Jadi Pirlo Baru? Maaf, Marco Verratti Punya Cerita Sendiri

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Verratti, jenderal kecil Italia. (Foto: Alberto Lingria/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Verratti, jenderal kecil Italia. (Foto: Alberto Lingria/Reuters)

"Qui est Marco Verratti?"

Demikianlah bunyi headline harian olahraga Prancis L'Equipe kala Paris Saint-Germain memboyong Marco Verratti dari Pescara musim panas 2012 lalu. Qui est Marco Verratti? Siapakah Marco Verratti?

Tidak banyak orang yang benar-benar tahu siapa Verratti dan seperti apa caranya bermain ketika itu. Walau namanya sudah tenar berkat cerita dari mulut ke mulut, tetap saja dia belum teruji. Apalagi, usianya saat itu masih 19 tahun dan belum pernah sekali pun mengecap kerasnya sepak bola level tertinggi.

Empat musim berselang, PSG layak menepuk dada. Perjudian mereka rupanya tidak salah karena Verratti saat ini sudah menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia.

Ketika namanya mencuat dulu, Verratti masih bermain untuk skuat Pescara asuhan Zdenek Zeman. Dengan formasi 4-3-3 yang khas, pelatih asal Republik Ceska tersebut memaksa Verratti untuk mengubah cara bermainnya. Jika sebelumnya dia bermain di belakang dua penyerang sebagai trequartista, oleh Zeman dia ditarik mundur untuk menjadi seorang regista.

Tak ayal, Verratti muda pun segera dibanding-bandingkan dengan Andrea Pirlo. Selain karena bakatnya, tentu saja, perubahan peran itu juga menjadi alasan tersendiri.

Park Ji-Sung menjaga Andrea Pirlo (Foto: Laurence Griffiths)
zoom-in-whitePerbesar
Park Ji-Sung menjaga Andrea Pirlo (Foto: Laurence Griffiths)

Pirlo, ketika masih muda dulu, merupakan seorang gelandang serang. Namanya mulai melejit ketika sukses membawa Tim Nasional Italia U-21 menjuarai Euro U-21 tahun 2000 lalu. Di situ, dia juga keluar sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.

Akan tetapi, di Internazionale, Pirlo tak kunjung mendapat tempat. Pada pertengahan musim 2000/01, dia pun dikirim kembali ke klub lamanya, Brescia.

Pelatih Brescia kala itu, Carlo Mazzone, menemukan alasan mengapa Pirlo tidak kunjung mampu tampil mengesankan. Selain karena mulai pudarnya tren pemain no. 10, kemampuan fisik Pirlo juga membatasi dirinya untuk menaklukkan pemain-pemain bertahan lawan dalam duel individual. Padahal, dia punya kemampuan teknikal dan visi bermain yang nyaris tanpa tanding. Akhirnya, Mazzone pun mengubah Pirlo menjadi seorang regista dan sisanya adalah sejarah.

Meski publik kerap menyamakan dirinya dengan Verratti, Pirlo dengan tegas menyatakan bahwa cara bermain mereka tidak sama. Alasannya, karena "tidak ada orang yang bermain seperti dirinya".

Jawaban Pirlo itu -- meski terkesan arogan -- benar. Tidak ada orang yang bermain seperti Pirlo dan cara bermain Verratti memang tidak seperti itu.

Andrea Pirlo adalah salah satu pemain paling flamboyan yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Tanpa perlu banyak berlari, dia mampu mendikte permainan dari kedalaman. Cukup bergeser ke kanan-kiri dan melepaskan umpan-umpan akurat, permainan tim bakal berjalan dengan sendirinya. Karena itulah, muncul perbandingan antara pemain-pemain seperti Pirlo (deep-lying playmaker) dengan quarterback di American football.

Verratti, sementara itu, lebih lengkap dari Pirlo. Jika Pirlo dipasang di belakang dan dilindungi oleh pemain-pemain seperti Gennaro Gattuso dan Arturo Vidal, Verratti tidak begitu. Dia justru sanggup bermain di belakang karena kemampuan fisik dan bertahannya juga bagus.

Tak hanya itu, Verratti juga lebih dinamis dibanding Pirlo. Dia lebih cepat, lebih kuat, lebih agresif, dan lebih fleksibel untuk diberi peran apa saja.

Apabila Pirlo hanya bisa bermain di depan para pemain bertahan dan harus dilindungi, Verratti sesekali mampu juga dipasang sebagai gelandang serang seperti ketika masih di Pescara dulu. Kemampuan dribel dan melindungi bola, ketangkasan, daya ledak, serta keseimbangan tubuh yang lebih baik dibanding seniornya itu membuat Verratti menjadi pemain yang betul-betul serbabisa di tengah. Dia bisa bermain sebagai kreator dan pelindung sekaligus.

Verratti lebih agresif dari Pirlo. (Foto: Jean-Paul Pelissier/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Verratti lebih agresif dari Pirlo. (Foto: Jean-Paul Pelissier/Reuters)

Ego Pirlo mungkin bakal menghalangi dirinya untuk mengatakan bahwa Verratti adalah pemain yang lebih lengkap. Namun, memang demikianlah adanya. Tentu "lebih lengkap" bukan berarti "lebih baik", karena segala keterbatasan Pirlo itu mampu dia tutupi dengan kecerdasan yang sulit sekali ditandingi. Selain itu, Pirlo juga memiliki kharisma yang bisa berpengaruh pada kondisi psikologis tim. Dia adalah Gandalf bagi pasukan Rohan yang terkurung di Helm's Deep.

Verratti tentu belum punya itu, dan apakah dia bakal bisa memiliki pengaruh yang sama dengan Pirlo, tak ada yang tahu. Kharisma itu pun tidak didapatkan Pirlo dengan cuma-cuma. Sejak kariernya diselamatkan Milan, Pirlo memang selalu dikelilingi nama-nama besar. Sebelumnya, ketika dipinjamkan ke Brescia, ada pula sosok Roberto Baggio yang membimbingnya.

Itulah mengapa langkah Verratti untuk melarikan diri ke Paris sudah sangat tepat. Di waktu yang bersamaan dengan kedatangannya, PSG mendatangkan Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva. Kedua pemain itu adalah pemain besar dan mereka menjadi tokoh sentral bagi PSG dalam mengenyahkan olok-olok yang sebelumnya biasa mereka terima. Kini, setelah Ibra hengkang pun, PSG punya nama besar lain dalam diri Angel Di Maria.

Jika ada satu hal yang paling kentara dari Pirlo, itu adalah ketenangannya dalam bermain. Ketenangan itu, selain karena pengalaman, juga hadir dari mentalitas yang dibangun di sekelilingnya. Bermain untuk tim besar berarti membiasakan diri untuk menang sekaligus membenci kekalahan. Verratti sendiri sudah mulai terbiasa dengan itu, meski PSG belum kunjung mampu berprestasi optimal di Eropa.

Verratti, bersama PSG, sudah berada di jalur yang tepat. Dia memang bukan penerus Pirlo karena pertama, tidak ada yang bisa menggantikan Pirlo, dan kedua, Verratti tidak perlu menjadi pengganti Pirlo. Dia cukup menjadi seorang Marco Verratti dan menuliskan ceritanya sendiri.