Waspada Hujan Lebat di Jabodetabek & Seluruh Indonesia hingga 1 Januari 2023
ยทwaktu baca 3 menit

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi beberapa wilayah di Indonesia termasuk Jabodetabek berpotensi dilanda cuaca ekstrem hingga awal tahun 2023. Cuaca ekstrem itu berupa hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang terjadi dari 25 Desember 2022 - 1 Januari 2023.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, peningkatan curah hujan selama periode Natal dan Tahun Baru 2023 diakibatkan sejumlah dinamika atmosfer. Di antaranya, peningkatan aktivitas Monsun Asia yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
Selain itu, kata dia, meningkatnya intensitas seruakan dingin Asia yang dapat meningkatkan kecepatan angin permukaan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan, serta meningkatkan potensi awan hujan di sekitar Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.
Dinamika atmosfer lainnya yaitu adanya indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah perairan selatan Indonesia yang dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif dan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi, peningkatan kecepatan angin permukaan, serta peningkatan tinggi gelombang di sekitarnya.
"Dan yang keempat, terpantaunya beberapa aktivitas gelombang atmosfer, yaitu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang terbentuk bersamaan dengan gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial, kondisi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia terutama di bagian tengah dan timur," kata Dwikorita dalam rilis yang diterima kumparan, Selasa (27/12).
Potensi hujan dengan intensitas signifikan sampai awal tahun 2023 perlu diwaspadai di beberapa wilayah berikut ini:
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
NTB
NTT
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Adapun wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat sebagai berikut:
Aceh
Lampung
Sumatera Selatan
DKI Jakarta
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
Dengan adanya prakiraan cuaca tersebut, Dwikorita meminta masyarakat untuk terus memonitor informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG. Menurutnya, risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan gelombang tinggi sangat besar terjadi.
Pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko terjadinya bencana hidrometeorologi. Dahan dan ranting pohon yang rapuh harus dipangkas serta menguatkan tegakan atau tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang,"
- Kepala BMKG, Dwikorita -
BMKG meminta pemerintah daerah agar lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometeorologi. Selain itu, pemerintah daerah juga harus memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.
"Perlu juga digencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian Pemerintah Daerah, masyarakat serta pihak terkait dalam pencegahan atau pengurangan risiko bencana hidrometeorologi," imbuhnya.
Sementara itu, bagi penyedia transportasi penyeberangan perlu meningkatkan kewaspadaan sebagai salah satu upaya adaptasi dan mitigasi kondisi tersebut.
