Cerita Miris 5 Mantan Atlet Indonesia yang Pernah Berjaya

kumparanSPORTverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para atlet dan staf cabor wushu. (Foto: Istimewa.)
zoom-in-whitePerbesar
Para atlet dan staf cabor wushu. (Foto: Istimewa.)

Nama Eki Febri Ekawati mencuat ke permukaan. Bukan hanya karena prestasinya yang berhasil meraih emas di cabang olahraga tolak peluru pada SEA Games 2017, tetapi juga karena curhatannya di media sosial.

Eki meluapkan kekecewaannya terhadap pemerintah terkait uang akomodasi yang belum dibayarkan sejak masa pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Januari lalu hingga berakhirnya ajang SEA Games 2017 bulan Agustus.

instagram embed

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) lantas segera merespons keluhan Eki. Menpora Imam Nahrawi berjanji akan segera menindaklanjuti permasalahan ini.

instagram embed

Kisah pilu Eki mau tak mau membuka lagi goresa lama tentang kehidupan para atlet di Indonesia. Apakah atlet sudah terjamin kehidupannya? Bagaimana dengan nasib atlet selepas pensiun? Pertanyaan itu mungkin jadi yang paling sering terlintas di benak para calon atlet di Indonesia.

Pemerintah memang sudah mencanangkan program untuk menjamin hari tua atlet, tetapi setidaknya nama-nama di bawah ini pernah merasakan getirnya kehidupan mereka usai membela panji Indonesia di dunia olahraga, seperti yang dirangkum kumparan (kumparan.com) dari berbagai sumber.

1. Ellyas Pical

Ellyas Pical (Foto: Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Ellyas Pical (Foto: Antara)

Ellyas Pical adalah petinju terbaik Indonesia di era 1980-an. Dirinya merebut gelar juara dunia IBF kelas bantam yunior usai mengalahkan petinju Korea Ju Do Chun pada 1985. Petinju kelahiran Saparua, Maluku, 24 Maret 1960 ini berhasil mempertahankan gelarnya, hingga akhirnya harus sabuk juara harus berpindah ke Juan Polo Perez dari Kolombia pada 1989. Kekalahan ini secara perlahan membawa Pical mulai menjauh dari ring tinju hingga memutuskan pensiun.

Usai pensiun, kehidupan Pical mengalami fase naik turun. Segala ingar-bingar popularitasnya saat menjadi atlet tinju seperti tak berbekas. Dirinya sempat menjadi petugas keamanan di sebuah tempat hiburan malam. Pada tahun 2005 Pical bahkan harus mendekam di penjara karena kasus narkoba.

Pemerintah ketika itu sempat menjadi sorotan karena dianggap kurang memperhatikan masa tua atlet berprestasi. Pical pun diberi pekerjaan di Kementerian Pemuda Olahraga.

Lama tak terdengar, Februari 2017 nama Pical kembali menghangat saat dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung. Kali ini biaya perawatan petinju bertubuh gempal itu disebut-sebut ditanggung oleh Pemerintah.

2. Marina Segedi

Marina Segedi (Foto: twitter.com/sahabatkartini)
zoom-in-whitePerbesar
Marina Segedi (Foto: twitter.com/sahabatkartini)

Marina adalah atlet pencak silat beprestasi. Dia meraih medali emas di ajang SEA Games 1981 di FIlipina. Usai berhasil membawa nama Indonesia ke podium utama, kehidupan Marina bisa dibilang pas-pasan.

Marina menjalani masa pensiun dengan tinggal bersama orang tua karena tidak memiliki rumah. Dia juga sempat bekerja sebagai supir taksi untuk menyambung hidup.

Nasib baik masih menghampirinya saat Marina bertemu seorang pegawai Kemenpora pada 2011. Marina diberitahu bila atlet yang berprestasi bisa mendapat tunjangan dari pemerintah.

Akhirnya Marina bisa menikmati masa tua saat diberikan tunjangan tempat tinggal dari Kemenpora setelah menunjukan sederet bukti prestasinya.

3. Tati Sumirah

Tati Sumirah (Foto: Instagram.com/adhubelz)
zoom-in-whitePerbesar
Tati Sumirah (Foto: Instagram.com/adhubelz)

Tati Sumirah adalah srikandi bulu tangkis Indonesia. Pada tahun 1975, ia mengantarkan tim bulu tangkis putri menjuarai piala Uber untuk pertama kali. Di ajang domestik PON, Tati juga seringkali menyabet emas.

Tati kemudian memutuskan gantung raket di tahun 1981. Usai pensiun, dunia yang dijalani Tati jauh berbeda dengan bulu tangkis. Selama berpuluh tahun dirinya bekerja sebagai seorang kasir di sebuah apotek.

Berkat kebaikan hati rekan sejawatnya yang juga legenda bulu tangkis Indonesia, Rudi Hartono, Tati Sumirah diberi pekerjaan di perusahaan oli miliknya.

4. Ramang

Ramang (Foto: Wikipedia)
zoom-in-whitePerbesar
Ramang (Foto: Wikipedia)

Ramang adalah salah satu legenda terbesar sepak bola Indonesia jauh sebelum nama Ronny Pattinasarani, Iswadi Idris, Anjas Asmara ataupun Ronny Pasla berkibar. Pria asal Makassar ini membela PSM Makassar yang waktu itu masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) pada 1947. Era 1950-an bisa dibilang menjadi periode keemasannya.

Bersama tim nasional Indonesia, Ramang berhasil menyapu kemenangan di berbagai pertandingan di Asia, seperti Thailand, Hongkong, Malaysia dan Filipina. Penyerang andalan dari PSM Makassar ini dikenal lincah dan haus gol. Bersama rekan sejawatnya seperti Maulwi Saelan dan Aang Witarsa, mereka hampir membawa Indonesia ke Piala Dunia 1958 di Swedia, bila saat itu timnas Indonesia tidak menolak bertanding melawan Israel di kualifikasi piala dunia.

Usai pensiun, Ramang mencoba peruntungan sebagai pelatih. Namun karena terhalang sertifikat kepelatihan, kariernya sebagai pelatih sepakbola ternyata tak secemerlang kala ia menjadi atlet.

Hari tua Ramang dijalani secara sederhana. Pada tahun 1981, dia menderita sakit paru-paru selama enam tahun tanpa bisa berobat karena kekurangan biaya. Hingga akhirnya Ramang tutup usia pada 1987 dan jauh dari ingar-bingar pemberitaan.

5. Suharto

Suharto, mantan atlet balap sepeda (Foto: Youtube.com : news terkini)
zoom-in-whitePerbesar
Suharto, mantan atlet balap sepeda (Foto: Youtube.com : news terkini)

Suharto pernah berjaya pada 1970-an. Atlet balap sepeda ini pernah menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Tepatnya pada ajang SEA Games 1979 di Kuala Lumpur, Malaysia, Suharto mempersembahkan medali emas. Dua tahun sebelumnya di ajang yang sama di Thailand, dirinya juga berhasil merebut medali perak.

Prestasi itu tidak sejalan lurus dengan kehidupannya di usia senja. Selepas pensiun, Suharto harus menyambung hidup dengan bekerja sebagai penarik becak. Dia juga hanya tinggal di sebuah kamar kos kecil di wilayah Surabaya. Hasilnya dari menarik becak terbilang pas-pasan untuk menghidupi keluarganya.

Sebelum menarik becak, beragam pekerjaan pernah dijalani oleh Suharto, seperti berjualan ayam hingga menjadi kernet angkutan kota (Angkot). Penghasilan yang tak seberapa itu pun yang kemudian membuat Suharto beberapa kali harus berpindah tempat tinggal.

Pada pertengahan tahun 2016, Pemerintah Kota Surabaya menawarkan Suharto untuk tinggal di tempat yang lebih layak, yaitu di rumah susun Romokalisari, Benowo, Surabaya.