Chris Froome Jadi Kampiun Tour de France untuk Keempat Kalinya

21 etape sudah dilalui dalam 23 hari dan Senin (24/7) dini hari WIB ini, Tour de France edisi 2017 sudah resmi berakhir. Pada ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia ini, pebalap Inggris dari Team SKY, Chris Froome, sukses menjadi juara di nomor individual.
Bagi Froome, ini adalah gelar Tour de France keempat di sepanjang kariernya. Meski tidak menjadi juara di etape penghabisan, dia tetap unggul atas pesaing terdekatnya, Rigoberto Uran (Cannondale-Drapac) dari Kolombia. Selisih waktu antara kedua pebalap ini adalah 54 detik saja.
Keberhasilan Froome untuk keempat kalinya ini pun makin menegaskan dominasinya di dunia balap sepeda. Pasalnya, dalam lima tahun terakhir, hanya pada 2014 saja Froome gagal menjadi juara Tour de France. Ketika itu, Vincenzo Nibali dari Italia yang sukses menjadi kampiun.

Tour de France 2017 ini sendiri mengambil lokasi start di Duesseldorf, Jerman, dan berakhir di Paris, Prancis. Selain Jerman dan Prancis, ada dua negara lain yang disinggahi para pebalap dalam gelaran tahun ini, yakni Belgia dan Luksemburg.
Ada empat jenis balapan yang harus dijalani para pebalap, yakni sembilan balapan di area datar (flat stages), lima balapan di area berbukit (hilly stages), lima balapan di pegunungan (mountain stages), dan dua individual time trials yang digelar di etape pertama serta etape ke-20. Total, jarak yang ditempuh para pebalap adalah 3.540 km.
Pada etape pertama, ada 198 pebalap dari 22 tim yang turut serta dalam balapan. Namun, setelah 23 hari, pebalap yang tersisa di etape terakhir tinggal 167 orang. Dari keseluruhan etape itu, tak sekali pun Chris Froome menjadi juara meski dia secara konsisten mampu finis di papan atas hingga akhirnya sukses menjadi juara.

Sementara itu, raja tanjakan di Tour de France kali ini jatuh ke tangan pebalap Prancis, Warren Barguil (Team Sunweb). Selain kaus polkadot itu, Barguil juga berhak atas kaus merah sebagai pebalap paling combative. Kemudian, pada etape ke-13 dari Saint-Girons ke Foix, pria 25 tahun ini sukses pula menjadi juara.
Adapun, rekan setim Barguil, Michael Matthews dari Australia sukses mengamankan kaus hijau untuk kategori Best Sprinter. Selama Tour de France, Matthews sukses memenangi dua etape yakni ke-14 dari Blagnac ke Rodez serta etape ke-16 dari Le Puy-en-Velay ke Romans-sur-Isere.
Selanjutnya, pada Tour de France kali ini, Simon Yates (Inggris) yang memperkuat tim Australia, Orica-Scott, sukses menjadi pebalap muda terbaik. Untuk Tour de France, kaus putih ini diberikan kepada pebalap di bawah 26 tahun yang memiliki peringkat terbaik di klasemen individual.

Terakhir, Team SKY yang diperkuat Froome pun berhak menjadi tim terbaik pada gelaran Tour de France kali ini. Tak mengherankan, memang, mengingat mereka adalah satu-satunya tim yang punya dua pebalap di sepuluh besar. Selain Froome, mereka juga sukses menempatkan Mikel Landa (Spanyol) di sana.
Tour de France ini memang bukan ajang main-main. Selama lebih dari tiga pekan, para pebalap sepeda terbaik dunia harus beradu cepat di sini. Froome sendiri, meski sudah empat kali menjadi juara, masih mengakui bahwa balapan ini sama sekali tidak mudah.
"Kami tidak bisa langsung menggebrak di satu etape karena balapan ini berlangsung tiga pekan. Pokoknya, di setiap etape yang harus kami lakukan adalah memastikan bahwa kami tidak kehilangan banyak waktu," tutur Froome seperti dilansir The Guardian.
"Kami melakukan semua dengan cara yang paling konservatif dan paling efisien. Bagi kami, begitulah yang namanya balapan di Grand Tour*," tutupnya.
*) Grand Tour adalah sebutan bagi tiga ajang balap sepeda terbesar di Eropa. Selain Tour de France, ada pula Giro d'Italia dan Vuelta a España.
