Dewa Kipas Tolak Duel Lawan IM Anjas Novita, Diminta Beri Klarifikasi

Pelatih catur nasional, IM Anjas Novita, akhirnya mengontak Dewa Kipas alias Dadang Subur untuk mengajak tanding catur. Namun, ajakan Anjas tersebut ditolak.
Anjas dan Dewa Kipas saling kontak via sambungan telepon WhatsApp. Pria asal Bandung itu lalu menolak ajakan si peraih medali emas PON dengan alasan 'beda kelas jauh'. Anjas sebelumnya menawarkan duel Catur Cepat 10 menit, 4 babak.
"Intinya sih dia (Dewa Kipas) bilang kalau dia enggak berani," kata Anjas saat dihubungi kumparan, Selasa (16/3).
Lebih lanjut, ia meminta agar Dewa Kipas memberi klarifikasi ke masyarakat yang awam soal catur. Konteksnya adalah ia harus menjelaskan pada masyarakat bahwa dirinya tidak 'sehebat' yang orang pikir.
Dengan begitu, Anjas berharap, publik tak lagi menyalahkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) usai tampil di konten Deddy Corbuzier.
Sebab, Anjas menyebut bahwa Kemenpora disalahkan publik karena dinilai mengabaikan pemain berbakat seperti Dadang Subur. Padahal, sang Dewa Kipas mengakui sendiri bahwa level permainan caturnya tak seheboh yang dibayangkan.
"Intinya kan Deddy Corbuzier kayak colek Kemenpora bahwa ini ada yang prestasi dunia tapi kok Kemenpora ke mana? Berawal dari situ, Kemenpora banyak dijelekkan masyarakat awam. Makanya, saya tergerak meminta [Dewa Kipas] klarifikasi via Dwi Tarung itu," terang Anjas yang diangkat menjadi ASN Kemenpora pada 2008 ini.
Setelah Dewa Kipas menolak duel, Anjas Novita lalu meminta pria asal Bandung itu untuk melakukan klarifikasi secara lisan. Jika bukan ke publik, Dadang bisa mengklarifikasi ke Deddy Corbuzier.
"Ya, dia harus bilang kalau 'prestasi' dia tidak sehebat yang dibayangkan Deddy Corbuzier. Karena posting-annya Deddy Corbuzier inilah banyak netizen yang menyalahkan Kemenpora karena Pak Dadang tidak diperhatikan. Hal inilah yang harus Pak Dadang klarifikasi ke Deddy Corbuzier," tegas Anjas.
Sebelumnya, Dewa Kipas juga sudah ditantang oleh Grand Master (GM) Susanto Megaranto. Akan tetapi, ia juga menolaknya dengan alasan serupa.
***
