Studi 20 Juta Orang Ungkap Zodiak Tak Pengaruhi Kecocokan Hubungan Cinta
·waktu baca 3 menit

Astrologi telah ada selama ribuan tahun dan menjadi bagian dari berbagai peradaban kuno. Di era modern, astrologi bahkan berkembang menjadi industri besar dengan nilai mencapai sekitar 3 miliar dolar AS pada 2025.
Namun, ada anggapan zodiak memengaruhi kecocokan dalam hubungan cinta. Benarkah begitu
Mengutip buku What Science Says About Astrology, seorang jurnalis sains, Carlos Orsi, mengulas sebuah penelitian besar yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut menggunakan data dari lebih dari 20 juta orang.
Penelitian yang dilakukan oleh David Voas pada 2007 ini menggunakan data sensus Inggris dan Wales tahun 2001. Tujuannya adalah menguji apakah zodiak tertentu memang lebih cocok satu sama lain dalam hubungan romantis.
Gagasan tentang kecocokan zodiak sebenarnya sudah lama populer. Bahkan tokoh seperti Carl Jung pernah menggunakannya dalam kajian tentang astrologi dan sinkronisitas. Dalam kepercayaan umum, zodiak yang berjarak 60° atau 120° dianggap cocok, sementara yang berjarak 180° dinilai tidak cocok dalam hubungan.
Menurut Voas, orang yang lahir dalam periode zodiak tertentu diyakini memiliki karakter serupa —seperti dermawan, sensitif, atau keras kepala— yang kemudian memengaruhi hubungan mereka.
Namun dalam ilmu sosial, faktor seperti usia, pendidikan, kelas sosial, agama, dan etnis jauh lebih berpengaruh dalam menentukan pasangan. Jika astrologi memang berpengaruh, maka efeknya seharusnya bisa terlihat dalam jumlah besar.
Dari analisis awal, ditemukan adanya kelebihan jumlah pasangan dengan zodiak yang sama atau berdekatan. Misalnya, Capricorn dengan Capricorn atau Capricorn dengan Aquarius. Tercatat ada sekitar 22.000 pasangan tambahan dengan zodiak sama, serta 5.000 pasangan dengan zodiak berdekatan, dibandingkan dengan kemungkinan acak.
Temuan ini sempat menimbulkan pertanyaan, apakah ini bukti astrologi benar? Setelah ditelusuri lebih dalam, Voas menemukan anomali lain. Misalnya, jumlah pasangan yang lahir di bulan yang sama bahkan lebih tinggi, mencapai 23.000 pasangan. Selain itu, pasangan dengan tanggal lahir yang sama juga lebih banyak 41 persen dari yang seharusnya.
Namun, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan pengisian data sensus. Formulir biasanya diisi oleh satu orang, yang mungkin secara tidak sengaja menuliskan tanggal lahirnya sendiri untuk pasangannya. Kesalahan lain termasuk penggunaan tanggal 1 Januari sebagai data default, atau kecocokan tanggal yang tidak masuk akal.
Voas kemudian melakukan uji penting dengan membandingkan apakah kecocokan lebih dipengaruhi bulan lahir atau zodiak. Hasilnya, pasangan dengan zodiak sama tetapi bulan berbeda tidak lebih banyak dari yang diperkirakan secara acak.
Sebaliknya, pasangan dengan bulan lahir yang sama justru lebih banyak, yang kembali mengindikasikan kesalahan data, bukan pengaruh astrologi. Efek kecil pada zodiak berdekatan juga akhirnya dijelaskan sebagai akibat teknik pengisian data otomatis dalam sensus.
Setelah semua faktor tersebut diperhitungkan, hasil akhirnya menunjukkan tidak ada bukti bahwa zodiak memengaruhi kecocokan pasangan. Analisis terhadap sekitar 10 juta pasangan ini menegaskan bahwa kecocokan cinta tidak ditentukan oleh tanda bintang.
Penelitian ini menunjukkan betapa mudahnya seseorang bisa salah menarik kesimpulan jika hanya melihat data secara sekilas.
Jika analisis dihentikan pada tahap awal, kelebihan pasangan dengan zodiak sama bisa saja dianggap sebagai bukti astrologi. Padahal, setelah ditelusuri lebih dalam, semua itu hanyalah hasil dari bias dan kesalahan data. Dengan kata lain, meski astrologi tetap populer, sains belum menemukan bukti bahwa zodiak benar-benar memengaruhi hubungan cinta manusia.
