Tekno & Sains
·
4 November 2020 7:07

Studi: Untuk Sukses, Lebih Baik Terlahir Jadi 'Anak Sultan' daripada Pintar

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Studi: Untuk Sukses, Lebih Baik Terlahir Jadi 'Anak Sultan' daripada Pintar (495248)
Ilustrasi Sekolah Anak dengan Kurikulum Cambridge International. Foto: Thinkstock
Sudah sejak lama anak-anak di Amerika Serikat, Indonesia, dan seluruh dunia diberitahu bahwa kerja keras bakal selaras dengan hasil yang didapat. Prinsip hidup ini ditanam orang tua sejak anak mereka duduk di bangku kanak-kanak.
ADVERTISEMENT
Namun menurut laporan dari Georgetown Center on Education and the Workforce (CEW), pintar saja tidak menjamin orang menjadi kesuksesan, karena faktanya adalah “Born to Win, School to Lose”. Artinya, terlahir sebagai 'anak sultan' atau orang kaya lebih baik dan menjamin kesuksesan di masa mendatang ketimbang lahir sebagai orang pintar secara akademisi tapi dari kalangan menengah ke bawah.
“Untuk berhasil di AS, lebih baik dilahirkan sebagai orang kaya ketimbang pintar,” Anthony P. Carnevale, direktur CEW sekaligus penulis utama penelitian kepada CNBC. “Orang dengan bakat sering kali tidak berhasil. Apa yang kami temukan dalam penelitian ini adalah orang pintar dari kalangan menengah bawah tidak banyak yang sukses secara finansial ketimbang orang tidak terlalu pintar dari kalangan atas.”
ADVERTISEMENT
Dalam penelitiannya Carnevale dan timnya menganalisis data dari National Center for Education Statistics (NCES) untuk melihat hasil siswa dari tanaman kanak-kanak hingga dewasa, menilai kecerdasan menurut kinerja pada tes matematika standar.
Studi: Untuk Sukses, Lebih Baik Terlahir Jadi 'Anak Sultan' daripada Pintar (495249)
Ilustrasi anak sekolah Kristen. Foto: Shutterstock
Para peneliti kemudian mengkategorikan siswa berdasarkan status sosial ekonomi, mempertimbangkan pendapatan rumah tangga, pendidikan terakhir orang tua, dan prestise pekerjaan orang tua.
Hasilnya cukup mengejutkan. Siswa pintar dari kalangan menengah ke bawah atau miskin cenderung tidak lulus dari SMA, perguruan tinggi, atau mendapatkan gaji yang tidak sebanding dengan siswa dengan nilai buruk tapi lahir dari kalangan menengah atas alias terlahir sebagai anak sultan.
Penelitian itu menyebut siswa pintar yang terlahir sebagai orang miskin hanya memiliki peluang 31 persen untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji 35.000 dolar AS atau setara Rp 511 juta di usia 25 tahun, dan 45.000 dolar AS atau sekitar Rp 657 juta di usia 45 tahun. Sementara siswa kurang pintar dengan nilai buruk dari kalangan sultan memiliki peluang 71 persen untuk mendapatkan pencapaian yang sama.
ADVERTISEMENT
Bahkan jika siswa miskin secara finansial berhasil mengalahkan rintangan dan mendapatkan gelar sarjana, mereka masih menghadapi tantangan. Studi Georgetown menemukan siswa pintar dari keluarga miskin dengan nilai teratas dan memperoleh gelar sarjana memiliki peluang 76 persen untuk mencapai kesuksesan pada usia 25 tahun.
Studi: Untuk Sukses, Lebih Baik Terlahir Jadi 'Anak Sultan' daripada Pintar (495250)
Ilustrasi bosan bekerja di kantor. Foto: Shutter Stock
Sebagai pembanding, siswa dari kalangan sultan yang berhasil mendapatkan gelar sarjana punya peluang 91 persen untuk mempertahankan status sosial mereka sebagai sultan. Carnevale mengatakan, ada beberapa variabel yang berkontribusi pada dinamika ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi variabel tersebut antara lain ras, kelas, jenis kelamin, dan segala sesuatu mulai dari ketersediaan buku di rumah hingga cara belajar di kelas.
“Saat kami mengikuti anak-anak ini selama bertahun-tahun, kelas demi kelas, yang kami temukan adalah mereka semua tersandung (menemui kegagalan). Perbedaannya adalah antara siapa yang tersandung dan yang bangkit kembali dan siapa yang tersandung dan tidak, ”kata Carnevale.
ADVERTISEMENT
Ia percaya bahwa jika sumber daya dan dukungan dapat membantu siswa miskin dengan nilai buruk dapat mengatasi tantangan dan mencapai kesuksesan, begitupun dengan siswa pintar dari kalangan bawah. Selain itu, kebijakan pemerintah juga dapat berperan dalam mengatasi probabilitas ini, termasuk pemberian beasiswa, memastikan upah hidup yang stabil bagi orang tua, dan memerhatikan sekolah dan lingkungan.
***
Saksikan video menarik di bawah ini.