Studi: Hanya 3 Tahun Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Terkena Kanker Paru

13 April 2023 10:19 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
ADVERTISEMENT
Sebuah studi komprehensif menemukan bahwa paparan partikel kecil dengan konsentrasi tinggi di udara dapat meningkatkan risiko orang terkena kanker paru-paru hanya dalam waktu tiga tahun.
ADVERTISEMENT
Kabut polusi udara tampaknya sangat berbahaya bagi paru-paru orang sehat karena bisa menyebabkan perubahan genetik dan berisiko menjadi kanker. Ini dibuktikan dalam studi terhadap 33.000 orang dengan kanker paru-paru yang menemukan bahwa tingkat polutan kecil yang tinggi sangat berisiko menyebabkan kanker paru-paru, terutama bagi mereka yang tidak merokok atau bukan perokok berat.
“Sel dengan mutasi penyebab kanker terakumulasi secara alami seiring bertambahnya usia, tetapi biasanya tidak aktif," kata Charles Swanton, peneliti kanker di Francis Crick Institute di Inggris.
Studi yang terbit di jurnal Nature itu menyebut, penelitian kali ini menegaskan bahwa polusi udara adalah penyebab utama kanker paru-paru sehingga perlu adanya tindakan untuk mengurangi polusi demi melindungi kesehatan masyarakat.
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Rabu (28/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Dalam hal ini, particulate matter (PM) sangat berkontribusi terhadap polusi udara, memengaruhi hampir setiap tempat di Bumi dan menyebabkan 8 juta kematian setiap tahunnya. Sementara PM2,5–Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron– bisa masuk jauh ke dalam paru-paru dan dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan kanker paru-paru.
ADVERTISEMENT
“Karsinogen diduga menyebabkan tumor dan secara langsung menginduksi kerusakan DNA,” tulis para peneliti dalam studinya.
“Bukti baru ini mendukung gagasan 76 tahun lalu bahwa kanker dimulai dalam dua langkah: perolehan gen penggerak dan kedua faktor risiko kanker bekerja pada sel laten untuk memicu penyakit,” tambah Swanton dalam sebuah cuitan di Twitter.
Studi pada tikus juga menunjukkan paparan polusi udara dapat menyebabkan perubahan pada sel paru-paru yang bisa menyebabkan kanker, di mana PM2,5 tampak memperkuat risiko kanker.
Seorang warga berjemur dengan latar belakang gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Untuk menyelidiki bagaimana polusi udara menyebabkan kanker, Swanton dan tim peneliti lain melakukan analisis tiga tahap. Dengan menggunakan data lingkungan dan epidemiologi dari 32.957 warga Inggris, Taiwan, dan Korea Selatan. Mereka mengamati tingkat PM2,5 terkait dengan kanker paru-paru mutan EGFR, yang disebabkan oleh mutasi gen EGFR.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, risiko orang yang terkena kanker paru-paru mutan EGFR meningkat karena tingginya paparan PM2,5. Hasil ini diperkuat dengan data dari UK Biobank yang meneliti 407.507 orang. Dalam data lebih kecil yang melibatkan 228 orang non-perokok di Kanada menunjukkan setelah tiga tahun terpapar polusi PM2,5 tingkat tinggi, risiko terkena kanker paru-paru dari mutasi gen EGFR meningkat dari 40 persen menjadi 73 persen.
“Secara kolektif, data ini, dikombinasikan dengan bukti yang dipublikasikan menunjukkan bahwa ada hubungan antara perkiraan kejadian kanker paru-paru yang dipicu oleh EGFR dan tingkat paparan PM 2.5 dan bahwa paparan polusi udara selama 3 tahun mungkin cukup untuk mewujudkan hubungan ini,” tulis para peneliti sebagaimana dikutip Science Alert.
Sementara itu, uji coba pada tikus menemukan PM2,5 dapat menyebabkan tumor tumbuh dan memperburuk mutasi kanker yang sudah ada, ini kemungkinan juga berlaku untuk manusia. Selain itu, sel-sel paru-paru yang disebut sel alveolar tipe II (AT2) lebih mungkin menyebabkan kanker paru-paru ketika terpapar PM2,5.
ADVERTISEMENT
Namun para peneliti mengakui bahwa studi yang mereka lakukan masih ada kelemahan. Seperti percobaan pada tikus yang merupakan hewan rawan terkena kanker yang bisa mengembangkan tumor bahkan tanpa paparan PM2,5 dan mereka kemungkinan tidak menunjukkan rangkaian mutasi lengkap yang terjadi pada jaringan orang dewasa sehat.
Meski begitu, percobaan pada tikus ini telah memberikan wawasan kepada para ilmuwan untuk mempelajari pertumbuhan tumor dini.