8 Negara Bertarung di MilkLife Superliga Junior

Sebanyak delapan negara siap unjuk kebolehan dalam ajang kejuaraan bulu tangkis MilkLife Superliga Junior 2026. Turnamen beregu ini digelar untuk memberikan pengalaman bertanding sekaligus membiasakan para pebulu tangkis junior merasakan atmosfer kompetisi beregu.
Delapan negara yang dipastikan tampil yakni Indonesia, Malaysia, China, Singapura, Chinese Taipei, Amerika Serikat, Polandia, hingga Filipina.
MilkLife Superliga Junior 2026 berlangsung pada Senin (2/11) hingga Minggu (8/11) di GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah. Ajang ini mempertandingkan empat kelompok umur beregu, yakni U-13, U-15, U-17, dan U-19.
Ada delapan piala bergengsi yang bakal diperebutkan. Kedelapan piala tersebut mengabadikan nama para legenda bulu tangkis Tanah Air: Piala Tontowi Ahmad, Piala Liliyana Natsir, Piala Sigit Budiarto, Piala Maria Kristin, Piala Hariyanto Arbi, Piala Yuni Kartika, Piala Liem Swie King, dan Piala Susy Susanti.
Berikut rincian piala yang diperebutkan di setiap kategori:
U-13: Piala Tontowi Ahmad (Putra) & Piala Liliyana Natsir (Putri)
U-15: Piala Sigit Budiarto (Putra) & Piala Maria Kristin (Putri)
U-17: Piala Hariyanto Arbi (Putra) & Piala Yuni Kartika (Putri)
U-19: Piala Liem Swie King (Putra) & Piala Susy Susanti (Putri)
Ketua Panitia Pelaksana MilkLife Superliga Junior 2026, Yuni Kartika, menjelaskan bahwa format kejuaraan ini menggunakan sistem undangan (invitation) bagi pebulu tangkis mancanegara.
"Sistemnya memang undangan, invitation, dan kami memang meminta kesediaan negara-negara tersebut untuk bisa ikut Superliga. Karena kalau beregu, kami memang mencoba untuk mencari lawan dari negara lain. Tidak hanya dari Indonesia saja," kata Yuni kepada kumparan, Senin (2/11).
Menurut Yuni, ajang ini tidak sekadar memperkenalkan format beregu kepada para pemain muda, tetapi juga menjadi tolak ukur untuk mengintip peta kekuatan lawan internasional.
"Bermain beregu artinya mereka bekerja sama dengan tim. Dari situ mereka belajar, dan bisa enggak mereka bermain di beregu dengan tekanan yang pastinya lumayan tinggi," terangnya.
Pemenang Piala Uber 1994 itu menambahkan, ada perbedaan tanggung jawab yang cukup kentara ketika bertanding di nomor beregu dibandingkan perorangan.
"Ya jelas beda di tanggung jawab. Kalau individu menang-kalah bertanggung jawab untuk diri sendiri. Tetapi kalau beregu bertanggung jawab untuk klubnya. Kalau peserta luar negeri kan by country atau negaranya."
"Jadi pertaruhannya lumayan tinggi dan pastinya mereka memikirkan kekalahan dan kemenangan berdampak kepada timnya," pungkas Yuni.
