Esai Foto: Dentuman Tinju di Kolong Tol, Pukulan untuk Masa Depan

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keval saat berlatih bersama Riki di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Keval saat berlatih bersama Riki di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di tengah riuhnya Jakarta Utara yang kerap diwarnai bentrokan antar-remaja, sebuah panggung keberanian hadir di sudut Warakas, Tanjung Priok. Namanya Sasana Ayuba.

Dandi (kiri) bersama Keval saat berlatih memukul dengan samsak di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dandi (kiri) bersama Keval saat berlatih memukul dengan samsak di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Berdiri di bawah kolong jalan tol Papanggo, di tengah riuhnya kendaraan yang melintas tanpa henti, sasana ini bukan sekadar tempat bertinju, tetapi arena transformasi di mana pukulan demi pukulan bukan sekadar adu fisik, melainkan ajang pembuktian diri.

Suasana Sasana Ayuba yang berada di kolong Tol Papanggo, Jakarta Utara. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sore itu, Camp Ayuba mendadak bergetar oleh teriakan para atlet saat mengarahkan pukulan ke samsak.

Para petinju saat berlatih di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Arena kecil yang biasanya sunyi kini terasa panas karena semangat para remaja dari Jakarta, Bekasi hingga Bogor. Mereka bukan sedang bersiap untuk tawuran, namun mereka berlatih bertarung dalam ring tinju yang sah dan terarah.

Salah satu petinju membantu mengikat sarung tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di pojok ring, Riki berdiri tegap. Atlet sekaligus pelatih di Ayuba Camp itu memandang anak-anak didiknya. Mereka datang dari latar belakang keras, tempat di mana bentrokan dan tawuran seakan mengancam menjadi jalan hidup.

Moreno (tengah), saat berlatih di ring tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Namun, Riki punya misi lain. "Kami ingin mengubah energi mereka dari jalanan ke ring. Bukan untuk berkelahi, tapi untuk berprestasi," tegasnya.

Dika (kiri) memukul lawan tandingnya saat berlatih tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sejak berdiri tahun 2006, Sasana Ayuba telah menjadi rumah bagi para pemuda yang ingin menemukan jati diri melalui olahraga. Setiap Minggu, disiplin dan latihan keras menjadi makanan sehari-hari mereka.

Catatan latihan tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Peluh bercucuran, tangan lebam, namun semangat tak pernah padam. "Di sini, mereka belajar disiplin. Mereka belajar bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari seberapa keras mereka memukul, tapi seberapa besar tekad mereka untuk berubah," tambah Riki.

Dan itu bukan sekadar kata-kata. Dari mereka telah mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan nasional dan internasional, sebut saja Jumanta. "Tiba-tiba Boxing" sebuah ajang perhelatan tinju dadakan yang telah digelar hingga empat kali, juga menjadi panggung bagi mereka untuk menunjukkan perubahan.

Salah satu petinju di Sasana Ayuba usai berlatih tanding di ring tinju. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Keval (kiri) bersama Dandi terkulai lemas usai berlatih tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di balik setiap dentuman sarung tinju yang menghantam keras, terselip harapan baru. Harapan untuk masa depan yang lebih cerah, jauh dari bayang-bayang kekerasan jalanan.

Sarung tinju di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sasana Ayuba membuktikan bahwa pukulan keras di ring bisa menjadi pelajaran hidup yang lebih bermakna daripada bentrokan di jalanan. Dan di sini, di arena kecil di Warakas, semangat perubahan terus berkobar.

Sejumlah petinju mendengarkan instruksi dari pelatih di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Para petinju saling menyemangati saat memulai latihan di Sasana Ayuba. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan