakitnya menyebar hingga ke tangan, ketiak, dan bahkan rahang saya mulai merasakan sakit,” lanjut Comerford.
Kehadiran serangga ini dalam jumlah besar bisa berbahaya. Sekitar 10 juta orang pengungjung rumah sakit tersebu juga terancam.
“Di lingkungan ini, di mana ramai oleh orang dengan alergi atau mengalami gangguan di sistem kekebalan tubuhnya, membuat risiko sengatan semakin berbahaya,” kata Comerford.
Glen Hood, pemimpin riset, mengatakan bahwa riset ini menunjukkan pentingnya memahami interaksi alam pada suatu ekosistem. Karena, dengan melakukan perubahan tanpa memahami hal itu bisa berakibat fatal.
Sementara itu, Scott Egan, anggota tim peneliti, mengatakan bahwa ini adalah masalah yang lumayan pelik.
“Tidak ada 'penjahat' pada kasus ini,” ujarnya. “Hama burung di kota adalah masalah nyata, dan burung-burung bisa membawa penyakit. Memasang jaring di pohon bisa mengatasi masalah itu, dan kita belum tahu pasti apakah pemasangan jaring meningkatkan kejadian sengatan ulat ini.”
“Apa yang riset kami tunjukkan adalah kompleksitas dari masalah ini,” imbuhnya.
(EDR)
