Suhu Bumi Makin Panas, Juli 2021 Catat Rekor Bulan Terpanas

16 Agustus 2021 10:11
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi temperatur tinggi. Foto: geralt via Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi temperatur tinggi. Foto: geralt via Pixabay.
ADVERTISEMENT
Juli 2021 merupakan bulan dengan suhu terpanas Bumi yang pernah dicatat, menurut laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Para peneliti menggarisbawahi bahwa rekor suhu panas ini menjadi bukti krisis iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.
ADVERTISEMENT
Bulan Juli memang umumnya memiliki suhu yang lebih panas ketimbang bulan-bulan lain dalam satu tahun. Namun, para peneliti NOAA menemukan bahwa Juli 2021 mencatat kenaikan suhu Bumi paling tinggi dibanding Juli di tahun-tahun sebelumnya.
NOAA melaporkan, gabungan suhu daratan dan permukaan laut pada Juli 2021 lebih tinggi 0,93 derajat Celcius ketimbang rata-rata abad ke-20. Catatan ini menjadikan Juli 2021 sebagai bulan terpanas di Bumi sejak pencatatan suhu global dimulai 142 tahun lalu.
Suhu Bumi pada Juli 2021 juga 0,01 derajat Celcius lebih tinggi dari rekor bulan terpanas sebelumnya pada Juli 2016, Juli 2019 dan Juli 2020.
“Dalam hal ini, tempat pertama adalah tempat terburuk,” kata Administrator NOAA Rick Spinrad, dalam keterangan resminya.
ADVERTISEMENT
“Juli biasanya adalah bulan terpanas di dunia sepanjang tahun, tetapi Juli 2021 mengalahkan dirinya sendiri sebagai Juli dan bulan terpanas yang pernah tercatat (sebelumnya). Rekor baru ini menambah jalur yang mengganggu dan disruptif yang telah ditetapkan oleh perubahan iklim untuk dunia,” sambungnya.
Data kenaikan suhu Bumi pada Juli 2021. Foto: NOAA
zoom-in-whitePerbesar
Data kenaikan suhu Bumi pada Juli 2021. Foto: NOAA
Laporan NOAA menemukan bahwa Belahan Bumi Utara sangat terik, dengan suhu permukaan tanah 1,54 derajat Celsius di atas rata-rata. Ini merupakan anomali panas yang "belum pernah terjadi sebelumnya", menurut pernyataan NOAA.
NOAA melaporkan bahwa Asia mencatat rekor Juli terpanas pada 2021, melampaui rekor sebelumnya yang ditetapkan pada 2010. Sementara itu, Eropa mencatat Juli terpanas kedua (di belakang Juli terpanas Eropa pada 2018).
Dengan data ini, NOAA menyebut bahwa “sangat mungkin” tahun 2021 akan menjadi salah satu dari 10 tahun terpanas yang pernah dicatat di Bumi.
ADVERTISEMENT
Laporan NOAA ini muncul sebulan setelah gelombang panas (heatwave) ekstrem melanda bagian Barat AS dan selatan Kanada selama Juli 2021.
Dari akhir Juni hingga pertengahan Juli 2021, wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Serikat dan Kanada selatan dipukul oleh gelombang suhu panas bersejarah yang mungkin hanya terjadi 1.000 tahun sekali. Suhu tertinggi saat itu tembus ke angka 49,4 derajat Celsius, menurut laporan The Washington Post.
Lebih dari 1.000 orang yang meninggal, dimana 800 orang di antaranya adalah warga Kanada.
Ilustrasi cuaca panas. Foto: FREDERIC J. BROWN / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cuaca panas. Foto: FREDERIC J. BROWN / AFP
Masalah gelombang suhu panas juga terjadi di sejumlah negara Eropa pada Agustus 2021. Pada 11 Agustus lalu, sebuah stasiun cuaca di pulau Sisilia, Italia mencatat suhu hingga 48,8 derajat Celsius, menjadikannya suhu terpanas yang pernah tercatat di wilayah Eropa.
ADVERTISEMENT
Selain Italia, masalah gelombang panas juga dialami sejumlah negara di wilayah Mediterania, termasuk Yunani dan Turki. Pada gilirannya, gelombang panas ini juga memicu kebakaran hutan di negara-negara tersebut.
Meskipun daerah Mediterania ini terkenal dengan musim panasnya yang cerah dan hangat, para ilmuwan yakin bahwa pemanasan global hasil pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam mendorong peristiwa ekstrem tersebut. Fenomena heatwave ini pun kemungkinan akan terjadi lebih sering karena suhu permukaan Bumi terus-terusan memanas.
Panas ekstrem yang dirinci NOAA juga merupakan cerminan dari laporan utama yang dirilis minggu ini oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
“Laporan IPCC yang serius yang menemukan bahwa pengaruh manusia, secara tegas, menyebabkan perubahan iklim, dan itu menegaskan bahwa dampaknya meluas dan meningkat dengan cepat,” kata Spinrad.
Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
Sebelumnya, badan riset PBB untuk perubahan iklim tersebut melaporkan pada Senin (9/8) bahwa suhu permukaan global telah meningkat 1,1 derajat Celcius lebih tinggi dalam dekade antara 2011-2020 jika dibandingkan antara 1850-1900 saat masa pra-industri.
ADVERTISEMENT
Dengan nada yang tegas, dokumen riset IPCC mengatakan "tidak diragukan lagi bahwa pengaruh manusia telah menghangatkan atmosfer, lautan, dan daratan". Para ilmuwan IPCC mengatakan bahwa faktor alam hanya memainkan peran kecil dari kenaikan suhu yang tercatat sejak abad ke-19.
Laporan ini "adalah kode merah untuk kemanusiaan", kata Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.
Para peneliti IPCC yakin bahwa pada 2030, suhu permukaan Bumi akan lebih tinggi dari 1,5 derajat Celcius dibanding masa pra-industri. Ini merupakan ambang kritis yang disepakati oleh para pemimpin dunia pada perjanjian iklim Paris tahun 2015.
Perjanjian tersebut, yang ditandatangani oleh hampir semua negara, menetapkan bahwa kenaikan suhu global mesti berada di bawah 2 derajat Celcius pada abad ini serta jangan sampai suhu naik di atas 1,5 derajat Celcius dibanding masa pra-industri.
ADVERTISEMENT
Jika kenaikan suhu gagal dijaga dari ambang batas tersebut, dampak bencana yang lebih buruk akan muncul akibat krisis iklim.
“Menstabilkan iklim akan membutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang kuat, cepat, dan berkelanjutan, dan mencapai nol emisi CO2 bersih. Membatasi gas rumah kaca dan polutan udara lainnya, terutama metana, dapat memberikan manfaat baik bagi kesehatan maupun iklim,” kata Co-Chair Kelompok I IPCC, Panmao Zai, dalam keterangan resminya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·