Gelimang Prestasi Syuci Indriani, Atlet Renang Tunagrahita Indonesia

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atlet Asian Para Games 2018, Suci. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Asian Para Games 2018, Suci. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Di negeri Samba, gadis kecil itu bingung bukan main. Dia menengok ke kanan dan ke kiri melihat lawan di dekatnya.

“Tinggi betul,” ucap dia yang bertinggi 154 cm.

Kala itu dia berada di ajang olahraga multi-event terbesar dunia bagi penyandang disabilitas, Paralimpiade Rio de Janeiro, Brazil 2016. Usianya baru 15 tahun, cukup muda dibanding lawan-lawannya. Bahkan bisa dibilang paling muda.

Gadis kecil itu adalah Syuci Indriani. Dia adalah atlet renang andalan Indonesia kelahiran Riau 28 Januari 2001. Sedari lahir Syuci tumbuh sebagai seorang tunagrahita. Kadar IQ-nya tak setara dengan banyak orang lainnya, tapi semangat juangnya untuk membela Indonesia begitu luar biasa.

Atlet renang penyandang disabilitas. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet renang penyandang disabilitas. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Syuci bersama 3 atlet renang nomor tunagrahita lainnya lolos menjadi wakil Indonesia di Paralimpiade Rio. Di nomor tunagrahita, semua atlet memiliki IQ di bawah 75. Namun, sayang kala itu Syuci belum berhasil mempersembahkan medali bagi Merah Putih.

Meski begitu, prestasi Syuci di luar ajang Paralimpiade terbilang mentereng. Dia berhasil meraih medali emas di ASEAN Para Games 2017, Malaysia, dan juga medali emas serta perak di Youth Para Games 2017, Dubai.

Prestasi ini tidak bisa lepas dari peran sang ayah yang memperkenalkannya dengan dunia renang sejak kecil.

“Awalnya sih disuruh renang aja sama papa, diceburin, habis itu lama kelamaan kaya pengin jadi atlet gitu,” cerita Syuci kepada kumparan selepas dia berlatih di Kolam Kopassus Kartasura, Sukoharjo.

Saat diperkenalkan dengan renang usia Syuci baru menginjak 6 tahun. Berkenalan dengan olahraga air populer ini membuat hidupnya terasa bahagia. Dia kemudian didaftarkan pada sekolah renang supaya bakat dan kemampuannya semakin terasah.

Memang sudah bakat, Syuci pun berhasil mendulang emas di kejuaraan pertamanya, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Selepas itu Syuci dipanggil untuk bergabung di Pelatnas Renang di Solo, tepatnya tahun 2013. Usianya baru belasan tahun saat dia yang biasanya sangat bergantung dengan orang tua, harus mandiri dan pergi jauh. Namun dia bertekad menjalaninya karena mimpi besarnya pada dunia renang.

“Kangenlah sama keluarga, kan sudah jauh-jauh merantau,” ucap penggemar berat perenang Amerika Serikat, Michael Phelps, itu.

Di Pelatnas Solo, Syuci berlatih pagi dan sore. Setiap pukul 05.00 WIB dia berangkat dari Hotel Sahid Jaya, tempatnya menginap, menuju Kolam Kopassus Kartasura. Perjalanan sekitar 30 menit harus terus dia lalui setiap hari demi bisa latihan.

Atlet renang Asian Para Games 2018, Syuci Indriani. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet renang Asian Para Games 2018, Syuci Indriani. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)

Ketatnya pola latihan tak membuat Syuci menyerah. Dia justru semakin bersemangat menempa diri.

Tekad dan catatan gemilang itu kini membuat Syuci ditargetkan mendulang emas di Asian Para Games 2018. Tak tanggung-tanggung, dua emas diprediksi akan diraih Indonesia melalui dirinya.

Bagi remaja seusianya, target itu tak membuat dirinya terbebani. Dia justru semakin bersemangat dan berusaha mewujudkannya. Sembari mengembangkan senyum, Syuci mengharap dukungan dan doa dari masyarakat Indonesia.

“Walaupun kami ini difabel, tetaplah dukung kami biar sukses,” pinta Syuci.

Syuci yang Kini Tak Lagi Grogi

Bagi remaja seusia Syuci, dirundung rasa khawatir dan grogi adalah hal biasa. Terlebih, saat dirinya dihadapkan dengan perlombaan besar tingkat dunia.

Pada mulanya, rasa grogi itu hadir kala dirinya hendak melintas di air. Syuci lebih banyak memperhatikan lawan dan menengok ke kanan dan kiri sehingga fokusnya justru terpecah.

“Ya dulu itu sering kencing-kencing, tengok lawan. Ya enggak kencing sih cuma ih kok tinggi banget ini-nya ini,” cerita Syuci penuh semangat.

video youtube embed

Pada saat itu, pelatih Syuci hadir untuk menenangkan dirinya. Bisikan-bisikan sang pelatih perlahan membuatnya tenang.

“Sudah santai saja itu lawanmu. Dia sama-sama makan nasi. Ya sudah santai lagi,” kata Syuci sembari tertawa.

Hadirnya rasa grogi itu menurut Syuci adalah salah satu musabab dirinya gagal meraih medali di Paralimpiade Rio. Namun, tak perlu lama-lama terlarut dalam kegagalan, perempuan berambut keriting ini bangkit dan mulai membajak prestasi.

Atlet renang Asian Para Games 2018, Syuci Indriani. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet renang Asian Para Games 2018, Syuci Indriani. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)

Hampir 10 tahun bergelut di dunia renang, kini rasa grogi itu perlahan terkikis dari dirinya. Syuci tak lagi sama dengan dirinya 2 atau 3 tahun lalu. Tak ada adegan dia menengok kanan dan kiri saat hendak berlomba di lintasan renang.

Pikirnya, hanya bagaimana bisa melintas secepat mungkin dan persembahkan medali bagi Indonesia.

“Sekarang enggak lah, karena sudah tanding-tanding,” kata Syuci.

kumparan akan menyajikan story soal atlet-atlet penyandang disabilitas kebanggaan Indonesia dan hal-hal terkait Asian Para Games 2018 selama 10 hari penuh, dari Kamis (27/9) hingga Sabtu (6/10). Saksikan selengkapnya konten spesial dalam topik ‘Para Penembus Batas’.