4 Legiun Asing Lawas yang Sempat Bersinar di Liga Indonesia

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suporter Timnas Indonesia di Malaysia (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Timnas Indonesia di Malaysia (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Liga Indonesia menjadi salah satu kompetisi favorit bagi pesepak bola asing. Di era 2000-an, ada nama-nama beken yang mugkin masih kamu ingat hingga kini.

Keempat nama berikut mewakili berbagai posisi dan klub berbeda yang menyita perhatian fans setia sepak bola Indonesia pada masanya. Siapa saja mereka?

1. Nyeck Nyobe

Nyeck Nyobe (Foto: Twitter/@geosth)
zoom-in-whitePerbesar
Nyeck Nyobe (Foto: Twitter/@geosth)

George Clement Nyeck Nyobe, kamu pasti mendengar nama eks pemain Persib Bandung ini. Perawakannya yang sangar dan kekar membuat striker lawan segan saat menghadapinya.

Pemain kelahiran Kamerun 18 Maret 1983 ini pertama kali memperkuat Persib Bandung pada Divisi Utama Liga Indonesia 2007. Saat itu Nyeck didatangkan dari salah satu klub liga Kamerun yang berbasis pada kemiliteran.

Meski tidak sempat membawa Persib menjadi jawara, namun Nyeck merupakan salah satu legiun asing yang dicintai Bobotoh (sebutan pendukung Persib).

Dia adalah pemain serba bisa, tipikal keras namun andal membaca permainan. Selain itu, Nyeck juga mempunyai keahilan khusus yakni tendangan bebas jarak jauh.

Dengan tendangan canon ball-nya, Nyeck beberapa kali mampu menggetarkan jala lawan.

Dia sempat dipinjamkan ke Persela Lamongan kemudian dikontrak kembali di musim 2008/09. Setelah itu ia kemudian direkrut oleh PSMS Medan.

Saat membela PSMS Medan, karier Nyeck mulai meredup. Ia kerap kali terkena permasalahan indisipliner karena kerap kali mangkir saat latihan, hingga akhirnya manajemen PSMS memberikan sanksi kepadanya.

2. Ronald Fagundez

Ronald Fagundez (Foto: Instagram/@Fagundez28)
zoom-in-whitePerbesar
Ronald Fagundez (Foto: Instagram/@Fagundez28)

Banyak pemain latin yang bermain di Liga Indonesia. Nama Fagundez patut dikedepankan.

PSM Makassar adalah klub pertama yang dibelanya pada tahun 2004, Selama dua tahun, ia sukses menjadi pemain yang menjaadi nyawa permainan Juku Eja. Skill-nya yang menawan dan aliran bola dari kaki kirinya kerap memanjakan striker trengginas PSM kala itu Christian Gonzales.

Berkat magisnya di lapangan hijau, Fagundez kemudian diperebutkan banyak klub besar Liga Indonesia. Sampai akhirnya ia melabuhkan hatinya ke Persik Kediri pada tahun 2006.

Di musim pertamanya, Fagundez langsung nyetel dengan tim berjuluk Macan Putih itu. Permainan atraktifnya dengan kombinasi dengan pemain Persik lainnya seperti Danilo Fernando, Christian Gonzales dan Budi Sudarsono mengantarkan Macan Putih menjadi juara Ligina.

Lepas dari Persik, pemain Uruguay ini kemudian pindah ke Putra Samarinda lalu PSIS Semarang. Namun kariernya tak secemerlang saat ia membela PSM atau Persik.

Sampai akhirnya ia menghilang karena dijatuhi sanksi larangan beraktivitas selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 150 Juta akibat insiden sepakbola gajah yang melibatkan PSIS Semarang saat melawan PSS Sleman.

3. Emalue Serge

Emalue Serge (Foto: Instagram/@legiunasingarema)
zoom-in-whitePerbesar
Emalue Serge (Foto: Instagram/@legiunasingarema)

Namanya begitu mentereng saat dirinya mampu membawa Arema Malang menjuarai Copa Indonesia 2005. Saat itu ia baru saja bergabung dengan Arema.

Di tahun berikutnya, kariernya semakin cemerlang. Ia kembali membawa Arema menjadi juara Copa Indonesia. Ia menorehkan 9 gol di ajang tersebut.

Serge juga sempat menorehkan gol spektakuler lewat tendangan jarak jauhnya saat menghadapi PSMS Medan di ajang tersebut. Gol itu juga meraih peringkat ketiga Gol Terbaik Asia 2006 versi Star Sports.

instagram embed

Sayang, sejak kakinya patah karena mendapat tekel keras dari Bio Paulin ketika menghadapi Persipura Jayapura tahun 2007. Akibatnya ia harus absen selama setahun.

Setelahnya Serge gagal move on dari cederanya. Meski sempat membela Persija beberapa tahun setelahnya namun Serge gagal bersinar hingga harus ditransfer ke klub divisi 2, Pro Duta FC.

4. Emannuel De Porras

Tampan, tajam dan digandrungi suporter setia tim yang dibelanya. Itulah tiga kata yang mungkin bisa menggambarkan kualitas Emannuele Matias De Porras.

Pemain asal Argentina tersebut sempat dicintai The Jak Mania pada tahun 2004. Saat itu ia begitu tajam. Semusim ia berhasil mencetak 16 gol dari 28 pertandingan.

Namun karena kecewa Persija tak mampu menjadi jawara di Liga indonesia 2004, manejemen Macan Kemayoran kemudian memutus kontraknya.

Alih-alih meredup, nama De Porras kian tenar saat membela PSIS pada musim 2005/2006. Lewat torehan 17 golnya, De Porras mampu mengantarkan Mahesa Jenar menjadi runner up di musim itu.

Emanuel De Porras (Foto: Wikipedia)
zoom-in-whitePerbesar
Emanuel De Porras (Foto: Wikipedia)

De Porras kemudian menghilang dari Indonesia setahun setelahnya. Ia memilih untuk membela klub di Argentina.

De Porras berganti kostum beberapa kali hingga akhirnya kembali ke Tanah Air. Namun dia hadir di saat yang tidak tepat. Saat itu kompetisi sedang terpecah, kondisi sepakbola Indonesia tengah kacau.

Saat kembali ia membela Jakarta 1928 di Liga Primer Indonesia. Di sini karier De Porras mulai meredup.

Mungkin masih ada nama-nama lain yang kamu rindukan saat ini. Jika kamu punya nama lainnya silakan masukkan di kolom komentar.