Buat Bobby Geraldo, Tak Ada yang Perlu Dikorbankan antara Basket dan Akademik
·waktu baca 5 menit

Bagaimana jadinya kalau kamu harus fokus pada tiga hal sekaligus? Kuliah, basket bareng tim kampus, plus membela tim nasional. Itulah pertanyaan yang harus dijawab Bobby Geraldo Alanda, sang bintang dari tim basket putra Universitas Surabaya (Ubaya).
Pemuda asal Mojokerto ini bukan pebasket biasa. Di usia yang baru menginjak 22, Bobby sudah mencicipi panggilan Timnas 3x3 saat berkompetisi di luar negeri plus menjadi pemain kunci di tim basket kampusnya sendiri.
Namun, di tengah padatnya jadwal latihan, pertandingan, hingga panggilan membela Tanah Air, dirinya tak pernah meninggalkan pendidikan. Bukan tanpa alasan, Bobby sadar betul bahwa karier atlet punya batas waktu.
"Di basket jenjangnya itu kita nggak tahu sampai kapan masih bisa main. Mungkin di umur 30, atau nanti di umur 35 belum tentu kondisi kita fit kayak sekarang," tutur Bobby saat berbincang dengan kumparan di GOR Universitas Negeri Surabaya, Rabu (29/4).
Jadi aku mikirnya kayak sampai aku bener-bener nggak bisa main lagi, (setidaknya) aku masih ada pegangan ijazah S-1.
Akademik Jadi Prioritas
Bagi banyak mahasiswa yang menyandang status sebagai student-athlete, menyeimbangkan kewajiban akademik dan kegiatan olahraga bukan perkara mudah. Bobby pernah merasakannya di awal masa kuliah.
Saat itu, Bobby hadapi jadwal kompetisi yang beruntun; membela kampus, klub, hingga membela Jawa Timur di POMNas. Akibatnya ia cukup lama meninggalkan kelas. "Awal kuliah langsung bolos hampir tiga sampai empat bulan. Nah, itu ngaruh ke nilai IPK-ku semester awal, langsung jeblok," kata Bobby.
Pengalaman buruk itu lalu jadi pelajaran penting buat Bobby. Pebasket kelahiran 23 Februari 2004 itu tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Perlahan Bobby membenahi prioritasnya. Kini, saat memasuki semester 8, fokusnya bahkan hampir sepenuhnya beralih ke akademik. Tugas skripsi menjadi target utama yang harus segera diselesaikan tanpa mengesampingkan latihan.
"Sekarang lebih longgar sih waktunya, cuma sisa konsultasi (skripsi) sama dosen. Jadi sambil skripsi sambil nambah-nambah latihan sendiri masih bisa kok," ujarnya
"Jadi selama kuliah sih aku nggak ngerasain kalau kuliah itu menghalangi basket gitu. Jadi memang perlu effort dua kali kerja lebih keras lagi. Cuma kalau emang mau nyampe goals-nya kan mau nggak mau (tenaga dan waktu) harus dikorbanin,” kata Bobby soal peran gandanya sebagai student-athlete.
Didukung Penuh Ubaya
Moncernya karier Bobby di basket tentu tak lepas dari peran Universitas Surabaya. Ubaya memberikan beasiswa penuh bagi student-athlete berkat kemampuannya di lapangan.
Wakil Rektor Ubaya, Prof Christina Avanti bilang, kampusnya memang punya program beasiswa bagi student-athlete sejak awal kuliah. Dukungan juga terus berlanjut ketika pemain berkompetisi dengan membiayai semua akomodasi ketika berlaga.
"Kami selalu mendukung (student-athlete), dari mulai masuk kami sudah siapkan beasiswa selama delapan semester penuh sampai mereka lulus. Kemudian kami beri dukungan ketika ada kompetisi, mereka (pemain) tidak ada yang dikeluarkan karena semuanya ditanggung Ubaya," tutur Christina.
Tapi, kehadiran kampus dalam karier Bobby tak berhenti di tunjangan pendidikan saja. Ubaya juga memberi support dalam fleksibilitas akademik. Ketika student-athlete harus meninggalkan kampus untuk berkompetisi, Ubaya akan memberikan kemudahan dalam hal perizinan. Perkara persentase presensi tak pernah jadi masalah.
“Untungnya di Ubaya support banget sama atlet-atletnya, nggak cuma basket tapi semuanya. Jadi kayak izin, terus mau ngobrol sama dosen gitu dapat akses lebih gampang sih. Jadi selama aku pergi walaupun tiga sampai empat bulan, Ubaya kasih izin,” tutur mahasiswa yang mengambil studi Bisnis & Ekonomi itu.
Ambisi Bersama Ubaya
Dukungan penuh kampus itu selalu dibayar tuntas oleh Bobby di lapangan. Yang terbaru, Bobby dkk berhasil menyabet gelar juara di Campus League Basket Season 1 Regional Surabaya.
Dalam partai final yang berlangsung panas, tim Ubaya berhasil menundukkan Universitas Cenderawasih yang selalu memberi kejutan sejak hari pertama. Ubaya menang dengan margin telak 84-48. Kemenangan ini juga makin mengokohkan tim Ubaya sebagai "Raja Basket Kampus" di Jawa Timur.
Kini, setelah gelar juara regional ada di tangan, Bobby masih punya satu misi yang belum tuntas: juara basket antarkampus nasional.
Misi itu hingga saat ini masih jadi angan-angan Bobby selama empat tahun berseragam Ubaya. Selama membela kampusnya, ia sebenarnya sudah dua kali bertarung ke level nasional dan salah satunya sampai ke final. Tapi, upayanya pada kompetisi antarkampus di 2023 itu masih nihil hasil.
Kegagalan itu kini jadi bahan bakar motivasi di tahun terakhirnya bersama Ubaya. "Target jangka pendekku, Campus League Nasional, harus juara di tahun terakhir (kuliahnya)," katanya.
Sudah dua kali gagal. Nggak mau gagal lagi di terakhir kali. Tahun ini bakal kasih 150 persen, bahkan 1000 persen buat juara.
Di tengah tingginya target yang dipasang, Bobby menyadari bila jalan menuju gelar nasional bukan hal yang gampang. Peta persaingan di tingkat nasional teramat ketat, banyak tim daerah yang juga sama kuat.
Alih-alih memikirkan lawan macam Perbanas, UPH, hingga ITHB yang belum pasti, Bobby memilih fokus pada timnya sendiri. Pemain dengan postur 182cm itu akan memaksimalkan setiap potensi dan memastikan semua pemain siap bertarung.
"Di (Campus League) Nasional nanti kita sebagai pemain sudah nggak mikir hal-hal di luar lapangan gitu, tugasnya cuma main. Jadi bisa all out dan ketemu siapa saja kita pasti fight!," tegas Bobby.
Lebih dari itu, bagi Bobby, akhir musim ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah "Last Dance"; kesempatan terakhir sebelum melangkah ke tim profesional. Dan sebelum benar-benar naik level, ia ingin memastikan satu hal: meninggalkan jejak terbaik di lapangan maupun di bangku kuliah.
