kumparan
1 Juli 2019 9:04

Stasiun Riset di Antartika Diubah Jadi 'Pangkalan Hantu'

Halley Research Station di Antartika. Foto: British Antarctic Survey
Sebuah stasiun riset sains bernama Halley Research Station yang berada di benua Antartika, tepatnya di Brunt Ice Shelf, harus ditutup oleh para peneliti selama musim dingin di kutub selatan. Penutupan ini tidak membuat Halley Research Station berhenti melakukan riset, karena penelitiannya kini dilakukan dari jarak jauh.
ADVERTISEMENT
Biasanya, stasiun ini selalu diisi oleh belasan ilmuwan dan teknisi yang melakukan riset soal lapisan ozon, aktivitas petir secara global, sampai dengan cuaca di luar angkasa. Para ilmuwan dahulu terus melakukan pemantauan sekalipun di lokasi tersebut mengalami kegelapan permanen pada musim dingin. Suhu di sana bisa mencapai -40 derajat Celcius dengan angin kutub salju 80 km per jam.
Kali ini, para peneliti memutuskan untuk menarik para staf riset karena ketidakpastian stabilitas es yang berada di dekat stasiun.
Ini adalah kali pertamanya Halley Research Station dioperasikan dari jarak jauh, berkat generator listrik berteknologi tinggi yang membuat stasiun riset ini terus beroperasi selama sembilan bulan. Langkah tersebut seakan membuat Halley Research Station seperti "pangkalan hantu" yang jauh dari kehidupan manusia, tapi semua alat pemantau di sana tetap berjalan.
Halley Research Station di Antartika. Foto: British Antarctic Survey
"Ini adalah tonggak penting bagi kami. Jadi, kami sangat senang dengan kemajuan sistem tenaga baru ini," kata Thomas Barningham, pemimpin proyek untuk British Antarctic Survey (BAS).
ADVERTISEMENT
Halley Research Station dioperasikan oleh British Antarctic Survey (BAS) sejak 1956, dan dibangun kembali di lokasi yang sama beberapa kali.
Pada 1985, para ilmuwan di Halley Research Station keempat melaporkan deteksi lubang ozon Antartika, yang telah dikaitkan dengan akumulasi bahan kimia berbasis klorin di atas atmosfer.
Lalu pada 2017, posisi stasiun generasi keenam terpaksa dipindah ke lokasi baru, sekitar 20 km jauhnya dari posisi awal, untuk menghindari jurang es yang terbentuk di sekitar.
Staf riset di sana biasanya terdiri atas 14 ilmuwan dan teknisi. Halley Research Station ditutup selama musim dingin sejak 2017, karena BAS menyatakan tidak akan dapat menyelamatkan staf dengan pesawat atau kapal jika es di sana terpecah. Akibatnya, instrumen yang mengukur lapisan ozon di atmosfer dimatikan selama musim dingin 2017 dan 2018 lantaran tak ada manusia yang mengoperasikan generator diesel dalam beberapa pekan.
Halley Research Station di Antartika. Foto: British Antarctic Survey
Sekarang, stasiun ini telah terhubung ke satelit internet dengan memanfaatkan turbin mikro gas dan terhubung ke generator listrik. Stasiun ini sekarang dioperasikan dari markas BAS di Cambridge, Inggris.
ADVERTISEMENT
Barningham mengatakan generator dihidupkan pada bulan Februari dan diperkirakan terus berjalan hingga November, memasok hingga 13 kW listrik untuk eksperimen sains di stasiun penelitian, dan menggunakan sekitar 40.000 liter bahan bakar minyak tanah.
Jika generator listrik ini harus dimatikan, tim BAS dapat menyalakannya dari jarah jauh. Barningham akan jadi salah satu staf pertama yang kembali ke Halley Research Station jika musim panas tiba di Antartika pada November nanti.
"Ini adalah pertama kalinya kami melakukan ini. Ini purwarupa. Selalu ada yang hal yang mungkin terjadi tak sesuai harapan. Tapi, sejauh ini semua berjalan baik, dan kami sangat senang," kata Barningham, dikutip Live Science.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan