Tulang Manusia Berusia 5.700 Tahun Ini Ungkap Bukti Pesta Kanibalisme Mengerikan
·waktu baca 3 menit

Penelitian terbaru mengungkap fakta kelam dari masa Neolitik di Semenanjung Iberia. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia yang hidup sekitar 5.700 tahun lalu kemungkinan melakukan kanibalisme terhadap kelompok lain, dalam sebuah aksi kekerasan sosial yang mengerikan.
Setidaknya 11 individu, termasuk anak-anak dan remaja, ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tulang mereka menunjukkan tanda-tanda telah dikuliti, dagingnya dilucuti, sendi-sendinya dipisahkan, dipatahkan, bahkan dimasak dan dimakan. Temuan ini berasal dari gua El Mirador di Sierra de Atapuerca, Spanyol, dan studinya dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.
Menariknya, bukti menunjukkan semua tindakan kanibalisme itu terjadi hampir bersamaan, dalam satu insiden tunggal. Hal ini mengisyaratkan bahwa masyarakat kala itu tidak murni kanibal, melainkan melakukannya karena alasan tertentu, misalnya konflik antar-kelompok.
“Dalam penelitian ini, kami menghadapi kasus baru kanibalisme di situs Atapuerca,” kata Palmira Saladié, paleoekolog dari Catalan Institute of Human Paleoecology and Social Evolution (IPHES) di Spanyol.
Menurutnya, kanibalisme adalah perilaku yang paling rumit untuk diinterpretasi. Bukan hanya karena sulit memahami alasan manusia memakan sesamanya, tetapi juga karena sering kali bukti pendukungnya terbatas. Ditambah lagi, bias masyarakat modern kerap menganggapnya semata-mata sebagai tindakan barbar.
Sejarah manusia sendiri memang tak lepas dari jejak kanibalisme. Praktik ini tercatat muncul berulang kali di berbagai belahan dunia, termasuk di Semenanjung Iberia. Alasannya beragam, bisa karena kebutuhan bertahan hidup hingga ritual penguburan yang disebut transumption, mengonsumsi jasad agar secara simbolis tetap hidup dalam tubuh kerabat yang masih bernyawa.
Dalam temuan kali ini, tim peneliti mendapatkan 650 fragmen tulang manusia di El Mirador dengan tanda-tanda jelas adanya “pengolahan pasca kematian”. Beberapa tanda itu antara lain:
Pot-polishing: ujung tulang yang menghalus akibat direbus dalam wadah
Perubahan warna: akibat dibakar atau dikremasi
Sayatan pada 132 tulang: konsisten dengan tindakan menguliti, memotong sendi, hingga membelah tubuh
Selain itu, sebagian tulang menunjukkan pola peeling atau terkelupas, yang diduga akibat gigitan. Bahkan, ada bekas gigi manusia yang jelas terlihat, menandakan tulang-tulang itu pernah digerogoti.
Hasil penanggalan radiokarbon mengungkap bahwa semua korban tewas dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka kemudian dipotong-potong dan dimakan dalam satu peristiwa, mungkin berlangsung selama beberapa hari.
Analisis isotop stronsium dalam tulang menunjukkan semua korban berasal dari wilayah lokal, bukan pendatang.
“Ini bukan tradisi pemakaman, juga bukan akibat kelaparan ekstrem,” jelas Francesc Marginedas, antropolog evolusi dari IPHES. “Buktinya mengarah pada episode kekerasan yang cepat, kemungkinan besar akibat konflik antar-komunitas petani.”
Meski kita tak akan pernah tahu pasti penyebab pesta daging manusia di El Mirador, para peneliti meyakini hal itu merupakan bentuk ekstrem dari demonstrasi kekuasaan dan kontrol sosial.
“Sejarah etnografi maupun arkeologi menunjukkan bahwa bahkan dalam masyarakat kecil yang sederhana, episode kekerasan bisa terjadi. Dalam kasus ekstrem, musuh bahkan bisa dimakan sebagai bentuk eliminasi total,” kata Antonio Rodríguez-Hidalgo, arkeozoolog IPHES.
Bukti-bukti lain dari Semenanjung Iberia juga semakin memperkuat dugaan adanya kekerasan meluas pada periode Neolitik, dipicu oleh perebutan wilayah, kompetisi sumber daya, hingga tekanan populasi.
Dalam lanskap kekerasan itu, kanibalisme tampaknya menjadi salah satu cara ekstrem untuk benar-benar menundukkan musuh. Penemuan di El Mirador juga memberi lapisan baru dalam memahami kanibalisme sepanjang sejarah manusia.
“Berulangnya praktik ini di berbagai periode prasejarah membuat El Mirador menjadi situs kunci. Bukan hanya untuk memahami kanibalisme prasejarah, tapi juga kaitannya dengan kematian, serta kemungkinan interpretasi ritual atau budaya dari tubuh manusia dalam pandangan komunitas masa itu,” ujar Saladié.
