Dari Jogja, Alfa Kusumanegara Bawa Basket Papua Bersinar di Level Nasional

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alfa Hari Kusumanegara, pelatih basket putra Universitas Cenderawasih di Campus League Basketball. Foto: Aji Nugrahanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Alfa Hari Kusumanegara, pelatih basket putra Universitas Cenderawasih di Campus League Basketball. Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Tim basket putra Universitas Cenderawasih (Uncen) berhasil memberi warna berbeda di Campus League The Nationals 2026 kemarin. Kendati gagal lolos fase knock out, kampus yang berdomisili di Jayapura itu sukses menunjukkan permainan atraktif selama babak grup berlangsung.

Ada sosok yang punya jasa besar di balik dinamisnya permainan Uncen di Campus League. Sosok itu tak lain tak bukan adalah Alfa Hari Kusumanegara. Datang dari Yogyakarta, pria yang akrab disapa Coach Alfa ini sukses mengubah banyak hal di Uncen, tak cuma basket tapi juga kultur para pemain di daerahnya.

Namun, perjalanan Coach Alfa tak selalu berjalan mulus. Saat membangun tim, ia dan para pemain harus menghadapi berbagai tantangan dari minimnya fasilitas latihan hingga perjuangannya menjauhkan alkohol dari pemain.

Kepada Campus Sport Indonesia, Kamis (25/6), pria yang pernah menangani Timnas Basket Putri U-18 itu juga bercerita soal awal mula kariernya di kepelatihan basket hingga cerita bisa melatih tim di Jayapura.

Coach, ceritakan awal mula berkarier di dunia basket hingga menjadi pelatih.

Pada awalnya saya main basket itu dari saya SMP, di SMP 5 Yogyakarta. Terus saya ke SMA Muhammadiyah 1 Jogja, langsung saya lanjut ke UGM, waktu jalur atlet di UGM, saya masuk di UGM Teknologi Pertanian (TP) tahun 2002. Main di Liga Basket Mahasiswa Nasional. Terus di tahun 2006 saya memutuskan untuk jadi pelatih. Saya melatih dari fakultas dulu, dari TP, saya habis itu melatih di Kedokteran UII, terus melatih di Hukum UII, terus ke UII, melatih di UGM, terus sampai melatih di Uncen.

Saya jadi pelatih basket karena itu passion saya gitu. Saya keluarga saya tuh rata-rata pengajar, ya kalau enggak dosen, ya guru musik. Makanya saya juga pengin ngajar juga nih. Ngajar apa nih? Oh ternyata saya suka basket, ya sudah saya ngajar di basket. Ternyata ilmu di basket tuh begitu dalam dan sampai hari ini saya fun dengan mengajar basket.

Kabarnya pernah menimba ilmu basket di Amerika Serikat?

Saya pergi tahun 2023 habis COVID, saya pergi ke Michigan University, saya lihat program latihan di sana gimana, berjalan bagaimana, dan saya sempat pergi ke Chicago juga untuk belajar basket di sana tentang bagaimana kita menggunakan teknik basket yang benar, dari biomekaniknya, dari bergeraknya, supaya lebih baik.

Bagaimana ceritanya dari Jogja bisa melatih tim basket di Jayapura?

Jadi saya pulang dari Amerika, terus saya cari tempat untuk riset. Saya sebenarnya sudah nawarin banyak ke orang, tapi enggak mau. Ya sudah teman saya dari Papua Coach Hengki mau, kita ke Papua kita riset dari nol tuh 2023.

Kita ikut Pomnas di Padang, ya kita kalah. Terus kita mulai bentuk lagi tahun 2024. Nah di 2024 itu kita sudah mulai dapat tuh, ternyata anak-anak Papua ini dengan latihan yang proper, teknik yang proper, kita bisa compete di nasional.

Pelatih Tim Universitas Cenderawasih, Alfa Hari Kusumanegara. Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Selama tiga tahun melatih, Coach Alfa merancang banyak hal di tim basket Universitas Cenderawasih. Mulai dari periodisasi latihan yang terstruktur hingga teknik basket bagi para pemainnya.

Namun, di tengah banyaknya PR yang harus dituntaskan, Alfa menemui banyak kendala utamanya soal fasilitas latihan yang cukup minim di Papua. Kendati demikian, ia memaksimalkan kemampuan individual pemain agar bisa bersaing di kompetisi yang diikuti.

Apa yang menjadi pembeda dan keunggulan pemain Universitas Cenderawasih?

Sebenarnya sama aja dengan orang di Jawa, ya orang bilang gennya gimana-gimana, sebenarnya semua tentang latihan sih. Bagaimana kita rancang latihan, periodisasi yang kita buat, mau pakai cara bagaimana, tipe yang gimana, ya sebenarnya bisa aja tergantung pintar-pintarnya kita untuk bikin mereka jadi kuat.

Nah kelebihannya dari mereka sendiri adalah mereka fokus. Enggak ada distraksi, minuman enggak ada, kita batasi minuman, karena waktu itu Hengki juga sudah sepakat untuk kita enggak ada yang boleh minum. Cewek-cewekan kita potong dulu deh. Ya sudah mereka fokus kuliah, fokus di basket. Semua orang juga bisa lakuin hal yang sama kok.

Kita agresif, semangat juang kita tinggi kita tanamkan semangat juang yang tinggi ke anak-anak, kita bilang, “Oh kalau kita tuh enggak ada semangat juang yang tinggi kita enggak bisa bermain agresif kita enggak akan bisa ngalahin mereka.”

Jadi ya itu yang selalu kita tanam ke mereka sehingga sampai sekarang pun ya mereka lakukan itu gitu loh. Karena kita tingginya ya tahu sendiri rata-rata 175 gitu. Main basket 175 wah pendek-pendek enggak bisa ngapa-ngapain kan. Ya semangat sama agresivitas kita yang bisa buat kita menang melangkah sejauh ini.

Selama tiga tahun melatih, apa tantangan terbesarnya di Uncen?

Tantangan melatih di Uncen yang paling besar tuh lebih ke arah fasilitas sih. Kakak bisa tahu di Uncen tuh kita latihannya enggak jauh beda sama Mulawarman ya, lapangan di outdoor, kalau hujan ya berhenti. Tempat gym kita baru dapat akhir-akhir gitu. Banyak tantangannya, belum kita bola kadang enggak ada gitu kan.

Selama tiga tahun, prestasi apa saja yang berhasil dipersembahkan untuk Uncen?

Kita ada di Liga Mahasiswa dari divisi dua, kita juara satu divisi dua. Kita ngalahin salah satu tim dengan kandidat kuat waktu itu Udayana, ada pemain IBL-nya dan beberapa teman-teman dari IBL Bali United. Terus kita di Liga Mahasiswa divisi satu region Surabaya, kita final, masuk nasional tapi sayangnya enggak ada nasionalnya.

Ya paling epic ya kita di Campus League ini nembus nasional, bisa ngalahin salah satu tim juara kita bilang ya, tim dengan kapasitas yang baik di nasional. Itu menurut saya prestasi yang luar biasa buat kita. Dengan kita bisa ngalahin Maranatha, ya kita kasih tahu banyak orang juga bahwa kalau kita berusaha dengan baik, dengan latihan yang baik, kita bisa menang. Dengan effort yang kuat ya.

Di periode itu, apa yang berhasil diubah terkait kultur di Uncen?

Nah kita ubah itu supaya mereka enggak minum dan kita push mereka untuk kuliah dengan baik. Kita kasih punishment. Kalau ada yang ketahuan minum, cut dari tim. Kejam ya? Kejam tapi untuk kebaikan mereka juga.

Ya harusnya sudah lepas ya (sekarang). Tapi kalau setelah saya enggak di Uncen juga nanti pasti mereka juga menjaga itu supaya melekat di Uncen. Saya yakin dengan coaching staff yang berikutnya dan official di Uncen tetap menjaga hal itu supaya mereka enggak kembali ke kebiasaan buruk minum-minum lagi.

Treatment seperti apa yang dilakukan agar pemain menjauhi hal buruk?

Ya kita kasih progression ke mereka ya. Kalau misalnya mereka enggak minum, itu nanti bisa terlihat di progression-nya mereka. Mereka lompat lebih tinggi, bergerak lebih nyaman. Ya karena kalau sekali lagi, teorinya, minum itu mengubah koordinasi gerak. Apalagi kalau kita suka joget-joget tuh, wah sudah pasti. Joget-joget enggak karuan ya bukan joget-joget terstruktur ya.

Pelatih Tim Universitas Cenderawasih, Alfa Hari Kusumanegara. Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Setelah tiga tahun, Alfa Hari Kusumanegara memutuskan untuk tak melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih kepala di Uncen. Ia memutuskan untuk berkarier di tempat lain dan memberikan kesempatan pada pelatih Papua untuk menangani Uncen.

Kabarnya tak akan lanjut jadi pelatih kepala di Uncen?

Saya sudah enggak melatih di Uncen lagi karena saya ada kesibukan yang lain, di antaranya saya melatih di Timnas Flag Football, saya juga mencari apa sekarang jadi direktur teknik di MVP Basketball.

Mereka budayanya sudah terbentuk kan, saya enggak lepas seutuhnya. Kita masih kirim mereka program latihan, dan sudah saatnya juga untuk pelatih-pelatih di Papua tuh untuk step up memimpin secara keseluruhan tim Cenderawasih. Saya rasa sudah saatnya mereka untuk bangkit di sana.

Apa momen paling membekas selama melatih Uncen?

Momen paling membekas adalah saya punya banyak anak didik baru, saya punya banyak saudara baru, saya punya banyak kolega baru dari Papua. Saya punya banyak saudara baru di sana. Kita punya benar-benar ya kayak punya kakak baru, punya adik baru, ya keluarga baru kita. Kita punya keluarga baru di sana yang benar-benar saling support sehingga kita bisa berlaga dengan baik di nasional kemarin.

Jika bisa diceritakan satu momen yang paling terngiang di Uncen?

Waktu saya ke Papua. Jadi waktu saya di Papua itu sangat berbekas. Saya benar-benar tahu kondisinya mereka gimana, kita tahu mereka dilempari beling, kita lagi latihan diteriak-teriaki orang mabuk. Itu benar-benar berkesan buat saya.

Belum juga jalan-jalan ke Sentani, ke Ayapo, ngelatih anak-anak kecil di sana dari Uncen. Dia sangat berkesan sekali buat saya di sana. Bahkan sebenarnya dari Uncen tuh ngasih apa ya ngasih jatah hotel di sana untuk saya beberapa minggu kan, saya ambil di rumahnya anak-anak, di rumahnya Coach Hengki waktu itu. Jadi benar-benar lebih dekat sama anak-anak. Mereka bisa tidur di situ semua ber-12. Benar-benar seru.

Bagi Coach Alfa sendiri, ada enggak penyesalan selama melatih Uncen. Itu karena apa?

Penyesalannya ya kenapa kita enggak kerja sama lebih awal dengan Uncen gitu loh. Karena kalau kita kerja sama lebih awal di depannya mungkin kita punya talenta lebih maut lagi, lebih baik lagi.

Apalagi dengan adanya liga seperti Campus League di situ bisa jadi ajang apa ya ajang ekspresi buat mereka, pembuktian buat mereka bahwa mereka juga bisa bermain basket dengan ciri khasnya mereka. Ya syukur-syukur bisa ke AUBL. Kita buktikan, “Wah kita ada tim dari Papua, dari Indonesia yang bisa berlaga di internasional.” Sayangnya enggak. Itu saja sih.

Setelah mengakhiri karier di Uncen, apa yang pengin diucapkan kepada anak-anak Uncen?

Untuk anak-anak Uncen tetap berlatih, jaga attitude, jaga etika. Ceiling-nya masih jauh, jadi ya kerja keras, keep fun, semangatnya tinggi, semangat terus. Raih prestasi lebih tinggi.