Setelah Tawon Pembunuh, Giliran Kodok Raksasa Beracun Ancam Amerika

Teror sejumlah hewan beracun di Amerika Serikat belum berakhir. Setelah kemunculan tawon pembunuh, kodok raksasa dari spesies beracun menyambangi wilayah Florida Selatan di tengah pandemi virus corona yang belum berakhir.
Hewan ini berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Texas selatan, namun dapat berkembang biak dengan subur di Florida selama musim hujan. Kondisi lembap sangat ideal keberlangsungan hidup kodok tebu.
Racun terletak pada kulit kodok tebu dewasa yang berwarna coklat kekuningan dengan sejumlah kutil di permukaan kulit. Punggung kodok ini menyimpan kelenjar racun yang terbentuk sebagai mekanisme pertahanan terhadap bahaya. Ketika merasa terancam, kelenjar ini akan menyemburkan racun berupa cairan putih susu bernama bufotoxin.
"Selama ada air bagi mereka untuk berkembang biak, kodok tebu akan berkembang," ujar William Kern, seorang profesor di Universitas Florida, yang memiliki spesialisasi dalam pengelolaan hama perkotaan, kepada Miami Herald.
“Mereka akan keluar dari permukaan, mencari makan dan berkembang biak. Orang mungkin melihat lebih banyak dari mereka sekarang," tambahnya.
Adapun kodok tebu diklasifikasikan sebagai spesies invasif di lebih dari 20 negara, artinya hewan ini dapat bermigrasi ke wilayah bukan asal mereka, menyebar, hingga menyebabkan kerusakan.
Karena itu, Komisi Konservasi Ikan dan Margasatwa merekomendasikan penduduk setempat untuk membunuh hewan ini karena dianggap sebagai ancaman bagi hewan peliharaan.
Belum lama ini, hewan beracun lain juga muncul di Negeri Paman Sam. Tawon pembunuh muncul meneror warga negara bagian Washington. Tawon pembunuh punya nama resmi Tawon Eropa atau Vespa crabro dan bukan spesies asli Amerika Serikat.
Mereka dilaporkan pertama kali muncul di AS pada 1840 di New York. Kemudian menyebar ke AS bagian timur dan tengah, hingga menjadi hewan invasif di AS bagian barat ke Dakota menuju selatan Florida.
