kumparan
19 Maret 2019 19:04

Final IBL 2019: SM dan Stapac Berebut Status Underdog

Konferensi pers final IBL 2018/19. Foto: Arif Utama/kumparan
Wajar jika Satria Muda (SM) merasa sebagai tim underdog di final IBL 2019 karena mereka sempat terseok-seok di babak reguler. Dari total 18 pertandingan, pasukan Youbel Sondakh itu telah 9 kali kalah. Untungnya, lewat kemenangan atas NSH Jakarta dalam tiga gim sengit di fase sebelumnya, mereka melangkah ke final.
ADVERTISEMENT
Menjadi menarik ketika Stapac Jakarta --lawan SM di final-- juga mengklaim status underdog. Padahal, Kaleb Ramot Gemilang cs. hanya takluk sekali dalam 18 laga di babak reguler. Raihan 17 kemenangan itulah yang membuat Stapac boleh menjadi tuan rumah dua kali dalam sistem final best of three.
Lantas, kenapa bisa Stapac mengaku sebagai underdog? Stapac sendiri sempat tertimpa masalah kekurangan pemain di awal musim ini, dan inilah salah satu yang memengaruhi cara pandang Stapac.
Selain itu, target Stapac musim ini ialah melangkah ke final kompetisi basket terelite di Indonesia – yang terakhir kali terjadi pada 2014 silam. Dengan kata lain, target Stapac sebenarnya sudah terpenuhi. Sehingga pelatih Stapac, Giedrius Zibenas, merasa para pemainnya bisa bermain lepas. Zibenas menuturkannya dalam konferensi pers final IBL di The Hook, Selasa (18/3/2019) siang WIB.
ADVERTISEMENT
Pemain Satria Muda, Avan Seputra, dalam pertandingan semifinal IBL melawan NSH Jakarta. Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
“Pertama-tama, kami merupakan tim yang tak diunggulkan. Jadi, ini yang membuat saya cukup sulit untuk mempersiapkan laga melawan Satria Muda, yang memiliki pengalaman lebih banyak dan tim yang lebih baik,” ucap sosok yang akrab disapa Ghibbi itu.
“Dengan begitu, kami akan bersiap seperti laga-laga sebelumnya. Kami ingin mengontrol apa yang bisa kami kontrol, termasuk dengan persiapan sebelum pertandingan. Kami perlu fokus, disiplin, seperti yang sudah kami biasakan di musim reguler kali ini,” imbuhnya.
Mari melihat dari sudut pandang berbeda. Sebagai pelatih SM, Youbel menegaskan pentingnya mental ketika menghadapi Stapac. Selain itu, absennya forward andalan SM, Jamarr Johnson akan coba disiasati Youbel dengan pemain yang tersedia.
Pemain Stapac Jakarta, Savon Rafriyq Llyod Goodman, dikepung pemain Pelita Jaya. Foto: ANTARA/Moch Asim
“Persiapan kami, sih, jelas menyangkut mental. Melihat track record kami kurang bagus, boleh dibilang kamilah tim underdog untuk tahun ini. Jadi, kami ingin bermain lepas di laga final nanti,” ucap Youbel.
ADVERTISEMENT
“Untuk pengganti Jamarr, kami masih ada sejumlah pemain lokal yang saya harapkan bisa step up di final nanti, misalnya Avan Seputra. Selain itu, saya juga berharap kepada pemain-pemain yang sebelumnya kontribusinya belum maksimal bisa tampil lebih oke di final. Karena saya percaya kami masih bisa membalikkan keadaan,” tegasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan