Studi: Leonardo da Vinci Alami Gangguan Hiperaktif Sejak Kecil

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Brain menunjukkan bahwa seniman besar Leonardo da Vinci pernah mengalami gangguan hiperaktif sejak masa kanak-kanak. Gangguan ini juga dikenal dengan sebutan Attention Deficit Hyperacitivity Disorder (ADHD).
ADHD merupakan gejala psikologis yang sering terjadi pada anak kecil. Mereka yang didiagnosis ADHD biasanya menunjukkan sikap dan perilaku berbeda sejak kecil.
Seseorang dengan ADHD biasanya sulit menyimak atau fokus saat diajak bicara, merasa mudah terganggu, dan sering pelupa. ADHD dapat membuat mereka gelisah saat duduk dan berbicara pada tingkat yang dianggap berlebihan.
Kembali soal Leonardo da Vinci. Lahir pada tahun 1452, Leonardo semasa hidupnya dikenal memiliki keahlian di bidang seni, sains, arsitektur, dan teknik. Salah satu karya seninya adalah Mona Lisa.
Namun kemampuannya bertentangan dengan ide kreativitasnya. Menurut para peneliti di studinya, sang seniman punya pemikiran yang hebat dalam memadukan keajaiban anatomi, filsafat alam dan seni, namun juga kesulitan dalam menyelesaikan begitu banyak karya.
Marco Catani, seorang ahli perawatan ADHD dan autisme dari Institute of Psychiatry, Psychology and Neuroscience, di King's College London, Inggris, mengaku mustahil untuk membuat diagnosis post-mortem pada seseorang yang hidup 500 tahun lalu. Namun, ia yakin ADHD adalah hipotesis paling meyakinkan dan masuk akal yang dapat menjelaskan kesulitan Leonardo dalam merampungkan karyanya.
"Catatan sejarah menunjukkan bahwa Leonardo menghabiskan banyak waktu dalam perencanaan proyek tetapi tidak memiliki ketekunan. ADHD dapat menjelaskan aspek-aspek temperamen Leonardo dan kejeniusannya yang lincah yang aneh," kata Catani, seperti dikutip Newsweek.
Sebuah kisah tentang masa kecil Leonardo yang ditulis oleh penulis biografinya, Giorgio Vasari, menyebutkan bagaimana Leonardo di masa kecil memiliki pribadi yang tidak stabil. Tekun belajar namun cepat pula ia meninggalkan pekerjaannya.
Ketika Leonardo berusia 26 tahun, misalnya, ia pernah diberi kepercayaan untuk melukis pahatan kayu di altar sebuah gereja kecil (kapel), tapi pekerjaannya tidak pernah selesai. Meski begitu, ia mau terus berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Ditambah, fakta bahwa ia kidal juga tampaknya memiliki dominasi otak di sebelah kanan untuk bahasa. Tim ilmuwan berpendapat, buku catatannya yang dipenuhi sketsa memperlihatkan Leonardo menderita disleksia, sifat umum pada penderita ADHA, mendukung teorinya.
Catani berharap hubungan ini dapat memecahkan stigma banyak orang bahwa ADHD juga dapat dialami seseorang dengan tingkat kejeniusan yang tinggi.
"Ada kesalahpahaman yang berlaku bahwa ADHD adalah tipikal anak-anak nakal dengan kecerdasan rendah. Sebaliknya, sebagian besar orang dewasa yang saya lihat dalam laporan klinik saya adalah anak-anak yang cerdas dan intuitif, tetapi mengalami gejala kecemasan dan depresi di kemudian hari karena gagal mencapai potensi mereka," tutur Catani.
"Saya berharap kasus Leonardo menunjukkan bahwa ADHD tidak terkait dengan IQ rendah atau kurang kreativitas, melainkan kesulitan memanfaatkan bakat alami. Saya berharap warisan Leonardo dapat membantu kita mengubah beberapa stigma soal ADHD."
Sementara itu, riset lain yang diterbitkan di Jurnal Royal Society of Medicine memperlihatkan penyebab lain mengapa Leonardo da Vinci tidak merampungkan lukisan Mona Lisa. Di studi ini ditunjukkan keterampilan sang seniman menghilang menjelang akhir hidupnya karena kerusakan saraf di tangan kanannya akibat terjatuh.
