kumparan
1 Oktober 2018 17:05

Cara Sapto Yogo Tingkatkan Prestasi: Nekat Adu Balap dengan Atlet Umum

KONTEN SPESIAL, Atlet Asian Para Games 2018, Yogo
Atlet Asian Para Games 2018, Yogo. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Setiap pagi di lapangan Sriwedari Sapto Yogo Purnomo mengencangkan tali sepatunya dan berlari. Pelan-pelan hingga melaju pesat dia lakukan dengan semangat.
ADVERTISEMENT
Keringatnya mengucur, tapi dia terus mencoba. Baginya, kepercayaan yang telah diberikan harus dibayar dengan prestasi.
Sapto mencoba berlari secepat kilat. Sekilas memang dia terlihat baik-baik saja. Bahkan, tampak seperti pelari pada umumnya. Padahal, sedari lahir Sapto mengidap cerebral palsy. Fungsi tangan dan kaki kirinya lebih lemah. Bahkan akan terasa sakit bila terlampau keras ditempa.
Sapto Yogo
Atlet Boccia Sapto Yogo (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Pada segarnya udara Solo, kumparan berkesempatan berbincang dengan pria 20 tahun itu. Mengenakan kaus merah kebanggaannya dia mulai bertutur.
“Tangan, kaki masih terasa sedikit (sakit) yang kanan. Aku kan bagian kanan. Jadi tangan itu total ya enggak total banget tapi kalau kaki sedikit, bagian saraf,” ungkap Sapto.
Kondisi tersebut membuat kakinya lebih lemah dari pelari normal. Oleh sebab itu, sulit baginya untuk menyaingi pelari biasa, meski impiannya untuk mewujudkan itu begitu besar.
ADVERTISEMENT
“Kalau orang normal kan lari biasa saja tapi kalau saya ini ada kerasa kaku-kaku gimana gitu di kaki kanannya,” imbuh dia.
Atlet difabel Indonesia, Sapto Yogo Purnomo
Atlet difabel Indonesia, Sapto Yogo Purnomo. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)
Dengan kondisinya yang demikian, Sapto masih bisa berprestasi. Dia menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara dalam kategori disabilitas pada 2017 lalu. Waktu itu, dia membukukan catatan lari 11, 76 detik.
Raihan Sapto itu akan terus dia perbaiki ke depannya. Dia bertekad memecahkan rekor pribadinya pada gelaran Asian Para Games 2018 nanti. Dalam ajang tersebut, Sapto didaulat menjadi andalan cabang olahraga atletik untuk mendulang emas.
“Insyaallah nanti di Asian Para Games pecah rekor pribadi. Penginnya pecah rekor pribadi,” Sapto berharap.
Walau rasa grogi kadang kala menghantui Sapto menjelang pertandingan, dia mengaku sebisa mungkin menangkis hal itu. Biasanya dengan melihat suasana di sekitar stadion hatinya akan sedikit tenang.
ADVERTISEMENT
Adu balap dengan pelari umum
Untuk menggapai ambisi pribadinya, beragam cara dilakukan Sapto. Salah satu yang giat dia lakukan adalah melatih mental. Bukan bermeditasi atau mencari petuah, Sapto mencari lawan berupa pelari normal untuk diajak beradu.
Tak tanggung-tanggung, pria kelahiran Banyumas itu mencari pelari-pelari terkuat.
“Ya kalau ngikut kan biasanya 30 meteran, speed pendek lah. Ya sering gitu terus. Sampai saya benar-benar bisa nyaingi. Beberapa kali bisa, tapi kalau sudah 30 meter ke atas sulit soalnya keseimbangan tangan mulai berkurang,” cerita Sapto.
Meski pada akhirnya tak bisa menyaingi, Sapto tetap giat mencoba cara itu. Menurutnya, cara itu lumayan ampuh membentuk mentalnya dan malah membuat semangatnya menggebu-gebu.
ADVERTISEMENT
“Jangan sampai ngeluh pas latihan. Terus aja ngikutin latihan program, terus berdoa untuk yang lebih baik lah,” kata Sapto yang kelak ingin melanjutkan pendidikan di tingkat kuliah.
Akan tetapi, ada kalanya rasa jenuh juga melanda Sapto di tengah upaya serius mencetak rekor lari. Tapi dia punya sejuta cara untuk meredamnya, mulai dari berbelanja, hingga jalan-jalan ke tempat yang membuat hatinya riang.
Video
Terlepas dari perjuangan Sapto, dia mengaku akan terus berlari untuk Indonesia. Tak peduli usianya berapa nanti, asal dia masih mampu berdiri, dia akan berjuang demi kibarkan Merah Putih di tiang tertinggi.
Untuk saat ini, Sapto tengah bersiap berjuang menghadapi Asian Para Games 2018 yang akan digelar pada 6-13 Oktober mendatang. Banyaknya dukungan dari masyarakat Indonesia adalah hal yang dia harapkan. Riuhnya dukungan sangat memungkinkan mengantarnya meraih podium juara.
ADVERTISEMENT
“Dukung dan doakan atlet-atlet Pelatnas Asian Para Games untuk mengikut Asian Para Games ini supaya diberi kemudahan dan mencapai yang terbaik,” pungkas Sapto.
kumparan akan menyajikan story soal atlet-atlet penyandang disabilitas kebanggaan Indonesia dan hal-hal terkait Asian Para Games 2018 selama 10 hari penuh, dari Kamis (27/9) hingga Sabtu (6/10). Saksikan selengkapnya konten spesial dalam topik ‘Para Penembus Batas’.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan