Virus Hybrid Gabungan Flu dan RSV Ditemukan, Jadi Lebih Berbahaya

2 November 2022 15:09
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi virus di cawan petri. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus di cawan petri. Foto: Maulana Saputra/kumparan
ADVERTISEMENT
Ilmuwan menemukan dua virus berbeda bergabung menjadi patogen tunggal. Virus hybrid (hibrida) ini kemungkinan lebih mematikan dan lebih mudah menginfeksi, menjelaskan kenapa terinfeksi dalam waktu bersamaan menyebabkan gejala parah.
ADVERTISEMENT
Setiap tahun, sekitar 5 juta orang di seluruh dunia dirawat di rumah sakit karena influenza A, sedangkan virus pernapasan (RSV) adalah penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah akut pada anak di bawah lima tahun, dan dapat menyebabkan penyakit parah pada beberapa anak dan orang tua.
Virus influenza A dan respiratory syncytial virus (RSV) adalah patogen yang sama-sama menyerang saluran pernapasan dan kadang menginfeksi manusia secara bersamaan. Pasien dengan infeksi kedua patogen sekaligus sering mendapat gejala yang lebih buruk. Namun ilmuwan belum berhasil menjelaskan penyebab kondisi pasien memburuk setelah menerima kedua virus tersebut.
Sebuah jurnal yang terbit di Nature Microbiology per 24 Oktober 2022 menjelaskan bahwa kedua virus yang bergabung menjadi satu patogen bisa menjadi salah satu penjelasannnya.
ADVERTISEMENT
Ilmuwan yang dipimpin oleh Joanne Haney dari University of Glasgow menemukan virus influenza A dengan RSV bergabung di laboratorium. Mereka mulanya sedang meneliti dampak klinis dari interaksi kedua virus serta prilaku dan transmisinya.
Ketika mereka menginjeksi kedua virus ke sel manusia, kedua virus malah bergabung menjadi patogen tunggal dengan kemampuan gabungan influenza dan RSV, berpotensi membuatnya lebih berbahaya. Di bahwa mikroskop electron, gabungan virus tersebut tampak seperti kaki cicak, dengan virus Influenza A menjadi bagian kaki dan RSV menjadi jari.
Virus hybrid dari Influenza A dan RSV di bawah teleskop. Foto: Haney et al., Nature Microbiology, 2022
zoom-in-whitePerbesar
Virus hybrid dari Influenza A dan RSV di bawah teleskop. Foto: Haney et al., Nature Microbiology, 2022
“Virus hibrida semacam ini belum pernah dijelaskan sebelumnya,” kata ahli virologi dan penulis senior Pablo Murcia kepada The Guardian.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Kita berbicara tentang virus dari dua keluarga yang sama sekali berbeda yang bergabung bersama dengan genom dan protein eksternal dari kedua virus. Ini adalah jenis virus patogen baru.
- Pablo Murcia -
Virus Influenze A hibrida tersebut pun menjadi dapat menginfeksi sel lebih banyak, dan dapat menghindari antibodi dengan menampilkan protein permukaan milik virus RSV.
ADVERTISEMENT
Virus hybrid ini juga tidak memiliki banyak reseptor Influenza. Reseptor adalah bagian permukaan yang mengikat dengan sel. Influenza biasanya menempel di tenggorokan. Dengan mengganti ke reseptor RSV, virus ini bisa menembus bagian paru-paru lebih dalam lagi —sifat ala RSV.
Sementara dari sisi RSV tidak banyak keuntungan. Dalam pemantauan ilmuwan, RSV sulit untuk mereplikasi dengan badan yang tergabung dengan influenza terebut.
Skenario dua virus bergabung ini memungkinkan terbentuknya patogen yang bisa menghindari sistem imun sekaligus menginfeksi organ dan jaringan lebih luas, ujar Dr Stephen Griffin, ahli virologi di University of Leeds yang tidak terlibat dalam studi.
“RSV cenderung turun ke paru-paru daripada virus flu musiman, dan Anda lebih mungkin terkena penyakit yang lebih parah jika infeksi berlanjut,” kata Griffin kepada The Guardian.
ADVERTISEMENT
"Ini adalah alasan lain untuk menghindari terinfeksi banyak virus sekaligus, karena [hibridisasi] ini kemungkinan akan lebih sering terjadi jika kita tidak mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi kesehatan kita.”
Penemuan ini memberi secercah cahaya kepada dampak klinis infeksi pernapasan, salah satunya pneumonia virus.
Namun eksperimen terbatas pada pengaturan laboratorium sehingga tidak bisa meniru kondisi dalam paru-paru. Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak klinis dari virus hybrid ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020