Waspada! Partikel Kecil di Udara Bisa Picu Serangan Jantung Mendadak

14 November 2022 8:00
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi serangan jantung saat mengemudi Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi serangan jantung saat mengemudi Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data penelitian yang dikumpulkan selama hampir satu dekade di seluruh Singapura, menunjukkan peningkatan konsentrasi partikel kecil di udara bisa memicu serangan jantung. Ini artinya penanganan tingkat polusi udara di seluruh dunia menjadi sangat mendesak.
ADVERTISEMENT
Dalam penelitiannya, para peneliti mengukur partikel kecil di udara yang ukurannya 25 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia yang dikenal sebagai partikel PM2,5. Ukurannya yang kecil ini membuat partikel mudah terhirup dan telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit autoimun.
Untuk melihat bagaimana tingkat polusi udara di Singapura berpengaruh pada kesehatan, para peneliti melacak lebih dari 18.000 kasus serangan jantung di luar rumah sakit (OHCA) yang dilaporkan antara Juli 2010 hingga Desember 2018. Melalui analisis statistik, 492 kasus serangan jantung dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi PM2,5.
“Kami telah mendapatkan bukti jelas tentang hubungan jangka pendek PM2,5 dengan serangan jantung di luar rumah sakit, kejadian yang sering mengakibatkan kematian mendadak,” ujar Joel Aik, ahli epidemiologi dari Duke-NUS Medical School di University of Singapore.
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Ini adalah studi observasional, artinya peneliti hanya berspekulasi ihwal hubungan antara tingkat polusi dan henti jantung. Terlebih, pengukuran polusi udara di stasiun kualitas udara tak bisa dianggap mencerminkan paparan individu.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Namun, ada cukup data yang bisa menunjukkan bahwa apa yang ditemukan ilmuwan kali ini patut diteliti lebih lanjut. Data menunjukkan, konsentrasi harian PM2,5 rata-rata mencapai 18,44 mikrogram per meter kubik.
Peneliti menemukan, 1 mikrogram per meter kubik PM2,5 berkorelasi dengan penurunan 8 persen kejadian serangan jantung. Sementara 3 mikrogram per meter kubik PM2,5 berkorelasi dengan penurunan 30 persen kejadian serangan jantung. Peneliti mengatakan, udara kota yang bersih dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi tekanan pada rumah sakit.
Hasil ini memperjelas upaya untuk mengurangi tingkat partikel polusi udara dalam kisaran 2,5 mikrogram atau lebih rendah dan langkah-langkah untuk melindungi dari paparan partikel dapat berperan mengurangi serangan jantung mendadak pada populasi di Singapura, sekaligus mengurangi beban pelayanan kesehatan.
- Joel Aik, ahli epidemiologi dari Duke-NUS Medical School di University of Singapore -
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Rabu (28/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Rabu (28/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Di kota-kota berpolusi di dunia, seperti Jakarta atau Delhi, India, masyarakatnya juga sama menghirup udara dengan kualitas udara buruk. Polusi udara ini dianggap telah bertanggung jawab atas jutaan kematian dini baik di perkotaan maupun pedesaan setiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
Beberapa hal bisa dilakukan untuk mengurangi polusi udara ini, termasuk mengurangi volume kendaraan pribadi hingga mencegah terjadinya kebakaran hutan.
“Studi ini memberikan bukti kuat tentang dampak kualitas udara terhadap kesehatan dan harus merangsang kebijakan dan upaya lapangan untuk mengelola emisi dari sumber utama yang dapat menyebabkan peningkatan PM2,5 dan mencegah potensi bahaya bagi kesehatan masyarakat,” kata Marcus Ong, ilmuwan dari Duke-NUS Medical School seperti dikutip Science Alert.
"Intervensi kebijakan baru, seperti menghentikan kendaraan bermesin pembakaran internal secara bertahap, dapat membantu mengurangi bahaya."
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020