kumparan
9 Oktober 2019 12:09

Studi: Paparan Asap Vape Sebabkan Kanker Paru pada Tikus

Ilustrasi rokok elektrik atau vape
Ilustrasi asap rokok elektrik atau vape. Foto: Dok.Pixabay
Sebuah studi terbaru lagi-lagi mengungkap bahaya paparan asap rokok elektrik atau vape. Laporan hasil riset yang telah diterbitkan di jurnal Prosiding National Academy of Sciences (PNAS) pada 7 Oktober 2019 itu menemukan ada 9 dari 40 tikus (22,5 persen) yang terkena kanker paru-paru yang setelah terpapar asap vape.
ADVERTISEMENT
Di dalam laporan riset disebutkan bahwa tikus-tikus itu terkena paparan asap rokok elektrik yang mengandung nikotin selama 54 minggu. Akibatnya, tikus-tikus tersebut mengalami salah satu jenis kanker paru yakni adenokarsinoma yang jamak menyerang para perokok aktif maupun pasif.
Ilustrasi tikus
Ilustrasi tikus. Foto: jarleeknes via Pixabay
Sementara dari 20 tikus yang diuji coba dengan paparan asap vape tanpa nikotin, tak ada satu pun di antara mereka yang terindikasi terkena kanker.
Studi yang dipimpin oleh Moon-shong Tang dari NYU School of Medicine, Amerika Serikat, ini juga menemukan bahwa 23 dari 40 tikus (57,5 persen) yang terpapar asap vape dengan kandungan nikotin mengalami hiperplasia kandung kemih atau pembesaran kandung kemih. Di sisi lain, hanya ada satu dari 17 tikus yang terpapar asap vape non-nikotin dari yang mengalami hiperplasia.
ADVERTISEMENT
Tang tak menampik bahwa riset ini memiliki keterbatasan sebab uji coba hanya dilakukan pada tikus-tikus yang memang rentan terkena kanker selama masa hidup mereka. Di samping itu, tikus-tikus yang digunakan dalam studi ini tidak menghirup asap seperti yang dilakukan manusia, melainkan hanya tubuh mereka saja yang mendapat paparan asap.
“Asap (rokok) tembakau merupakan salah satu agen lingkungan paling berbahaya yang manusia secara rutin terpapar olehnya, tetapi potensi asap rokok elektrik yang mengancam kesehatan manusia belum bisa dibuktikan sepenuhnya,” ujar Tang sebagaimana diberitakan Eureka Alert.
“Hasil penelitian kami pada tikus tidak bermaksud untuk membandingkannya dengan penyakit manusia, namun sebaliknya untuk menyarankan bahwa asap rokok elektrik harus diteliti lebih lanjut sebelum dianggap aman untuk dipasarkan.”
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan