Kumparan Logo

Sindrom Misterius Bikin Jutaan Bintang Laut Jadi Lengket Berlendir

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bintang laut. Foto: Jason Lee/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bintang laut. Foto: Jason Lee/AP Photo

Jutaan bintang laut diketahui terkena suatu sindrom yang mengubah bentuk mereka menjadi lengket dan berlendir. Ilmuwan meyakini kondisi laut yang semakin panas sebagai penyebab utamanya.

Andrea Burton, ahli biologi kelautan dari Oregon State University, bersama tim melakukan riset terhadap 200 individu bintang laut untuk melihat apakah ada perbedaan genetik antara bintang laut yang tampaknya mampu bertahan dalam penyakit dan mereka yang menyerah.

“Itu adalah kesempatan unik untuk membandingkan individu yang tampaknya normal dan kurus dari waktu dan tempat yang sama selama epidemi sindrom Sea Star Wasting Syndrome (SSW) berlangsung,” kata Burton, seperti dikutip ScienceAlert.

Fenomena tersebut dimulai pada 2013, ketika para ilmuwan mengamati bintang laut ungu (Pisaster ochraceus) dan 20 spesies lainnya 'mencair' tanpa alasan yang jelas.

Mereka mayoritas tersebar dari Baja California di Meksiko hingga Teluk Alaska. Namun sindrom ini juga diketahui menyerang bintang laut di perairan Port Phillip Bay di Australia, selama gelombang panas laut yang ekstrim.

video youtube embed

Dan studi yang dilakukan pada 2021 oleh sekelompok peneliti dari delapan universitas di Amerika Serikat menemukan pertumbuhan besar mikroba seperti fitoplankton—yang dipicu oleh air yang memanas—mencuri banyak pasokan oksigen lokal dan menenggelamkan bintang laut.

Hal ini mengakibatkan tubuh bintang laut yang membusuk dan meningkatkan nutrisi untuk mikroba, memicu tubuh bintang laut memutar dan mati lemas.

Para ilmuwan juga meyakini kemungkinan faktor lain seperti patogen non-virus jadi penyebab menyebabkan kondisi penyakit yang sama pada makhluk laut ini, yang biasanya dapat meregenerasi ekstremitas yang rusak.

Terlepas dari itu, jelas bahwa penyakit ini diperburuk dalam kondisi yang lebih hangat, dan pengurangan populasi yang parah terjadi di wilayah selatan yang lebih hangat.

- Andrea Burton, Ahli Biologi Kelautan dari Oregon State University -

Sindrom SSW pada bintang laut. Foto: Ian Hewson, dkk

SSW diketahui telah menyebabkan penurunan populasi bintang laut yang sangat cepat dan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Oregon, populasi bintang laut ungu telah menyusut 50 hingga 94 persen di sebagian besar jangkauannya.

“Dengan meningkatnya suhu air laut yang mengakibatkan prevalensi penyakit laut yang lebih tinggi, kita cenderung melihat skenario serupa wabah kematian massal berdampak pada spesies laut lebih sering dan memiliki sedikit waktu untuk menangani rencana pengelolaan atau konservasi,” tim memperingatkan.

Hal ini cukup menjadi perhatian sebab sebagai pemangsa rakus kerang California (Mytilus californianus), bintang laut ungu adalah spesies kunci yang membantu menjaga ekosistem intertidal habitat mereka. Jika populasi bintang laut menurun sedangkan populasi kerang meningkat akan mengurangi keanekaragaman hayati habitat.