Kumparan Logo

Seberapa Bahaya Olahraga Tinju yang Tewaskan Farhat, Atlet Asal Jatim?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Farhat Mika Rahel Riyanto (15 tahun), atlet tinju kelas 46 kilogram, jatuh koma saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-VIII Jawa Timur (Jatim), Senin (11/9/2023). Ia meninggal tak lama kemudian. Foto: Mili.id
zoom-in-whitePerbesar
Farhat Mika Rahel Riyanto (15 tahun), atlet tinju kelas 46 kilogram, jatuh koma saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-VIII Jawa Timur (Jatim), Senin (11/9/2023). Ia meninggal tak lama kemudian. Foto: Mili.id

Farhat Mika Rahel Riyanto (15), atlet tinju kelas 46 kilogram, jatuh koma saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-VIII Jawa Timur (Jatim), Senin (11/9). Ia meninggal tak lama kemudian.

Menurut Jono, panitia pelaksana pertandingan tinju, Farhat ambruk dan koma di ronde ketiga setelah mendapatkan pukulan keras pada bagian kepala. Farhat sempat dibawa ke RSUD Jombang. Namun nyawanya tidak tertolong. Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan, ada pendarahan di kepala.

Lantas, seberapa bahaya olahraga tinju?

Dalam sebuah studi disebutkan bahwa olahraga tinju ternyata lebih berbahaya ketimbang mixed martial arts (MMA). Meski MMA menampilkan pertunjukkan berdarah-darah, dari segi kesehatan tinju justru lebih riskan.

Penelitian yang dilakukan oleh Sather Sports Medicine Clinic di University of Alberta, AS, mencoba mencari tahu seberapa bahaya olahraga tinju bagi kesehatan. Mereka meneliti data medis dari 1.181 pertarungan MMA dan 55 petinju yang berkompetensi antara tahun 2003 hingga 2013 di Kanada.

Hasil analisis menunjukkan, 59 persen petarung MMA mengalami cedera–berupa kulit sobek, hidung berdarah, dan luka di wajah– dibanding petinju 49,8 persen. Namun, 7,1 persen petinju kehilangan kesadaran dan cedera mata serius dibanding petarung MMA 4,2 persen.

“Di MMA darah yang mengalir berasal dari hidung atau luka di wajah. Walau terlihat sadis, itu tidak separah dibandingkan dengan para petinju,” ujar dr. Shelby Karpman, seorang dokter yang ikut dalam penelitian sebagaimana dikutip EurekAlert.

Penelitian ini sejalan dengan apa yang dialami oleh veteran MMA selama 14 tahun, Victor Valimaki. Dia mengaku telah mengalami hampir semua cedera, mulai dari patah tulang kaki dan lengan, tulang selangkangan robek, dan banyak masalah sendi lutut dan bahu.

Ricardo Prasel, eks Chelsea yang kini menjadi petarung MMA. Foto: Instagram/@ricardoprasel

Dalam studi lain yang terbit di The Clinical Journal of Sport Medicine, menyebut bahwa cedera parah yang dialami petarung MMA jauh lebih rendah ketimbang petinju. Kendati petarung MMA mengalami lebih banyak cedera memar, petinju lebih mungkin mengalami cedera serius seperti gegar otak atau trauma kepala yang menyebabkan kehilangan kesadaran atau cedera mata seperti ablasi retina.

Kenapa tinju lebih berbahaya? Jawabannya karena olahraga tinju mengincar kepala dan badan. Jadi begini, petarung MMA bebas mengincar tubuh bagian lain termasuk kaki dan melakukan kuncian.

Sementara dalam olahraga tinju, kepala menjadi sasaran utama untuk menumbangkan lawan. Pukulan jab, hook, cross, hingga uppercut, sebagian besar bersarang di kepala. Hantaman keras ini berbahaya bagi otak.

Otak sendiri adalah organ yang lembut dan halus. Pukulan keras di kepala dapat melukai otak atau sumsum tulang belakang meski tidak terlihat tanda-tanda trauma di kulit kepala atau wajah. Semua cedera kepala dianggap serius dan harus diperiksa oleh dokter spesialis. Dijelaskan Johns Hopkins Medicine, cedera kepala adalah salah satu penyebab paling umum kecacatan dan kematian pada orang dewasa.

Farhat Mika Rahel Riyanto (15 tahun), atlet tinju kelas 46 kilogram, jatuh koma saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-VIII Jawa Timur (Jatim), Senin (11/9/2023). Foto: Mili.id

Dalam sebuah penelitian di Inggris tahun 1969 ditemukan bahwa satu dari enam pensiunan petinju profesional menderita kerusakan otak yang serius, gejalanya mulai muncul rata-rata 16 tahun setelah pensiun.

Mereka yang bertarung lebih lama–di atas 28 tahun– memiliki risiko lebih besar mengalami cedera otak. Tidak jelas kenapa pukulan dalam tinju bisa menimbulkan malapetaka. Joseph Friedman, profesor ilmu saraf di Brown Medical School di Providence, Rhode Island, mengibaratkan otak seperti semangkuk jell-o yang disimpan di wadah.

“Ketika kamu tertabrak, kamu mendapatkan getaran yang melewati otak. Getaran itu memantul kembali karena adanya tengkorak. Pergeseran ini menciptakan riak di dalam otak. Getaran pada gilirannya dapat menarik dan meregangkan filamen dan sel saraf. Dengan setiap trauma yang didapat, ini mungkin akan mengganggu fisiologi sel saraf seseorang. Beberapa di antaranya tidak bisa pulih,” kata Friedman dikutip brainandlife.org.

Kemungkinan lainnya adalah pukulan berulang di kepala menyebabkan banyak pendarahan kecil di dalam otak yang pada akhirnya menimbulkan lesi atau jaringan parut. Teori ketiga menyebut, tinju secara substansial mengganggu kimia otak, menyebabkan respons imun yang merusak sistem saraf pusat.

Cedera ini seringkali menyebabkan kerusakan pada bagian otak tengah, membuat gejala mirip parkinson. Kerusakan menyebar pada lobus temporal otak besar menyebabkan gejala yang menyerupai alzheimer.

Faktor-faktor Ini lah yang menyebabkan olahraga tinju lebih berbahaya ketimbang MMA karena pukulan berulang di kepala berpotensi merusak sistem saraf pusat, termasuk menyebabkan gegar otak dan cedera otak traumatis (TBI).