kumparan
19 Jan 2019 11:43 WIB

Rubber Set yang Sengit bagi Elina Svitolina untuk Tembus Babak Keempat

Svitolina merayakan kemenangan atas Zhang Shuai. (Foto: Reuters/Edgar Su)
Ralat: Dalam tulisan sebelumnya disebutkan bahwa Elina Svitolina mencapai babak perempat final; yang benar adalah babak keempat atau 16 besar.
ADVERTISEMENT
Petenis Ukraina, Elina Svitolina, harus bertarung selama 5 jam 18 menit untuk menyingkirkan petenis China, Zhang Shuai, dalam pertandingan babak ketiga Australia Terbuka 2019, Sabtu (19/1/2019) pagi WIB. Dalam pertandingan yang dilangsungkan di Rod Laver Arena itu, Svitolina yang merupakan unggulan keenam menang 4-6, 6-4, dan 7-5.
***
Salah satu hal paling mengesankan yang bisa Anda baca di laman Wikipedia Elina Svitolina adalah deretan nama peraih Grand Slam yang pernah dikalahkannya. Ada 12 nama di sana, mulai dari one hit wonder macam Francesca Schiavone sampai petenis putri terhebat sepanjang masa Serena Williams. Anehnya, sejak resmi menjadi petenis profesional pada 2010 silam belum sekali pun pemudi 24 tahun ini meraih gelar di ajang Grand Slam.
ADVERTISEMENT
Di Rod Laver Arena, Zhang Shuai hampir saja membuat Svitolina gagal lagi merengkuh gelar Grand Slam. Perlawanan hebatnya di set pertama dan awal-awal set ketiga jadi dua hal yang patut membuat Svitolina waswas. Namun, pengalaman akhirnya berbicara. Svitolina, biar bagaimana juga, masih terhitung sebagai petenis papan atas dan akhirnya dialah yang keluar sebagai pemenang.
Svitolina memasuki arena dengan hati berbunga-bunga. Sehari sebelum pertandingan ini dia resmi mengumumkan hubungannya dengan petenis Prancis Gael Monfils ke muka publik. Akan tetapi, barangkali justru itu yang membuat dirinya kesulitan menjaga fokus, khususnya di set pertama.
Gael Monfils menyemangati Elina Svitolina di tribune. (Foto: Reuters/Edgar Su)
Jika gim pertama di set pertama bisa dijadikan patokan, semestinya Svitolina tidak perlu menjalani pertandingan lebih dari 5 jam untuk menyingkirkan Zhang. Akan tetapi, gim pertama di set pertama itu nyatanya merupakan anomali yang muncul terlampau cepat.
ADVERTISEMENT
Setelah berhasil memenangi gim tersebut, Svitolina mendapatkan perlawanan hebat. Awalnya, dia memang berhasil membendung tekanan dari Zhang tersebut. Di gim keenam Svitolina bahkan berhasil mematahkan serve Zhang untuk mencatatkan keunggulan 4-2. Namun, keberhasilan Svitolina mematahkan serve Zhang itu sebetulnya bisa dilihat sebagai sebuah pertanda bahwa semua takkan berjalan mulus.
Svitolina membutuhkan tiga advantage untuk akhirnya menyegel poin keempatnya di set pertama. Setelah itu, penampilannya mulai mengendur. Di gim ketujuh serve-nya berhasil dipatahkan dan hal serupa kembali terjadi pada gim kesembilan. Zhang akhirnya berhasil memanfaatkan gim kesepuluh dengan memetik kemenangan 6-4.
Masalah Svitolina tak berhenti sampai di situ. Pada set kedua cedera menghinggapi lehernya yang tiba-tiba saja terasa kaku. Dengan kondisi seperti itu, di bawah matahari musim panas Melbourne yang jahanam, Svitolina harus meraih kemenangan untuk menjaga kans lolos ke babak berikutnya.
ADVERTISEMENT
Penampilan Svitolina tidak terlampau spesial pada set kedua. Namun, terkadang yang spesial memang tidak benar-benar diperlukan. Ketika mendapat kesempatan melakukan serve, dia tak menyia-nyiakannya. Di akhir laga, tercatat bahwa Svitolina mampu mencatatkan 7 ace dan inilah yang jadi salah satu kunci kemenangannya.
Elina Svitolina menyalami Zhang Shuai. (Foto: Reuters/Edgar Su)
Pada set kedua, Svitolina sebenarnya tidak mampu sekali pun mematahkan serve Zhang kecuali pada saat terakhir, di mana akhirnya itu menjadi penentu. Butuh 10 gim untuk menyelesaikan set ini dan pada gim kesepuluh itulah Svitolina menunjukkan kelasnya sebagai salah satu kandidat juara. Kemenangan 6-4 membuat pertandingan kembali ke titik ekuilibrium.
Maka, set ketiga pun harus digelar untuk menentukan siapa yang layak ke babak keempat dan di sinilah penampilan Svitolina yang paling heroik muncul. Dalam tiga gim pertama, Svitolina selalu gagal mendapatkan poin. Sampai pada titik tersebut, semua harapan untuk mendapat gelar Grand Slam perdana bisa sirna begitu saja.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, Svitolina menolak menyerah. Perlahan, perolehan poin Zhang berhasil dikejarnya. 1-3, 2-3, 3-3, bahkan akhirnya Svitolina berbalik unggul menjadi 4-3 dan 5-3. Ini merupakan titik paling krusial dari pertandingan antara Svitolina dan Zhang karena berkat keberhasilannya meraih lima poin berturut-turut, Svitolina berada di atas angin.
Benar saja. Zhang sempat ngotot memberi perlawanan dengan mencatatkan dua poin penyama kedudukan. Namun, Svitolina sudah telanjur larut dalam kepercayaan diri tinggi. Perlawanan Zhang pun dia hentikan dengan elegan. Pertama, dengan memanfaatkan serve-nya sendiri. Kedua, dengan mematahkan serve Zhang. Skor 7-5 di set ketiga pun mengirim Svitolina ke babak keempat.
Bagi Svitolina, perempat final adalah titik terjauhnya di Australia Terbuka. Dia telah berhasil meraih itu musim lalu, tetapi akhirnya kalah memalukan di tangan Elise Mertens. Musim ini, Svitolina memiliki kesempatan untuk membayar lunas kegagalannya tahun lalu. Kesempatan itulah yang akhirnya dia rayakan dengan teriakan keras usai menyalami dan memeluk Zhang saat pertandingan telah usai.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan