Spesies Cicak Jari Lengkung Baru Ditemukan di Bali, Ini Foto Penampakannya

Spesies reptil baru ditemukan oleh sekelompok peneliti di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Penemuan ini menambah panjang jenis hewan yang tinggal di TNBB hingga lebih dari 400 spesies.
Spesies baru ini dinamai Cyrtodactylus jatnai. Nama tersebut diambil dari seorang ahli konservasi, ekologi, dan primatologi asal Indonesia, Prof. Jatna Supriatna. Ahli dari Universitas Indonesia ini memang telah berkontribusi besar atas konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
“Jenis baru ini diyakini satu-satunya yang dilaprokan dari Bali Barat dan endemik,” ujar salah satu peneliti, Thasun Amarasinghe, dilansir Mongabay Indonesia.
“Kami berasumsi akan lebih banyak survei dan studi mengenai biodiversitas di Pulau Bali setelah ini, termasuk jenis fauna yang mungkin berevolusi dengan posisinya yang dekat dengan daratan Sunda Besar dan Sunda kecil,” lanjutnya.
Kadal yang baru ditemukan ini berukuran cukup kecil. Ukuran maksimum SVL hewan ini adalah 6,68 cm dengan panjang kepala 1,95 cm. Panjang SVL adalah istilah biologi yang berarti panjang dari ujung kepala hingga batas awal ekor.
Sementara itu, ekor dari reptil ini memiliki panjang 8,25 cm. Cyrtodactylus jatnai cukup mudah dilihat karena memiliki punggung berwarna coklat terang dengan beberapa bercak gelap.
Dalam jurnal mengenai spesies baru ini, peneliti menyebut bahwa spesies ini sudah dikenal dengan nama Cyrtodactylus fumosus sejak 100 tahun yang lalu. Namun, penelitian lebih rinci menunjukkan bahwa reptil yang ada di Bali Barat ini berbeda dari saudara satu genus-nya itu.
Cyrtodactylus jatnai yang sering ditemukan di batang pohon dekat pantai ini akhirnya diresmikan sebagai satu spesies baru.
“Cicak jari lengkung (nama baku untuk genus Cyrtodactylus) dari Bali ini memang istimewa karena dalam satu abad dikenal sebagai Cyrtodactylus fumosus,” ungkap salah satu peneliti dalam penemuan ini dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Awal Riyanto, dilansir Mongabay.
“Habitatnya yang berada di Taman Nasional Bali Barat, tentu saja menjadi jaminan kelestarian populasinya,” lanjut Riyanto.
Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat, Agus Ngurah Krisna, juga mengungkapkan kebahagiaannya ihwal penemuan ini.
“Masih ada kemungkinan ditemukan spesies baru. Beberapa jenis herpetofauna masih belum teridentifikasi, masih diteliti tim dari RCCC UI dan MZB,” kata Agus, dikutip dari situs web resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Hingga saat ini, tercatat Taman Nasional Bali Barat menjadi rumah bagi sekitar 205 spesies burung, 120 jenis ikan, dan 67 jenis kupu-kupu. Tidak hanya itu, 18 spesies mamalia, 13 spesies reptil, dan 10 jenis amfibi juga menjadi hewan endemi di sana.
(EDR)
