Tikus Raksasa Ini Raih Medali Emas: Selamatkan Nyawa Manusia dari Ranjau

Jika selama ini tikus dianggap sebagai hama mengganggu, hidup di lingkungan jorok, kotor, dan pembawa penyakit, maka semua ini tidak berlaku untuk Magawa, seekor tikus yang hidup di Kamboja.
Ia dianggap sebagai pahlawan dan telah dianugerahi penghargaan berupa medali emas berkat keberaniannya. Bagaimana tidak, sebagai tikus, dia mengemban tugas yang sangat berbahaya, yakni mendeteksi ranjau darat di Kamboja. Keahliannya dalam mendeteksi ranjau bahkan disebut-sebut lebih baik ketimbang manusia.
Magawa adalah tikus berkantung raksasa Afrika. Ia dilatih oleh Anti-Personnel Landmines Removal Product Development (APOPO) di Tanzania untuk mendeteksi bau zat kimia di dalam alat peledak. Magawa kemudian dikirim ke Kamboja untuk ditugaskan di sana.
Tikus berkantung raksasa punya indra penciuman yang sangat baik. Mereka bisa membantu manusia dalam berbagai hal, mulai dari mengendus penyakit hingga memerangi kejahatan. Mereka juga sangat efisien dalam mendeteksi ranjau. Kemampuannya bahkan lebih baik dari manusia yang mengandalkan detektor logam.
Magawa dapat menemukan ranjau darat dengan indra penciumannya. Saat menemukan ranjau itu, mereka akan menandai letak ranjau dengan cakarnya di tanah. Selama bertugas, Magawa sudah menemukan 39 ranjau dan 28 item senjata. Mengamankan area seluas 141.000 meter persegi dari bahaya ledakan.
Magawa adalah tikus paling sukses sepanjang sejarah APOPO. Dia dapat membersihkan area seukuran lapangan tenis dari ranjau hanya dalam waktu 30 menit. Sebagai pembanding, jika itu dikerjakan manusia, butuh empat hari untuk menyelesaikannya. Hal ini diungkap oleh organisasi People’s Dispensary for Sick Animals (PDSA).
Dia dianugerahi Medali Emas PDSA berkat keberanian dan pengabdiannya yang menyelamatkan nyawa. Dari 30 hewan yang pernah menerima medali emas, Magawa adalah tikus pertama.
“Pekerjaan HeroRAT Magawa dan APOPO benar-benar unik dan luar biasa. Kamboja memperkirakan bahwa antara 4 dan 6 juta ranjau darat diletakkan di negara itu antara tahun 1975 dan 1998, yang sayangnya telah menyebabkan lebih dari 64.000 korban,” kata Direktur Jenderal PDSA Jan McLoughlin seperti dikutip IFL Science.
“Karya HeroRAT Magawa secara langsung menyelamatkan dan mengubah kehidupan pria, wanita, dan anak-anak yang terkena dampak ranjau darat ini. Setiap penemuan yang dia buat mengurangi risiko cedera atau kematian bagi penduduk setempat."
