Cerita Orang Tua Dukung Safira Dwi Meilani Jadi Pesilat hingga Banjir Prestasi

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ibunda Safira, Kholifah menunjukkan medali yang pernah diraih Safira Dwi Meilani sebagai atlet pencak silat. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ibunda Safira, Kholifah menunjukkan medali yang pernah diraih Safira Dwi Meilani sebagai atlet pencak silat. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Safira Dwi Meilani kembali mengharumkan nama Indonesia lewat prestasi meraih medali emas di Belgium Open 2026 - International Championship. Prestasi ini tak cuma membanggakan negara, tetapi juga keluarganya.

kumparan berkesempatan menemui ibu dari Safira, Kholifah, di kediamannya yang berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di ruang tamu rumah Safira terpasang berbagai medali, piala, dan piagam yang diperoleh dari berbagai kejuaraan pencak silat.

Kholifah mengatakan, putrinya merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Safira memiliki kakak laki-laki dan adik laki-laki.

Kholifah mengaku sudah mendengar kabar putrinya meraih medali emas di Belgia Open 2026. Safira yang memberi kabar tersebut. Dirinya mengaku bersyukur putrinya mampu membawa medali emas untuk tim pencak silat Indonesia.

Ibunda Safira, Kholifah menunjukkan piala yang pernah diraih Safira Dwi Meilani sebagai atlet pencak silat. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

"Alhamdulillah bersyukur bisa meraih medali emas lagi. Saya melihat perjuangan Safira memang luar biasa, meski beberapa kali mengalami cedera, dia itu tetap optimistis kalau mau tanding inginnya dapat medali emas," kata wanita berusia 50 tahun ini kepada kumparan, Senin (27/4).

Di mata ibunya, Safira merupakan sosok yang baik, sopan, pendiam dan menaati perintah orangtuanya. Selain itu rajin berlatih dan semangat setiap hendak mengikuti pertandingan.

"Anaknya optimistis dan merasa pasti bisa gitu. Kalau di rumah ya latihan pagi sore di teras rumah, latihan skipping," sambungnya.

Setiap akan ada pertandingan, Safira selalu menyempatkan untuk pulang. Hal itu dilakukannya untuk meminta doa restu kepada ayah dan ibunya.

Pesilat asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Safira Dwi Meilani meraih medali emas di Belgia Open 2026. Foto: Dok. Safira Dwi Meilani

"Safira kalau ada waktu pulang menjelang pertandingan, dia pasti pulang minta doa restu dan pamit mau tanding. Biasanya di rumah tiga hari, kadang seminggu. Kalau setelah tanding biasanya video call memberi kabar dapat medali," terangnya.

Menurutnya, anak keduanya itu tidak pernah neko-neko. Terutama soal makanan. Safira paling doyan makan tempe, telur asin dan ikan lele. Kholifah menyampaikan, Safira juga menjaga pola makan sebagai seorang atlet.

"Kan kadang ada aturan ya tidak boleh makan ini itu sebagai atlet. Ya dia menjalankan. Kalaupun dia pengin banget itu paling ambil sedikit," ujarnya.

Kholifah menjelaskan, Safira menekuni pencak silat saat duduk di bangku SMP pada 2014. Kala itu di SMP 1 Jati, Safira mengikuti ekstrakurikuler pencak silat.

Deretan piagam milik Safira Dwi Meilani sebagai atlet pencak silat. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

"Setiap ada pertandingan tingkat SMP dia diikutkan lomba pencak silat dan alhamdulillah bisa meraih prestasi. Kemudian berlanjut ke SMA 7 Semarang juga masih menekuni pencak silat sampai sekarang ini," terangnya.

Kekhawatiran saat Safira terjun sebagai atlet pencak silat selalu terlintas di benaknya. Terlebih, Safira merupakan anak perempuan. Ditambah lagi cabang olahraga pencak silat identik dengan kegiatan fisik dan rentan cedera.

"Khawatir pasti, saya sudah meminta agar Safira pilih olahraga lain. Tetapi anaknya ingin di pencak silat. Akhirnya kami sebagai orang tua ya mendukung saja. Walaupun memang sering lihat Safira cedera ankle, bahu, dan tangan," ungkapnya.

Kini, Safira telah membuktikan mampu meraih prestasi di bidang pencak silat. Ia mengaku bangga dan bersyukur atas pencapaian anaknya. Ia selalu mendoakan agar Safira beserta kakak adiknya menjadi orang yang sukses.

Deretan medali dan piala milik Safira Dwi Meilani sebagai atlet pencak silat. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Pencapaian Safira meraih prestasi di bidang pencak silat diakui oleh Kholifah membantu perekonomian keluarganya. Kholifah sehari-hari bekerja sebagai penjahit. Sementara ayah Safira, Sugiyanto (53 tahun), bekerja sebagai tukang bangunan.

"Setiap Safira dapat bonus dari kejuaraan pencak silat, dia selalu peduli dengan keluarganya. Rumah ini yang merenovasi juga Safira," ungkapnya.

Selain itu, Safira juga membelikan keluarganya sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari. Safira juga membeli sebidang tanah untuk investasi masa depan. Sisanya, jerih payah hasil menjadi atlet ditabung untuk masa depan.

"Saya juga dibelikan sepeda motor. Ya intinya alhamdulillah Safira sangat membantu perekonomian keluarga," imbuhnya.

Sebagai orang tua, ia dan suaminya selalu mendoakan anak-anaknya. Ia berharap Safira semakin sukses ke depannya.

"Semoga selalu sukses dunia dan akhirat," imbuhnya.

Reporter: Vega M. Ula