Sejarah Resolusi Tahun Baru: Bermula dari Sumpah Setia kepada Raja

Selain melakukan perayaan tahun baru, kegiatan lain yang umumnya dilakukan di akhir atau awal tahun adalah merancang resolusi tahun baru. Resolusi biasanya berisi rencana, tujuan, maupun harapan di tahun berikutnya agar kita menjadi pribadi dan mendapat kehidupan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Marist College di New York, sebanyak 44 persen orang Amerika Serikat ternyata membuat resolusi tahun baru 2018. Resolusi paling populer adalah ‘menjadi orang yang lebih baik’ (12 persen) dan ‘turun berat badan’ (12 persen). Di urutan selanjutnya, lebih sering olahraga, makan lebih sehat, dan dapat pekerjaan lebih baik sama-sama mendapat nilai sembilan persen.
Bukan tradisi baru
Kegiatan membuat resolusi tahun baru ternyata merupakan tradisi kuno. Kegiatan semacam ini telah dilakukan sejak 4.000 tahun lalu oleh orang-orang Babilonia. Kala itu, mereka juga sudah merayakan tahun baru dengan festival selama 12 hari yang disebut Akitu.
Bedanya, orang-orang Babilonia tidak merayakan tahun baru pada awal Januari, melainkan Maret saat musim semi tiba. Resolusi tahun baru mereka juga sedikit berbeda. Mereka bukan membuat resolusi atau janji untuk kepentingan mereka sendiri, tapi mengucap ulang sumpah pada raja lama mereka atau melakukan pengangkatan bila ada raja baru.
Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Romawi. Saat Romawi menjadi kekaisaran pada tahun 27 Sebelum Masehi, tahun baru merupakan saat bagi pemimpin kota dan prajurit untuk mengatakan sumpah mereka kepada kaisar.

Richard Alston, dosen sejarah Romawi di Royal Holloway University, London, mengatakan kepada Live Science bahwa orang-orang Romawi awalnya merayakan tahun baru di bulan Maret, sekaligus untuk memuja dewa perang Mars, yang merupakan asal kata ‘Maret’.
Lama kelamaan, seiring dengan berubahnya masyarakat Romawi, perayaan tahun baru kemudian dimulai pada Januari. Nama Januari ini berasal dari nama Janus, dewa rumah dan perapian yang juga dipuja oleh mereka.
Dalam perayaan tahun baru, orang-orang Romawi biasanya akan mengadakan upacara, pengambilan sumpah, dan pengorbanan di kuil. Selain itu, warga akan saling bertukar hadiah berupa makanan manis seperti madu dan pir sebagai doa agar tahun baru lebih ‘manis’.
Tradisi modern
Tradisi membuat resolusi tahun baru di zaman modern dimulai tahun 1740 oleh John Wesley, pendiri Gereja Methodist. Mereka memiliki tradisi pelayanan yang disebut Pelayanan Pembaruan Perjanjian yang dilakukan pada saat Natal dan tahun baru untuk menggantikan kegiatan berpesta.
Saat ini, pelayanan tersebut masih dilakukan setiap malam pergantian tahun dan dilakukan dengan cara bernyanyi, berdoa, dan melakukan refleksi serta perjanjian kepada Tuhan.

Saat ini, resolusi telah menjadi sebuah tradisi sekuler dan dilakukan untuk memperbaiki diri. Pemerintah AS bahkan membuat sebuah website untuk membantu warganya menjalani resolusi mereka, seperti bagaimana caranya untuk menurunkan berat badan, lebih banyak berderma, berhenti merokok, makan lebih sehat, dan cara agar bebas hutang serta bisa menabung.
Kira-kira, apakah kamu akan membuat resolusi tahun 2019? Jika iya, apa resolusimu?
