Amor Fati Gianluigi Buffon

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Buffon, salah satu legenda terbesar Italia. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Buffon, salah satu legenda terbesar Italia. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters)

"Pada akhirnya, untuk menjadi penjaga gawang, kamu harus jadi seorang masokis," kata Gianluigi Buffon suatu kali. Baginya, satu-satunya hal yang pasti bagi seorang penjaga gawang adalah kebobolan dan hal itu sudah barang tentu tidak akan membawa kebahagian.

Buffon, 39 tahun, barangkali merupakan sosok yang paling layak untuk berbicara soal bagaimana rasanya hidup sebagai penjaga gawang. Dengan karier profesional yang telah melebihi dua dasawarsa, Gigi, sapaan akrabnya, masih menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Semua itu berawal pada sebuah laga melawan Milan pada ajang Serie A. Di usia 17 tahun, dia dipercaya oleh pelatih Parma saat itu, Nevio Scala, untuk turun menghadapi salah satu tim terbaik sepanjang masa.

Milan, lewat Roberto Baggio, George Weah, dan Marco Simone, berusaha untuk menyiksa sang penjaga gawang belia. Namun, upaya mereka semua mentah di tangan Buffon, termasuk sebuah penalti yang dieksekusi Baggio. Milan ditahan imbang tanpa gol dan hari itu, 19 November 1995, publik Ennio Tardini menyaksikan lahirnya seorang legenda besar.

Sejak itu, Buffon sukses menyingkirkan Luca Bucci dari Parma dan Gianluca Pagliuca dari Tim Nasional Italia. Tak hanya itu, dia juga sukses mematikan kesempatan semua orang yang punya ambisi untuk mendongkelnya, entah itu di Parma, Juventus, dan khususnya di tim nasional. Sejak Kualifikasi Euro 2000 hingga kini, Kualifikasi Piala Dunia 2018, Buffon selalu menjadi penjaga gawang pilihan utama.

Sudah tak terhitung berapa orang yang harus gigit jari karena kalah bersaing dengannya. Sebagai catatan, kiper sekelas Edwin van der Sar pun harus tergusur ke Fulham ketika Juventus membeli Buffon dari Parma. Meski begitu, tak satu pun dari mereka yang menyimpan dendam. Alasannya sederhana: Buffon memang terlalu hebat.

Menjadi besar sebagai sosok soliter di lapangan memang bukan hal main-main. Pada dirinya, terdapat sebuah batas tipis antara tempik sorak dan derai air mata. Untuk menanggung beban demikian, memang dibutuhkan sosok manusia super.

Oleh khalayak, Buffon memang kerap disamakan dengan Superman. Ketika muda dulu dia memang gemar sekali terbang ke sana-sini. Selain itu, tak jarang pula dia menjadi penentu kemenangan tim dengan berbagai penyelamatan yang kadang tak masuk di akal.

Kini, dia memang sudah tak lagi doyan terbang. Namun, dengan refleks yang masih prima dan kemampuan memprediksi datangnya bola yang kian meningkat seiring bertambahnya pengalaman, Buffon masih super. Keberhasilan Juventus menjuarai Serie A musim lalu tak lepas dari kontribusi Buffon pada laga sengit melawan Fiorentina.

Namun, bukan hanya kemampuan di lapangan saja yang membuat Buffon menjadi yang terbaik. Lebih dari itu, dia adalah sosok pemimpin yang disegani dan pribadi yang berkelas.

Bukti paling gampang untuk menunjukkan kelas Buffon sebagai seorang manusia adalah ketika dia memutuskan untuk bertahan bersama Juventus pada 2006 silam. Di saat bintang-bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, dan Patrick Vieira pergi, Buffon bertahan. Meski mencuat di Parma, harus diakui bahwa Buffon menjadi besar di Juventus, dan bertahan kala Sang Nyonya terluka adalah bentuk balas budinya.

Buffon setia pada Si Nyonya Tua. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Buffon setia pada Si Nyonya Tua. (Foto: Wikimedia Commons)

Namun, Buffon sendiri bukannya tanpa cela. Ketika masih membela Parma dulu, dia pernah dihujat lantaran mengenakan kostum bernomor punggung '88' yang identik dengan semboyan Neo-Nazi, 'Heil Hitler'. Huruf 'H' sendiri merupakan huruf kedelapan dalam abjad Latin dan akhirnya nomor tersebut menjadi sering dikorup oleh kaum fasis.

