kumparan
11 Okt 2018 16:44 WIB

Dari Podium Asian Para Games, Unifikasi Korea Suarakan Persatuan

Unifikasi Korea meraih perunggu di renang 4x100m freestyle relay 34 point Asian Para Games 2018. (Foto: INAPGOC: Jane Jones | For the IPC and APC)
"Olahraga adalah sebuah ranah yang menjunjung toleransi dan perdamaian," ucap Presiden Asian Paralympic Committee (APC), Majid Rashed.
ADVERTISEMENT
Maka, olahraga dengan menjunjung sportivitasnya mampu meleburkan batasan-batasan yang memisahkan manusia dan mengaburkan friksi, termasuk kala Korea Selatan dan Korea Utara bersatu di Asian Para Games 2018.
Ya, ini pertama kalinya Unifikasi Korea tampil bersama di multievent atlet difabel se-Asia itu. Tim Unifikasi Korea --selanjutnya disebut Korea-- berpartisipasi di dua cabang olahraga, yakni para renang dan tenis meja.
Bahkan, dengan menyatukan semangat dari kedua negara, Korea bisa mendapat perunggu di nomor estafet 4x100 meter 34 poin gaya bebas. Di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (10/10/2018), sejarah medali pertama di event olahraga disabilitas tercipta bagi Korea.
"Mereka bersama naik podium, ini menjadi pesan kepada dunia bahwa olahraga adalah sebuah tempat yang menjunjung toleransi dan perdamaian. Jika kalian bersatu, kalian akan lebih kuat," ucap Majid kepada kumparanSPORTS.
ADVERTISEMENT
"Kalian melihat dan mendengar riuh suporter ketika penyerahan medali di podium? Mereka meneriakkan Korea (unifikasi) dan itu datang dari hati mereka yang sudah lama menderita karena perpecahan ini. Ini pesan kepada kedua pimpinan, datang dari atlet yang menaiki podium bahwa ketika bersatu kita menjadi lebih kuat," imbuhnya.
Dengan tampilnya Korea di Asian Para Games edisi ke-3 yang juga kali pertama dihelat di Tanah Air, Majid berharap bangsa Asia bisa semakin solid. Terutama di kancah Paralimpiade, event tertinggi olahraga disabilitas, Asia bisa unjuk gigi sebagai bangsa terbaik.
Majid pun menyebut bahwa publik Indonesia seharusnya bangga menjadi bagian dari penampilan perdana Tim Korea di ajang multievent disabilitas internasional terbesar se-Asia. Bendera Korea mini, yang dibawa kontingen Korea, diharapkan tak hanya menjadi penghias tribune sesaat, tetapi bisa mengukuhkan diri di ajang dunia.
ADVERTISEMENT
Bendera unifikasi Korea (Foto: AFP/Jung Yeon-Je)
"Di Asian Para Games ini adalah cerita tentang determinasi, menunjukan kemampuan kita. Di sini bukan hanya olahraga, kalian bisa melihat cerita tentang melampaui batas."
"Terlepas dari situasi politiknya, olahraga bisa menyatukan Korea. Ini adalah pesan kemanusiaan yang bagus dan olahraga disabilitas bukan tentang medali dan peringkat, tapi melebihi itu semua, kita berbagi cerita. Ke depan semoga mereka bisa tampil (di cabor) lebih banyak," tuturnya.
Selain mengapresiasi penampilan Tim Korea, Majid juga bercerita di balik keputusannya menyetujui Korea ada di klasemen Asian Para Games 2018. Bersama Ketua Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC), Raja Sapta Oktohari, keduanya hanya memiliki satu tujuan: Asia adalah satu.
"Apa yang terjadi antara perwakilan Korea, saya dan Okto (sapaan Raja Sapta Oktohari, red) enam bulan jelang Asian Para Games 2018 adalah masa-masa yang sulit untuk memilih," katanya.
ADVERTISEMENT
"Pada akhirnya, kami memutuskan bisa lakukan ini. Korea sangat senang dengan keputusan kami. Mereka bisa berparade dan bertanding bersama. Orang-orang Korea melihat hasilnya sekarang," ucap Majid mengakhiri.
Sebelumnya, Unifikasi Korea sendiri pertama kali menurunkan tim pada Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang. Di level Asia, mereka mengikuti Asian Games pertama kalinya pada edisi ke-18 di Jakarta pada 18 Agustus hingga 2 September lalu.
Satu bulan berselang, barulah sejarah Korea dibukukan di multievent disabilitas Asian Para Games. Selain momen historis Korea, Asian Para Games 2018 juga untuk pertama kali diikuti semua National Paralympic Committee (NPC) Asia yang berjumlah 43 negara, termasuk Palestina.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan