Kumparan Logo

Waspada Aritmia Mengintai Semua Usia, Kenali Gejala dan Cara Menanganinya

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minum kopi bikin jantung berdebar. Foto: Doucefleur/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minum kopi bikin jantung berdebar. Foto: Doucefleur/Shutterstock

Kamu mungkin pernah merasakan deg-degan saat dihadapkan pada situasi tertentu, seperti sedang berolahraga, menghadapi ujian, atau dipanggil bos karena target enggak tercapai. Namun, kalau deg-degan itu tiba-tiba muncul saat beristirahat dengan intensitas yang cukup sering dan menyebabkan nyeri dada, bisa jadi itu tanda kamu terkena aritmia atau gangguan irama jantung.

Aritmia merupakan salah satu dari gejala penyakit jantung. Aritmia diartikan sebagai gangguan irama jantung yang menyebabkan jantung berdetak tidak beraturan, bisa terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).

dr. Ignatius Yansen Ng, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC., Konsultan Intervensi Jantung & Aritmia Eka Hospital BSD, mengatakan bahwa deg-degan sebenarnya merupakan suatu istilah yang menggambarkan kondisi seseorang merasakan denyut jantung dengan cukup jelas. Irama normal jantung manusia dewasa saat beristirahat adalah 60-100 detak per menit. Artinya, jika seseorang mengalami deg-degan tapi jumlah detak jantung masih ada di kisaran angka 60-100, kondisi ini bisa dikatakan normal.

Orang bisanya merasakan jantung berdebar saat malam hari atau menjelang tidur karena suasana yang lebih sepi dan rileks. Penting bagi kita untuk memantau irama jantung mengingat faktor risiko kesehatan yang disebabkan oleh aritmia cukup mengkhawatirkan. Aritmia diketahui dapat menyebabkan stroke, henti jantung, hingga kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Kemudian, yang membedakan antara serangan jantung dan gangguan irama jantung adalah dari gejala yang dirasakan. Pasien dengan serangan jantung biasanya akan merasakan nyeri dada, sesak napas, pusing dan keringat dingin, hingga sulit bernapas. Sementara itu, gangguan irama bisa terjadi secara mendadak, membuat jantung berhenti berfungsi dengan baik.

dr. Ignatius Yansen Ng, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC., Konsultan Intervensi Jantung & Aritmia Eka Hospital BSD. Foto: Habib Allbi Ferdian/kumparan

“Aritmia ada di sekitar kita dan dia bisa bikin seseorang mendadak collapse, seperti yang dialami oleh pemain sepak bola Cristian Eriksen yang tiba-tiba collapse di tengah lapangan. Beruntung saat itu disaksikan banyak orang dan kaptennya bisa melakukan CPR (Resusitasi Jantung Pari) dengan baik sehingga dia tertolong,” kata dr Yansen.

Gangguan irama jantung itu jantungnya tidak berfungsi dengan baik, dia hanya bergetar saja, akibatnya tidak ada darah yang terpompa keluar. Otak kita cuma punya waktu 6 menit, dan setiap satu menit akan menurun 10 hingga 15 persen kemungkinan untuk survive atau pulih. Jadi kalau sudah lewat dari 6 menit, maka dia tidak akan kembali. Itulah kenapa setiap orang harus belajar untuk melakukan CPR dengan baik.”

- dr. Ignatius Yansen Ng, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC., Konsultan Intervensi Jantung & Aritmia Eka Hospital BSD -

Saat ini, ada banyak alternatif yang bisa dilakukan oleh orang-orang untuk memantau detak jantungnya setiap hari secara mandiri, termasuk menggunakan smartwatch, tensimeter, hingga oximeter. Ini berguna karena saat terjadi gangguan irama jantung, semua bisa tercatat dengan baik di aplikasi, dan dokter bisa mendiagnosis serta melakukan serangkaian tindakan yang dibutuhkan untuk menjaga jantung tetap stabil.

“Dilema pasien dengan aritmia adalah kalau diperiksa sedang tidak berdebar, maka tidak akan terlihat apa-apa. Jadi, kalau pasien datang ke poli karena berdebar, dan ternyata saat dicek normal, itu menjadi masalah. Sebab aritmia itu harus dicek saat kejadian. Namun, sekarang teknologi membuat orang bisa mendeteksi detak jantung setiap saat menggunakan berbagai device seperti smartwatch atau perangkat kesehatan seperti tensi darah mandiri, hingga oximeter,” kata dr Yansen.

