Indonesia Open: Tunggal Putri Terakhir Tersungkur

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gregoria Mariska Tunjung (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gregoria Mariska Tunjung (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Satu-satunya tunggal putri Indonesia yang tersisa di babak kedua turnamen BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017, Gregoria Mariska Tunjung, harus tersingkir. Ia dikalahkan peringkat satu dunia asal Taiwan Tai Tzu Ying lewat pertarungan dua gim langsung 13-21 dan 16-21 di Jakarta Convention Centre, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Gregoria sebenarnya membuka laga dengan baik saat unggul 7-4. Akan tetapi, ia lengah dan tersusul menjadi 7-11 dan akhirnya ia harus melepas gim pertama dengan skor 13-21.

Memasuki gim kedua, Tzu Ying yang berstatus unggulan pertama dalam turnamen ini langsung tancap gas. Ia berhasil menguasai jalannya pertandingan dan akhirnya menutup pertandingan dengan skor 21-16 dalam waktu 30 menit.

Gregoria mengungkapkan bahwa kekalahannya dari Tzu Ying disebabkan karena dirinya terlalu terburu-buru. Ia juga mengaku tidak tenang ketika Tzu Ying kembali ke performa terbaiknya.

"Kalau tadi sih saya kurang tenang pas unggul, mainnya jadi buru-buru. Padahal saya harusnya tenang karena masalah angin, harusnya menunggu. Tapi tadi tidak bisa mengontrol irama saya pas main, jadinya pas unggul bukannya bisa mengatur permainan malah jadi buru-buru bisa kesusul sampai 11-7," ujar Gregoria seusai pertandingan.

Plenary Hall JCC Senayan (Foto: Antara/Wahyu Putro A)
zoom-in-whitePerbesar
Plenary Hall JCC Senayan (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

"Polanya dia memang begitu, menyolong bola. Cuma tadi saya tidak tenang, jadi pengembalian bola saya memudahkan dia. Jadi dia bermain menjadi mudah gitu. Karena saya baru pertama kali main di lapangan itu, jadi belum tahu lapangannya karena beda juga. Saya juga kurang menjaga poin, terlalu mudah banyak poin," lanjutnya.

Gregoria mengaku banyak pelajaran yang bisa diambil dari permainannya kontra Tzu Ying yang merupakan idolanya. Di sisi lain, ia mengaku tidak terbebani menjadi satu-satu tunggal putri yang tersisa di babak kedua.

"Dia kan salah satu idola saya juga. Saya dapat pengalaman banyak banget bisa main sama dia, jadi pemain kelas itu tidak mudah, saya harus mengembangkan diri lagi, saya butuh latihan lagi. Bukan cuma pukulan, tapi kaki, fokus saya, dan bagaimana saya harus mengatur irama main," katanya.

"Saya juga tidak terbebani, saya cuma kurang tenang dan terburu. Padahal dia pukulannya bagus, jadi saya mudah buang bola sendiri," tutupnya.