Cerita Agus Miming: Lihat Bakat Christo Popov dari Kecil, Prihatin Regenerasi RI

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Agus Miming, eks pemain dan pelatih bulu tangkis asal Indonesia di Prancis. Foto: Agus Miming
zoom-in-whitePerbesar
Agus Miming, eks pemain dan pelatih bulu tangkis asal Indonesia di Prancis. Foto: Agus Miming

Christo Popov, Toma Junior Popov, hingga Alex Lanier menjadi contoh pebulu tangkis hebat yang dimiliki Prancis saat ini. Mereka masing-masing mampu mengalahkan pebulu tangkis hebat Indonesia di Piala Thomas lalu.

Publik boleh jadi kaget melihat mereka bisa mengalahkan Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Alwi Farhan. Namun bagi Agus Miming, ia sudah memprediksi kematangan para pemain Prancis itu, terutama Christo, yang menurutnya akan jadi pemain hebat dalam jangka panjang.

Agus Miming adalah pelatih dan eks pebulu tangkis profesional asal Purwokerto. Saat masih muda, ia pernah berkarier di Indonesia, lalu sempat berhenti pada usia 16 tahun.

Pada 2003, Agus memutuskan kembali bermain dan hijrah ke Jerman untuk menjadi pemain profesional, lanjut ke Belanda, hingga akhirnya menetap di Prancis untuk bermain di liga sekaligus melatih beberapa klub. Pria asal Purwokerto itu sudah tinggal di Prancis sejak 2005 itu mengaku telah melihat perkembangan Christo sejak kecil.

Tunggal putra Prancis Christo Popov usai mengalahkan wakil China Shi Yuqi pada final tunggal putra BWF Badminton World Tour Finals di Gimnasium Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou di Hangzhou, provinsi Zhejiang, China, pada 21 Desember 2025. Foto: JADE GAO / AFP

"Si Popov itu enggak suka dengan sistemnya federasi sini. Jadi dia tuh profesional. Jadi klubnya dia tuh support seratus persen. Itu latihan sampai dia ada pelatih fisik, ada sports science-nya, ada semua, kayak untuk makanan tuh ada semua buat dia. Itu di-support sama kotanya dia, di selatannya Paris. Jadi dia tuh latihan sendiri. Kalau ngomongin motivasi, sudah jangan tanya. Saya tahu Christo Popov tuh dari dia kecil," kenang Agus kepada kumparan.

"Pagi-pagi dia latihan, lalu ke sekolah, dari sekolah kan dia cuma dapat waktu istirahat dari jam dua belas sampai setengah dua. Itu latihan dia. Latihan dari jam dua belas sampai jam satu, terus makan pakai sandwich gitu, berangkat lagi. Itu memang motivasinya mereka," tambahnya.

Agus enggak pernah berhadapan atau melatihnya langsung, tetapi telah memperhatikan potensinya sejak kecil. Saat masih menjadi pemain di klub Prancis, Agus pernah menghadapi keluarga Popov. Ia mengaku pernah melawan ayah, paman, hingga Toma Popov.

Agus memprediksi Christo bisa jadi pemain berbahaya dan itu terbukti. Christo kini mampu bersaing dengan jagoan-jagoan Asia, bahkan menjuarai BWF World Tour Finals 2025.

Christo Popov dari Prancis beraksi pada pertandingan perempat final melawan Jonatan Christie dari Indonesia pada pertandingan India Open 2026 di Stadion Indoor Indira Gandhi, New Delhi, India (14/1/2026). Foto: Anushree Fadnavis/REUTERS

"Saya sama papanya, sama pamannya dia tuh sering main, [saling] ngelawan gitu. Nah, sama Toma Popov, waktu masih junior, saya sering main, ngelawan gitu. Karena klubnya dia kan kita main liga. Kita main liga. Jadi sering ketemu kan, gitu," kisahnya.

"Itu Christo tuh masih kecil Pak, masih umur 6 tahun, 7 tahun, udah dibawa-bawa ke lapang. Waktu Christo Popov umur 16, 17, saya bilang, 'Ini anak ini bakalan jadi [hebat]'. Jadi pola mainnya tuh udah beda banget. Cuma, ya kan, karena dia belum kuat kakinya, makanya orang kan bilang, 'Oh, Alex Lanier gini-gini', Alex Lanier memang bagus tapi kalau untuk jangka panjang ya, Christo Popov itu lebih bahaya," tambahnya.

Meski sudah lama di Prancis, Agus Miming tetap merasa Indonesia tetaplah kiblat bulu tangkis. Ia meyakini lebih banyak lagi pemain berbakat di Indonesia, dibanding Prancis yang terbatas. Namun, ia merasa regenerasi yang dilakukan PBSI kurang efektif.

Pada Piala Thomas lalu, Alwi Farhan kalah dari Alex Lanier. Sama-sama berusia 21 tahun, tunggal putra Prancis itu dinilai lebih matang dari segi permainan dan mental.

Tunggal putra Prancis Alex Lanier. Foto: CN-STR / AFP

"Kalau kita mau ngomong regenerasi, Indonesia sudah ketinggalan jauh. Kita bandingin head-to-head aja. Alwi sama Alex Lanier, itu satu angkatan. Alex Lanier kematangannya udah di angka 9-10, Alwi masih di angka 6. Mau ngejarnya sampai kapan? Nanti dia mau ngejar, nanti keluar lagi yang mudanya lagi," ucapnya.

"Kalau ngomong stok di sini [Prancis] malah stoknya sedikit. Tapi kalau menurut saya di sini tuh lebih berani. Maksudnya mungkin karena stoknya nggak banyak, jadi ya dikasihnya itu-itu aja terus gitu loh, gitu. Diikutin lagi, diikutin lagi, diikutin lagi [banyak turnamen]. Lama-lama jateng sendiri. Lihat China, Jepang, Korea kan kayak gitu semua, Thailand," sambungnya.

Itu baru satu hal. Agus Miming juga melihat bagaimana penerapan sports science di Indonesia. Ia merasa PBSI seharusnya mampu meningkatkan sports science dengan lebih baik lagi.

PBSI idealnya memiliki sports science yang lebih mumpuni guna menjaga regenerasi pemain Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia gak terputus. Agus berharap PBSI enggak malu untuk belajar ke negara lain.

Tim Indonesia tengah Training Center untuk Thomas dan Uber Cup. Foto: Dok. PBSI

"Kalau menurut saya, itu yang paling PR-nya Indonesia untuk saat ini. Ya okelah secara sports science sebenarnya kita bisa. Enggak usah malulah. Kalau saya pribadi tuh Indonesia mungkin ya, mungkin saya salah, masih terlalu jaga gengsi Karena Indonesia tuh kiblat bulu tangkis. Saya akui Indonesia tuh kiblat bulu tangkis. Tapi enggak semuanya kita pintar, tuh, enggak. Kita selalu bagus, tuh, enggak," bebernya.

"Kalau saya pribadi saya ngelatih di sini, saya belajar sama teman-teman. Saya nggak malu nanya saya nggak malu gitu. Maksudnya lihat negara-negara lain, kenapa bisa maju. Kita harus mau belajar juga, buka hati, buka telinga, buka mata, 'Oh, di sana tuh bagus. Kenapa kita nggak bisa terapin?' Karena belum tentu yang diterapin bagus di Indonesia jadi bagus. Belum tentu juga. Di Prancis bagus, di Indonesia juga belum tentu bagus. Ya kita ambillah semua bangsa tuh semua negara tuh ada kulturnya yang kita bisa ambil," imbuhnya.