Gejala

Ada berbagai jenis aritmia. Secara garis besar, aritmia terbagi menjadi dua, yakni detak jantung lambat dan cepat. dr. Yansen mengungkapkan bahwa saat ini aritmia atrial fibrilasi menjadi salah satu yang paling banyak diderita orang-orang, termasuk di Indonesia. Aritmia jenis ini penyebab utamanya adalah usia.

Orang dengan usia 80 tahun, 10 hingga 15 persen pasti mengalami atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung tidak beraturan. Aritmia atrial fibrilasi membuat gumpalan-gumpalan darah yang jika dilepaskan ke otak bisa menjadi stroke. Kejadiannya lima kali lipat dibandingkan dengan pasien tanpa aritmia atau atrial fibrilasi. Meski begitu, aritmia juga bisa dialami oleh anak muda, bahkan bayi sekali pun. Penyakit ini tidak memandang usia dan bisa menimpa siapa saja.

Adapun gejalanya aritmia meliputi:

  • Jantung berdebar

  • Detak jantung lambat atau cepat

  • Pusing

  • Pernah mengalami pingsan tanpa sebab

  • Sesak napas

  • Rasa tidak nyaman atau nyeri pada dada

  • Lemah atau kelelahan ekstrem

  • Penyebab Aritmia

Aritmia sendiri disebabkan oleh gangguan sinyal listrik yang menuju jantung. Agar dapat memompa, jantung mendapatkan impuls listrik untuk berkontraksi dan relaksasi. Saat impuls listrik terganggu, “perintah” untuk memompa jadi tidak optimal. Akibatnya, daya pompa jantung juga berkurang. Ini bisa menyebabkan darah yang dialirkan jantung ke seluruh tubuh tidak maksimal.

Ilustrasi jantung. Foto: Explode/Shutterstock

Saat organ-organ tidak mendapatkan asupan darah yang berisi nutrisi dan oksigen dengan baik, saat itulah gejala aritmia muncul. Misalnya saja, pompa darah yang tidak maksimal ke otak menyebabkan Anda mengalami pusing bahkan pingsan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan sinyal listrik ke jantung terganggu, seperti:

  • Ketidakseimbangan elektrolit

  • Serangan jantung atau jaringan parut yang terbentuk ketika Anda pernah mengalami serangan jantung

  • Sumbatan pada pembuluh darah jantung (penyakit arteri koroner)

  • Perubahan struktur jantung, seperti kardiomiopati

  • Penyakit katup jantung

  • Diabetes

  • Tekanan darah tinggi

  • Infeksi Covid-19

  • Gangguan kelenjar tiroid

  • Sleep apnea

  • Obat-obatan tertentu

  • Stres atau kecemasan

  • Merokok

  • Terlalu banyak alkohol atau kafein

  • Skrining aritmia

Untuk memastikan apakah seseorang mengalami aritmia atau bukan, akan ada serangkaian tes yang dokter lakukan untuk memastikannya.

Beberapa pemeriksaan tersebut, yaitu:

  • Tanya jawab (anamnesis) dan pemeriksaan fisik

  • EKG

  • Tes treadmill

  • Holter monitoring (serupa dengan EKG tapi dapat memantau detak jantung selama 24 jam atau lebih)

Untuk penentuan diagnosis aritmia, dokter juga dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan lainnya, salah satunya studi elektrofisiologi.

Pengobatan aritmia

Tidak semua jenis aritmia perlu pengobatan. Sebab, beberapa di antaranya cukup ringan dan tidak memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Bahkan, bisa membaik dengan perubahan pola hidup menjadi lebih baik.

Secara umum, terdapat 5 pilar pengobatan aritmia, yaitu:

  • Konsumsi obat-obatan

  • Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok dan alkohol, makan makanan bergizi

  • Terapi, seperti ablasi jantung, pemasangan ring jantung, kardioversi

  • Pemasangan alat pacu jantung, leadless pacemaker, dual chamber pacemaker, implantable cardioverter defibrillator (ICD)

Komplikasi aritmia

Komplikasi yang muncul dari aritmia sangat tergantung dari jenis gangguan irama jantung yang dialami. Beberapa peluang komplikasi, antara lain:

  • Terbentuknya bekuan darah, yang berpotensi menyebabkan stroke

  • Gagal jantung

  • Henti jantung mendadak

Jika seseorang sering mengalami deg-degan atau merasakan jantung berdebar kencang, segera konsultasi ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Memilih fasilitas kesehatan yang tepat dapat membantu memastikan diagnosis dan penanganan yang sesuai.