Kumparan Logo

Studi Ungkap Skenario Krisis Populasi Global: Jumlah Manusia Merosot Mulai 2064

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kerumunan manusia di Buenos Aires, Argentina, Selasa (20/12).  Foto: Gonzalo Colini/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerumunan manusia di Buenos Aires, Argentina, Selasa (20/12). Foto: Gonzalo Colini/REUTERS

Sejumlah ilmuwan memetakan sebuah skenario yang menggambarkan kemungkinan terjadinya krisis populasi global pada tahun 2064. Skenario ini tertuang dalam jurnal ilmiah Chaos, Solitons & Fractals.

Riset yang dilakukan oleh ahli fisika dari University of Milan, Alessio Zaccone, dan Kostya Trachenko, dari School of Physical and Chemical Sciences, Queen Mary University of London, Inggris, menggunakan sebuah persamaan matematika sederhana untuk menjelaskan pola pertumbuhan populasi manusia selama 12.000 tahun terakhir.

Model tersebut kemudian dipakai untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan. Salah satu skenario yang muncul menunjukkan, jika Bumi tiba-tiba mencapai batas kemampuan maksimum untuk menopang jumlah manusia, populasi global berpotensi menyusut hingga setengahnya mulai sekitar tahun 2064.

“Pertumbuhan populasi global mungkin jauh lebih sensitif terhadap tekanan lingkungan dan sosial dibanding yang diasumsikan banyak model populasi tradisional,” kata Zaccone, dikutip Newsweek.

Ia menegaskan penelitian ini bukan bertujuan memprediksi masa depan secara pasti, melainkan mengeksplorasi bagaimana populasi manusia dapat bereaksi di bawah berbagai kondisi tekanan.

Saat ini para ahli di berbagai negara memiliki kekhawatiran yang sama, yakni penurunan populasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai puncaknya di angka 10,3 miliar orang pada 2080, sebelum kemudian memasuki fase penurunan secara perlahan.

Di banyak wilayah, angka kelahiran mulai turun di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan populasi. Tingkat kelahiran rendah dapat memicu penuaan populasi dan sering dikaitkan dengan tantangan ekonomi, termasuk meningkatnya beban sistem kesehatan.

Ilustrasi wisata bersama keluarga Foto: Shutterstock

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa satu persamaan non-linier yang awalnya digunakan dalam bidang fisika ternyata mampu menjelaskan hampir seluruh pola besar pertumbuhan populasi manusia sejak era Neolitik.

Model itu juga menggambarkan kemungkinan bahwa jika terjadi guncangan besar secara global, seperti perang atau wabah penyakit yang membatasi daya dukung Bumi secara drastis, populasi dunia dapat mencapai titik puncak lalu turun hingga separuh dalam skenario terburuk pada 2064.

“Dinamika populasi global mungkin jauh lebih nonlinier, dan karena itu lebih sensitif sekaligus tidak stabil daripada yang diperkirakan sebelumnya,” ujar Zaccone.

Menurut dia, perubahan kecil pada parameter dalam persamaan dapat menghasilkan skenario yang sangat berbeda. Ia menambahkan bahwa model seperti ini berguna karena memberikan kerangka matematis yang relatif sederhana namun kuat untuk memahami dinamika populasi jangka panjang dan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan.

Menariknya, persamaan yang digunakan dalam penelitian ini awalnya sama sekali tidak dirancang untuk studi demografi.

“Persamaan ini berasal dari penelitian sebelumnya tentang proses relaksasi pada material kaca dan material tak beraturan dalam fisika benda terkondensasi,” jelasnya.

Sejumlah negara saat ini sudah mengalami penurunan populasi. Di United States, tingkat fertilitas total turun ke titik terendah dalam sejarah menjadi 1,6 anak per perempuan pada 2023, di bawah angka pengganti populasi sebesar 2,1.

Ilustrasi populasi penduduk. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menunjukkan bahwa pada 2025 jumlah kelahiran kembali turun menjadi 3.606.400 atau berkurang 1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sebagai respons, pemerintahan Donald Trump pada awal 2025 menerapkan sejumlah kebijakan untuk mendorong angka kelahiran. Kebijakan tersebut mencakup perluasan akses terhadap program fertilisasi in vitro (IVF), serta kebijakan transportasi yang memberi prioritas bagi komunitas dengan tingkat pernikahan dan kelahiran di atas rata-rata nasional.

Sementara China juga menghadapi tren serupa. Pada 2025, angka kelahiran di negara tersebut turun untuk tahun keempat berturut-turut menjadi 7,92 juta kelahiran, merosot 17 persen dibanding tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949.

Pemerintah di Beijing merespons dengan mengalokasikan dana sekitar 12,95 miliar dolar AS untuk program subsidi pengasuhan anak pertama secara nasional. Selain itu, pemerintah juga berencana memperluas cakupan asuransi kesehatan agar mencakup biaya persalinan dan IVF.

Kondisi serupa terjadi di Rusia. Pada 2025, tingkat kelahiran di negara tersebut tercatat mencapai titik terendah dalam sejarah modern, bahkan disebut setara dengan level akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Penurunan ini diperburuk oleh dampak perang dengan Ukraina yang berlangsung sejak 2022, mulai dari tingginya korban jiwa hingga banyaknya pria yang meninggalkan negara untuk menghindari wajib militer.

Sebagai salah satu langkah yang diambil, Rusia mulai merujuk perempuan yang tidak ingin memiliki anak kepada psikolog sebagai bagian dari upaya mengatasi penurunan angka kelahiran.

Meski banyak negara menghadapi penurunan populasi, wilayah Afrika Sub-Sahara justru diproyeksikan mengalami lonjakan besar. Data PBB menunjukkan negara-negara seperti Niger, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Chad, dan Angola menjadi beberapa negara dengan pertumbuhan populasi tercepat di dunia.

Banyak dari negara tersebut memiliki tingkat fertilitas di atas lima anak per perempuan serta proporsi penduduk usia muda yang sangat besar. PBB memperkirakan populasi Afrika Sub-Sahara dapat meningkat hampir 80 persen pada 2054 hingga mencapai sekitar 2,2 miliar orang.

Bahkan, negara seperti Niger dan Republik Demokratik Kongo diperkirakan bisa menggandakan jumlah penduduknya hanya dalam beberapa dekade ke depan.