Tak hanya soal nomor punggung, Buffon juga pernah disangkutpautkan dengan neo-fasisme ketika menuliskan slogan berbau fasis "boia chi molla" ("yang menyerah hanya bajingan") di kausnya. Slogan itu sendiri digunakan oleh kaum neo-fasis di Reggio Calabria pada Pemberontakan Reggio pada dekade 1970-an.

Akan tetapi, Buffon menolak semua tuduhan itu. Baginya, angka '88' adalah simbol kebangkitan kembali dirinya usai cedera jelang Euro 2000. Kemudian, slogan itu dia gunakan untuk menyemangati Parma yang ketika itu, tahun 1999, sedang sulit meraih kemenangan.

Entah apa yang dipikirkan Buffon ketika itu. Yang jelas, setelah bergabung dengan Juventus, dia menjadi lebih dewasa. Ketika Del Piero meninggalkan Juventus pada 2012 silam, Buffon pun secara resmi ditunjuk menjadi kapten tim secara penuh. Statusnya sebagai pemimpin pun ditahbiskan kala itu.

***

Butuh seorang Thomas N'Kono untuk meyakinkan Gigi Buffon kecil agar mau menjadi penjaga gawang. Sebelumnya, ketika bermain sepak bola di tanah lapang Carrara, kota kelahirannya, dia lebih suka bermain di tengah atau depan. Hal itu dia lakukan di klub masa kecilnya, Perticata. Alasan Buffon pun simpel saja. "Namanya juga anak-anak, ya, pasti lebih suka mencetak gol," tutur Buffon kepada kolumnis sepak bola James Horncastle.

Buffon memang tidak salah pilih. Di nadinya, mengalir darah sosok kiper, pelempar cakram, dan pemain voli yang hebat pula. Lorenzo Buffon, kiper Milan era 1960-an adalah sepupu dari kakek Gigi. Sementara itu, ibunya, Maria Stella, adalah pemegang rekor lempar cakaram Italia selama 17 tahun.

Tak heran jika salah satu modal utama Buffon dalam bermain adalah tangan yang kuat. Dia pun menjelma menjadi salah satu shot-stopper terbaik sepanjang masa, kalau bukan yang terbaik. Dengan tangan-tangan yang diberkati itu, dia hampir selalu mampu membuang bola ke tempat yang bakal sulit dieksploitasi lawan.

Buffon dengan medali Juara Dunia 2006. (Foto: Flickr)
zoom-in-whitePerbesar
Buffon dengan medali Juara Dunia 2006. (Foto: Flickr)

Sebagai sosok shot-stopper, banyak yang menyebut bahwa kiper seperti Buffon sudah ketinggalan zaman. Pasalnya, tuntutan bagi seorang kiper untuk terlibat dalam permainan semakin besar saja seiring dengan meningkatnya popularitas penguasaan bola.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Selain Manuel Neuer, tidak ada lagi sosok sweeper-keeper yang benar-benar berkelas dunia. Sedangkan, kiper-kiper hebat lain seperti Thibaut Courtois, David De Gea, Samir Handanovic, Jan Oblak, bahkan Gianluigi Donnarumma merupakan kiper-kiper shot-stopper. Lagi-lagi, alasannya sederhana. Tugas kiper, pada akhirnya, adalah untuk menyelamatkan gawang dan untuk melakukan itu, mereka tetap bakal mengandalkan tangannya.

Pada laga Italia vs Albania, Sabtu (25/3) dini hari, Buffon akan menjaga gawang untuk keseribu kalinya. Untuk keseribu kalinya, dia harus berhadapan dengan ketidakpastian. Untuk keseribu kalinya, dia harus menghalang-halangi kesedihan agar tidak masuk dengan lancang. Untuk keseribu kalinya, dia bakal memeluk erat kesendirian, dan untuk keseribu kalinya, Gianluigi Buffon bakal bertekuk lutut pada amor fati*.

*) Amor Fati secara harfiah berarti "kecintaan pada nasib". Bisa diartikan sebagai kepasrahan atau penyerahan diri pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.