Viral Kisah Pejuang Vaginismus, Apa Itu?

Sebuah utas di Twitter yang membahas vaginismus viral. Banyak netizen menyebut utas itu sebagai pengetahuan baru. Ada juga sejumlah warga net yang membagikan pengalamannya sebagai penyintas vaginismus.
Di Instagram, penyintas vaginismus, Dian Mustika (32), juga menjelaskan secara detil perjuangannya selama dua tahun dengan penyakit ini. Ia menyatakan dirinya sembuh setelah menjalani terapi.
Sebenarnya apa itu vaginismus? Mengapa kita perlu tahu akan penyakit ini? Berikut petikan wawancara kumparan dengan dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG dari Vaginismus Indonesia.
Apa itu vaginismus?
Kekakuan otot dinding vagina yang tidak bisa dikendalikan oleh pemilik. Hingga akhirnya menyebabkan kegagalan penetrasi.
Penyebabnya?
Secara medis masih unknown atau belum diketahui.
Jumlah penderita di Indonesia?
Belum ada data resminya. Data ilmiah di AS bisa mencapai 7-17 persen, tapi untuk break down-nya belum didapatkan.
Cara untuk mengetahuinya?
Jika berbicara soal pernikahan, orang dikategorikan vaginismus ketika tidak berhasil dalam penetrasi. Tapi bukan berarti yang belum menikah tidak bisa diketahui.
Selain dari aktivitas seksual, penandanya (yang belum menikah), kesulitan menggunakan tampon atau menstrual cup.
Untuk deteksi dini?
Belum ada deteksi ini karena penyebabnya belum diketahui.
Jenis vaginismus?
Pada umumnya terbagi menjadi dua. Vaginismus primer, sejak awal memang tidak bisa. Vaginismus sekunder, orang tersebut awalnya bisa penetrasi, tapi setelah titik waktu tertentu, tidak bisa.
Kategori penderita vaginismus?
Secara operasional dibagi menjadi, kendala nyeri terus-menerus setelah penetrasi, penetrasi tidak terjadi sewaktu-waktu, penetrasi hanya sebagian saja, dan kegagalan penetrasi.
Pengobatan?
Sejauh ini hanya terapi. Terapi dengan angka keberhasilan tinggi adalah dilatasi. Dilatasi adalah peregangan otot yang kaku di vagina agar normal. Ada prosedurnya. Bisa sembuh, dengan catatan mengikuti terapi secara prosedur. Belum ada temuan kambuh setelah mengikuti terapi dengan benar.
Soal stigma vaginismus karena pengaruh pikiran?
Di luar sana ada kekeliruan kalau tidak bisa penetrasi itu karena kurang rileks (atau pikiran). Secara kedokteran, otot vagina itu tidak bisa dikendalikan oleh pikiran. Mereka (penderita) dorongan seksualnya normal, rangsangan, lubrikasi normal.
