Hamdan Hamedan: Kemenpora Punya Data 600 Atlet Diaspora dari 14 Cabor
ยทwaktu baca 2 menit

Pencarian pemain keturunan atau diaspora di luar negeri tidak eksklusif hanya untuk cabang olahraga (cabor) sepak bola. Tenaga Ahli Kemenpora Bidang Diaspora dan Kepemudaan Kemenpora RI, Hamdan Hamedan, menerangkan bahwa sudah ada database untuk semua cabor.
Hamdan mengaku, pihaknya kini memiliki tak kurang dari 600 atlet diaspora dari 14 cabor. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan naturalisasi.
"Oke, database atlet diaspora kami sudah mendapatkan 600 dari, mungkin berapa cabor? 14 cabor. So far ada 600 atlet, baik itu sepak bola, basket, voli, dan lain sebagainya. Nah, kemudian kawan-kawan juga suka bertanya, ada enggak sih dulu KPI [key performance indicator] naturalisasi?" katanya dalam Diskusi PSSI Pers terkait naturalisasi di Kantor Kemenpora, Jakarta, pada Kamis (21/12).
"Pertama, bisakah individu tersebut berintegrasi dengan baik dan menjadi positive member of the team? Dengan kata lain, bisa transfer of knowledge, mengajarkan kedisiplinan, motivasi, war ethic, dan lain sebagainya."
"Kedua, apakah permainan dia secara individu bagus dilihat berdasarkan observasi dan data? Kadang-kadang dia mendapat man of the match award, dan lain sebagainya, ataupun best eleven, itu kan bisa dilihat ya. Ketiga, apakah dia memenangi individual award sebagai bukti dari kemampuan individunya?" tambahnya.
Hamdan Hamedan juga menekankan, ini enggak cuma tentang skill individu. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam naturalisasi atlet adalah kecocokan pemain itu sendiri dengan tim, ini berlaku juga di sepak bola dan cabor lain.
"Dia menang best player of the season, dan lain sebagainya. Lalu secara tim, permainan tim lebih baik setelah masuknya pemain itu? Kedua, membantu tim menang lawan rival yang sebelumnya sulit ditaklukkan? Ketiga, membantu tim memenangi kejuaraan atau mencapai prestasi yang ditentukan atau ditargetkan oleh cabor tersebut? Terakhir, membantu naiknya FIFA ranking?"
Hamdan Hamedan juga menjelaskan prinsipnya dalam berurusan dengan atlet diaspora. Ia selalu coba menciptakan relasi yang baik dengan mereka.
"Jadi, saya selalu approach ataupun berkomunikasi dengan seluruh atlet diaspora dengan prinsip kita itu bersahabat satu bangsa, satu saudara," terangnya.
"Jadi saya coba build network, relationship dengan mereka. Kenapa? Karena kadang-kadang kita tidak tahu kapan sih waktu yang tepat, momen yang tepat, event yang tepat untuk kedatangan mereka atau ketika mereka dibutuhkan oleh negara."
"Saya pikir kita men-treat mereka itu seperti kawan. Kapan pun, di mana pun, kalau mereka mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap Indonesia, tertarik membela Indonesia, mereka siap dipanggil," tandas Hamdan.
