Unta Bisa Jadi Ancaman bagi Penonton Piala Dunia di Qatar, Kenapa?

28 November 2022 6:45
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Al Dhafra, festival unik yang memamerkan keindahan unta. Foto: Dok. Abu Dhabi Culture
zoom-in-whitePerbesar
Al Dhafra, festival unik yang memamerkan keindahan unta. Foto: Dok. Abu Dhabi Culture
ADVERTISEMENT
Para ilmuwan telah memperingatkan para penonton FIFA Piala Dunia 2022 di Qatar akan potensi penyebaran penyakit menular. Selain COVID-19 dan cacar monyet, penyakit menular juga bisa disebabkan oleh kelompok virus corona berasal dari unta, yakni sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).
ADVERTISEMENT
Antara 20 November hingga 18 Desember 2022, sekitar 1,5 juta orang dari berbagai negara akan berbondong-bondong datang ke Qatar untuk menyaksikan Piala Dunia 2022. Peneliti di jurnal New Microbes and New Infections mengatakan acara massal seperti ini selalu menimbulkan risiko penyebaran penyakit menular. Risiko semakin tinggi jika melihat keadaan dan kondisi saat ini, ketika dunia masih mengalami krisis kesehatan.
Selain risiko penyebaran COVID-19 dan cacar monyet, peneliti juga menyoroti ancaman penyakit MERS yang perlu diwaspadai oleh para penggemar sepak bola di Qatar. Hal yang sama juga dilontarkan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa yang memperingatkan adanya potensi ancaman penyakit menular selama Piala Dunia, termasuk COVID-19, MERS-CoV, dan cacar monyet.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Suporter Ekuador berselebrasi setelah pertandingan Qatar vs Ekuador di Stadion Al Bayt, Al Khor, Qatar, Minggu (20/11/2022). Foto: Dylan Martinez/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Ekuador berselebrasi setelah pertandingan Qatar vs Ekuador di Stadion Al Bayt, Al Khor, Qatar, Minggu (20/11/2022). Foto: Dylan Martinez/REUTERS
MERS sendiri sama seperti COVID-19, disebabkan oleh virus corona. Virus corona ini berasal dari kelelawar, tapi unta adalah reservoirnya dan sering menyebarkan patogen jahat ini ke manusia. Gejala MERS mirip dengan COVID-19, seperti demam, batuk, dan sesak napas.
MERS pertama kali dilaporkan pada 2012 di Arab Saudi. Sejak saat itu, MERS telah menyebabkan lebih dari 2.600 kasus dengan 935 kematian yang tersebar di 27 negara berbeda. Sebagian besar kasus atau sekitar 2.193 kasus dan 854 kematian berasal dari Arab Saudi. Namun beberapa kasus kecil juga ditemukan di negara lain di Timur Tengah, termasuk Qatar.
Sejauh ini, Qatar yang berpenduduk sekitar 2,9 jiwa telah melaporkan total 28 kasus MERS. Qatar menemukan tiga kasus MERS pada 2022. Kedengarannya sedikit, tapi peneliti berpendapat kelompok rentan seperti orang dengan sistem kekebalan lemah atau punya penyakit kronis seperti diabetes atau jantung harus waspada terhadap penularan penyakit MERS dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan unta.
ADVERTISEMENT
“Data epidemiologis dari Qatar menunjukkan terjadinya 28 kasus MERS (kejadian 1,7 per 1.000.000 penduduk) dan sebagian besar kasus memiliki riwayat kontak dengan unta. Dengan demikian, orang dengan risiko lebih besar terkena penyakit parah disarankan untuk menghindari kontak dengan unta dromedaris, minum susu unta mentah atau air seni unta, atau makan daging yang belum dimasak dengan benar,” tulis para penelitian.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020