Kumparan Logo

Seorang Bayi Terlahir dengan DNA dari 2 Ibu dan 1 Ayah

kumparanSAINSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bayi Laki-laki. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bayi Laki-laki. Foto: Unsplash

Seorang bayi di Yunani terlahir dengan kondisi unik. Ia lahir dengan DNA dari tiga orang berbeda. Kondisi ini terjadi akibat pengobatan kesuburan kontroversial yang orang tuanya lakukan.

Bayi laki-laki ini terlahir pada Selasa (9/4) lalu. Bayi ini lahir dengan berat 2,9 kilogram. Setelah melahirkan si bayi, ibunya yang berusia 32 tahun berada dalam kondisi sehat.

Kehadiran bayi ini adalah berkat pembuahan in vitro atau in vitro fertilisation (IVF). Ini adalah proses pembuahan sel telur oleh sel sperma di luar tubuh ibu. Proses ini juga dikenal sebagai bayi tabung.

Praktik bayi tabung sebenarnya sudah biasa dilakukan. Tapi proses bayi tabung kali ini unik karena menggunakan DNA dari tiga orang berbeda. Penggunaan DNA dari tiga orang berbeda ini bertujuan untuk mengatasi masalah kesuburan.

Ilustrasi bayi tabung. Foto: Shutter stock

Proses bayi tabung menggunakan DNA dari tiga orang berbeda ini bernama donasi mitokondria. Dalam prosedurnya, proses bayi tabung ini menggunakan sel telur dari ibu, sel sperma dari ayah, dan sel telur lain dari pendonor perempuan.

Biasanya dalam gen seseorang, 99,8 persennya, ditemukan adanya 23 pasang kromosom. Kromosom tersebut ada di dalam nukleus atau inti dari tiap sel di tubuh. Pada prosedur bayi tabung pada normalnya, DNA itu berasal dari kedua orang tua.

Tapi, ada bagian kecil dari material genetik yang hidup di dalam mitokondria sel. Mitokondria bisa dibilang punya tugas sebagai baterai sel dan bergerak bebas di dalam tubuh sel.

Dalam prosedur donasi mitokondria, mitokondria di sel telur ibu digantikan dengan mitokondria dari pendonor. Prosedur ini awalnya digunakan untuk mencegah suatu penyakit mitokondrial menyebar dari orang tua ke anaknya.

Pada 2015, prosedur pengobatan ini dilegalkan di Inggris. Tapi sejauh ini tidak ada negara lain yang mengikuti jejak Inggris.

Ilustrasi sel telur wanita. Foto: Shutterstock

Para dokter yang baru-baru ini melakukan prosedur itu mengklaim bahwa mitokondria punya peran dalam kehamilan. Mereka mengangkat anggapan bahwa teknik ini bisa digunakan sebagai pengobatan kesuburan.

Nuno Costa-Borges, ahli embrio dari Spanyol yang berkolaborasi dengan klinik Institute of Life di Yunani, lokasi prosedur donasi mitokondria terakhir dilakukan, mengatakan prosedur ini bisa menolong banyak perempuan yang kesulitan menjadi ibu. Ia menambahkan bahwa prosedur ini bisa merevolusi pengobatan kesuburan.

Menjadi kontroversi

Meski tampak berhasil, proses bayi tabung dengan DNA dari tiga orang berbeda ini kemudian justru menjadi kontroversi. Para ahli di Inggris mengkritik proses ini. Menurut mereka, proses tersebut belum ada bukti bisa berhasil dan ada risiko yang belum diketahui.

Tim Child, profesor di University of Oxford dan direktur medis di Fertility Partnership, mengatakan bahwa teknik ini masih berisiko. "Risiko dari teknik ini masih belum diketahui sepenuhnya, meski dianggap dapat diterima jika digunakan untuk mengobati penyakit mitokondrial, tapi bukan pada situasi ini" ujar Child kepada The Guardian.

"Pasien mungkin saja bisa hamil menggunakan prosedur IVF standar. Tanpa adanya studi, kita tidak mungkin mengetahui apakah teknik ini benar-benar bermanfaat bagi pasien," imbuh dia.

Ilustrasi bayi tabung. Foto: Shutter stock

Sementara itu, juru bicara Human Fertilisation and Embryology Authority, otoritas kesuburan Inggris, mengatakan bahwa di Inggris prosedur ini dibatasi bagi orang-orang tertentu. Contohnya, pasien yang punya risiko tinggi anaknya terlahir dengan penyakit mitokondrial berbahaya.

"Hanya ada sedikit bukti atas risiko dan tingkat kesuksesan prosedur ini. Dan prosedur hanya boleh digunakan dengan berhati-hati pada kasus di mana tidak ada alternatif lainnya," ungkap dia.