Studi: Banyak Mamalia Kini Kembangkan Perilaku Seksual Sesama Jenis
·waktu baca 3 menit

Sebuah studi yang terbit di jurnal Nature Communications menemukan fakta bahwa banyak mamalia yang kini mengembangkan perilaku seksual sesama jenis. Perilaku ini mungkin merupakan bagian dari evolusi mamalia itu sendiri.
Dalam studi itu disebut, lebih dari 1.500 spesies diketahui telah menunjukkan perilaku seksual sesama jenis, termasuk kelelawar, kumbang, bintang laut, ular, penguin, sapi, ikan, dan cacing. Di antara mamalia, primata paling banyak melakukan perilaku aneh ini. Ada 51 spesies mamalia yang menunjukkan perilaku sesama jenis, mulai dari lemur, kera, dan tentu saja manusia.
Data menunjukkan, perilaku sesama jenis ini diimplementasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari pacaran, berjalan-jalan, merayu, atau bersenggama, baik jantan maupun betina, di penangkaran atau pun di alam liar.
Data ini kemudian dikumpulkan oleh ahli ekologi University of Granada, José Gómez, dan rekannya. Tujuannya untuk menganalisis beberapa teori yang dikemukakan oleh para ilmuwan tentang bagaimana perilaku sesama jenis berevolusi.
“Karena tidak berkontribusi langsung terhadap reproduksi, perilaku seksual sesama jenis dianggap sebagai teka-teki evolusi,” tulis Gómez sebagaimana dikutip Science Alert.
Jika perilaku sesama jenis ini tidak memberikan keturunan, lantas apa keuntungan yang bisa didapat?
Untuk menjawabnya, Gómez dan rekannya menggunakan pendekatan filogenetik guna membandingkan kemunculan dan prevalensi perilaku seksual sesama jenis di antara mamalia.
“Jika perilaku sesama jenis berevolusi untuk membantu menjaga hubungan sosial, memfasilitasi rekonsiliasi setelah konflik seperti yang terlihat pada bonobo betina, atau memperkuat aliansi seperti yang dilakukan lumba-lumba hidung botol jantan, maka perilaku tersebut seharusnya lebih sering terjadi pada spesies mamalia sosial,” kata Gómez.
Dugaan Gómez ini ternyata benar. Hasil analisis mereka menunjukkan, perilaku sesama jenis lebih umum terjadi pada mamalia yang punya sosialisasi tinggi. Peneliti juga menemukan, perilaku seksual sesama jenis lebih umum terjadi pada spesies dengan perilaku agresif dan mematikan.
Hal ini didukung oleh gagasan bahwa interaksi sesama jenis dapat menghubungkan dan memperkuat hierarki sosial, sehingga membantu mengurangi risiko konflik kekerasan.
Menelusuri perilaku sesama jenis berdasarkan garis nenek moyang, analisis Gómez dan rekannya menemukan bahwa perilaku sesama jenis telah timbul tenggelam selama evolusi mamalia. Namun, di sebagian besar garis keturunan mamalia, perilaku sesama jenis merupakan fenomena baru.
Selain itu, perilaku sesama jenis juga tidak menyebar sporadis di seluruh mamalia: mereka lebih umum terjadi di beberapa kelompok saja, dan jarang dilakukan di kelompok lain.
“Kami sepenuhnya menyadari bahwa hasil ini mungkin berubah di masa depan jika perilaku seksual sesama jenis dipelajari lebih intensif dan terdeteksi pada lebih banyak spesies,” tulis Gómez.
Dalam penelitian sebelumnya yang terbit di jurnal Nature, para peneliti telah berupaya untuk menjelaskan bagaimana perilaku sesama jenis berevolusi. Dalam penelitian itu mereka menyimpulkan, perilaku seksual berbeda jenis adalah akar dari munculnya perilaku sesama jenis.
Namun, dalam studi lain pada 2019 yang dilakukan oleh Ambika Kamath, ahli ekologi perilaku dan evolusi di Miller Institute for Basic Research in Science, UC Berkeley, menyarankan simpulan yang berbeda. Dia menyebut bahwa perilaku seksual sesama jenis muncul akibat kelakukan leluhur yang kawin dengan semua jenis kelamin, sebelum mereka dapat mengenali ciri-ciri jenis kelamin dengan baik, dan sekarang digunakan untuk menarik pasangan.
Namun, analisis Gómez telah membantah teori yang dikemukakan Kamath, khususnya pada mamalia. Ini karena menurut Gómez perilaku sesama jenis pada mamalia tidak diturunkan dari nenek moyang.
Yang pasti, masih banyak yang harus diungkap untuk menjawab alasan kenapa banyak mamalia mengembangkan perilaku sesama jenis. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengungkap misteri ini.
