Viral Kamar Kos Penuh Sampah karena Penghuninya Hoarding Disorder, Apa Itu?

Sebuah foto kamar kos penuh sampah jadi viral di Twitter pada Minggu (12/7). Menurut pengguna bernama akun @ksiezyc26 yang mengunggah foto tersebut, itu merupakan salah satu kamar yang ada di kos yang dia huni dan sudah tidak lagi ditempati oleh si empunya sejak 2 bulan terakhir.
Posting-an @ksiezyc26 itu pun kemudian mencuri perhatian netizen Twitter. Hingga Senin (13/7) sore, kicauannya telah di-retweet oleh 19.900 orang dengan likes sebanyak 65.500.
Beberapa pengguna yang menanggapi posting-an itu menyebut, penghuni kos kamar mungkin mengalami gangguan mental yang disebut hoarding disorder, sehingga kamarnya penuh dengan timbunan sampah. Sebagian pengguna lain menduga, pemilik kamar hanya malas atau tidak punya waktu untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.
Kedua anggapan tersebut, bagaimanapun, tidak bisa diketahui secara pasti kebenarannya. Sebab, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah posting-an viral di media sosial. Namun, semenjak istilah hoarding disorder muncul ke publik, sebenarnya gangguan apa sih itu?
Apa itu hoarding disorder?
Menurut Layanan Kesehatan Nasional (National Health Services/NHS) Inggris, hoarding disorder didefinisikan sebagai kondisi seseorang menimbun berbagai barang dalam jumlah yang berlebihan dan menyimpannya dalam keadaan berantakan, dan biasanya mengakibatkan kekacauan yang tidak terkendali. Barang-barang yang ditimbun ini dapat bernilai sedikit atau bahkan tidak bernilai uang sama sekali.
Barang yang umumnya disimpan penderita hoarding disorder bisa bermacam-macam. Meski demikian, ada jenis-jenis barang yang sering ditimbun, seperti koran atau majalah, buku, pakaian, surat, tagihan dan kwitansi, wadah plastik atau kardus, hingga binatang piaraan yang sering tidak terawat dengan baik.
Lantas, apa bedanya hoarding disorder dengan tindakan sejenis seperti kolektor yang suka mengoleksi barang-barang? Menurut uraian Mayo Clinic, seorang kolektor, seperti perangko atau figura, dengan sengaja mencari barang yang hendak mereka koleksi, mengkategorikannya secara urut, dan dengan hati-hati menampilkan koleksi mereka. Meskipun koleksi tersebut banyak, seorang kolektor barang biasanya tidak menyimpan koleksi mereka secara berantakan dan tidak menyebabkan kesulitan dan gangguan seperti yang dilakukan orang dengan hoarding disorder.
Hingga saat ini, belum jelas apa yang menyebabkan seseorang memiliki hoarding disorder. Meski dalam kasus posting-an @ksiezyc26 itu sejumlah pengguna langsung mengasosiasikannya dengan masalah kesehatan mental, NHS menyebut bahwa masalah timbunan barang juga bisa didapatkan oleh orang dengan keterbatasan fisik yang sulit membersihkan lingkungan mereka atau orang dengan penyakit demensia yang sulit mengkategorikan barang yang perlu dibuang.
Adapun beberapa gangguan mental yang diduga dapat memicu hoarding disorder adalah depresi, skizofrenia, dan obsessive compulsive disorder (OCD). Menurut laporan Mayo Clinic, masalah penimbunan barang biasanya mulai muncul pada usia 11-15 tahun dan makin parah seiring bertambahnya usia. Hoarding disorder biasanya ditemukan pada usia dewasa ketimbang remaja. Munculnya masalah ini pada seseorang juga punya kaitan erat dengan apakah salah satu anggota keluarga punya hoarding disorder juga atau tidak.
Hoarding disorder, tentu, menyimpan potensi bahaya bagi orang yang menderitanya. Karena tumpukan barang yang dia simpan, ia berisiko untuk tertimbun barang-barang tersebut, terpeleset, mengalami konflik sosial dengan orang di sekitarnya, kesendirian, hingga kebakaran.
Karena penyebabnya yang masih sedikit diketahui, Mayo Clinic menyebut hoarding disorder sulit untuk dicegah. Namun, jika kamu menemukan ada orang terdekat yang mengalami gangguan tersebut, kamu bisa mengajaknya berkonsultasi ke dokter. Tentu ini tidak mudah karena orang dengan hoarding disorder berpikir mereka tak butuh bantuan. Tapi, jangan lupa untuk lebih peka tentang masalah ini dan tekankan kepedulian kamu terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
