Cerita 2 Atlet Hoki RI Main di Jerman: Bantu Tim Promosi, Main Tanpa Bayaran
ยทwaktu baca 3 menit

Dua atlet hoki Indonesia, Adi Darmawan Leksono dan Muhamad Alfiana, sempat membela klub Divisi 3 Liga Jerman bernama Bremer HC pada Januari hingga Februari 2026 lalu. Di sana, mereka tak cuma mengenyam pengalaman, tetapi juga membuat sejarah, walau nyatanya tak mendapat bayaran.
Adi dan Alfiana bisa bermain di sana atas rekomendasi pelatih Timnas Hoki Indonesia, Dharma Raj. Pria asal Malaysia itu mengenal pelatih Bremer HC dan meyakini bahwa dua pemainnya mampu bersaing di Jerman.
"Jadi Coach Dharma merekomendasikan kami bermain di Liga Jerman walaupun di Liga 3 Bundesliga," terang Adi kepada kumparan, Selasa (31/3).
"Sebelum saya bermain di Jerman, kami tim hoki indoor itu TC di sana, kami berlatih selama sebulan di Eropa di Spanyol dan Jerman. Walaupun [kami] bertumbuh kecil pendek, tinggi mereka [pemain Eropa] kayak monster-monsterlah ya, kami secara speed dan agility bisa menyaingi mereka," tambahnya.
Adi dan Alfiana memperkuat Bremer HC selama satu bulan lebih seminggu. Mereka berkontribusi membantu klub itu promosi ke Divisi 2 Jerman.
"Ketika tiga pertandingan terakhir kan menentukan kami promosi atau enggaknya. Dan kebetulan mainnya kami home waktu itu. Jadi saya kan hanya ikut sekitar 6 game lah dan baru di tim itu. Tapi yang saya rasakan kayak sudah lama aja ada di situ," tutur Alfiana saat diwawancarai terpisah oleh kumparan.
"Jadi euforia ketika peluit panjang berakhir itu kita semuanya selebrasi termasuk para fans dari Bremer sendiri ikut senang gitu. Yang saya rasakan waktu kemarin [saat meraih emas] SEA Games itu kayak terulang lagi di Bremer," tambahnya.
Pada intinya, Adi dan Alfiana merasakan kekeluargaan yang amat erat di Jerman. Fakta mereka seorang muslim juga tidak menjadi masalah.
"Enggak ada rasis, alhamdulillah semuanya aman. Karena pelatih juga kalau kita selalu bilang, 'Insyaallah' dia [pelatih Bremer]] selalu ngikutin 'Insyaallah'. Kalau misalkan kita suka chatting atau telepon dia bilang 'Insyaallah' padahal dia non-muslim," ucap Alfiana.
"Mereka toleransi sekali, mereka mengerti walaupun kami muslim, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan ke kami. Waktu itu kami ditawari minum minuman alkohol pun kami bilang kami tidak minum minuman itu jadi mereka paham karena kami muslim," beber Adi.
Namun, karena Bremer adalah klub yang tidak berstatus profesional, mereka tidak bisa memberi bayaran. Jadilah, mereka harus mengandalkan dana pribadi untuk tinggal di sana, bahkan dari uang bonus yang mereka dapat dari hadiah emas SEA Games 2023 dan 2025.
Dari PP FHI (Pengurus Persatuan Federasi Hoki Indonesia) hanya menyediakan tiket pesawat. Sementara, Bremer cuma memberikan penginapan hingga konsumsi di satu minggu pertama.
Lantas, kenapa mereka mau jauh-jauh ke Jerman tanpa bayaran?
"Jujur kenapa mau, satu karena saya pengin meningkat ya, enggak cuma bermain di SEA Games, enggak cuma bermain di tingkat Asia, tapi kualitas saya harus lebih dari pemain-pemain di sana, target target saya pun untuk mencapai pemain level top dunia. Barometer kami orang-orang Eropa untuk hoki indoor," jelas Adi.
"Untuk usia, saya sekarang jalan 27 tahun. Kemudian untuk target ke depannya satu untuk hoki Indonesia masih bermain SEA Games entah itu empat kali ataupun tiga kali lagi, dan target yang paling besar bermain di World Cup sih, kami bisa membawa hoki Indonesia ke ajang World Cup," tegas Adi.
Sementara, Alfiana tak jauh berbeda. Baginya, hoki adalah caranya untuk melanglang buana, mengenyam banyak pengalaman hidup berharga, dan memberi inspirasi bagi orang banyak.
"Mungkin balik lagi lebih ke rasa bangga aja karena mungkin sedikit banyak juga menginspirasi teman-teman atlet yang baru belajar, terus mungkin yang sedang berproses mau masuk ke tim Jabar, ke tim provinsi lainnya, ataupun mau masuk ke Timnas gitu kan. Jadi lebih ke rasa kebanggaan aja," terang Alfiana.
