Jonatan Christie dan Jalan Terjal Menuju Podium Tertinggi Asian Games

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atlet bulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie setelah usai melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet bulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie setelah usai melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Usianya baru 20 tahun. Tapi dalam dua atau tiga tahun terakhir, dia diberi ekspektasi untuk bisa meneruskan takhta Taufik Hidayat sebagai jagoan tunggal putra Indonesia.

Ekspektasi yang besar itu menjadi tekanan tersendiri untuk seorang Jonatan Christie. Satu tekanan lain yang kerap menghampirinya adalah beban ketika menghadapi lawan yang secara peringkat lebih tinggi darinya. Menghadapi nama-nama macam Chen Long, Lee Chong Wei, atau Son Wan-ho, Jonatan mengaku acap 'kalah sebelum bertanding'.

Di Birmingham Arena sekitar lima bulan lalu, kepada kumparanSPORT, Jonatan mencoba mengubah pandangannya itu. Salah satu hal yang dilakukannya agar dia bisa tampil lepas dan kariernya menanjak adalah dengan menyingkirkan beban-beban tersebut. Menepak tekanan yang ada.

"Kita harus bisa ubah mindset, ubah cara berpikir. Jadi, jangan terlalu dipusingin banget (soal lawan), 'wah besok ketemu si ini, ketemu si ini'. Lama-lama, kalau kita selalu pikirin, saya tuh pernah nggak bisa tidur, sampai kepikiran," kata dia ketika itu.

"Makanya saya coba rileks aja, enjoy, ubah pikirannya, ganti sama yang lain kayak refreshing, misalnya jalan sambil cari makan, atau main gim. Setidaknya kita jangan pusing banget sampai pertandingan ini, nanti malah jadi tegang, nervous," tambahnya.

Jonatan Christie, di All England 2018 (Foto: Bergas Agung/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jonatan Christie, di All England 2018 (Foto: Bergas Agung/kumparan)

Di All England 2018 itu, langkah Jonatan memang hanya sampai di babak kedua saja. Lajunya dihentikan Son Wan-ho. Namun, setelahnya, ada penampilan cukup baik yang ditunjukkan oleh pemilik medali emas SEA Games 2017 itu. Tapi, Jonatan juga tahu, kariernya tak akan ke mana-mana jika dia hanya bermain baik saja; dia harus memenangi gelar.

Karena itu, kritik juga masih tetap mengarah padanya. Tekanan dan beban yang dia coba singkirkan tak sepenuhnya hilang. Dia bahkan mengaku sempat terpuruk, karena rekan seperti Anthony Sinisuka Ginting sukses memenangi gelar dan menanjak permainannya. Sementara meski sudah berusaha, gelar-gelar juara belum sampai padanya.

Dia memang berhasil meraih emas SEA Games 2017, tetapi tak ada prestasi mayor lain yang berhasil diraihnya. Prestasi termutakhirnya hanyalah perak Selandia Baru Terbuka atau perak Korea Terbuka. Selain itu, Jonatan stagnan.

***

Jonatan Christie datang ke Asian Games dengan status non-unggulan. Statusnya sebagai tunggal putra peringkat ke-15 dunialah yang memberinya predikat non-unggulan itu. Karena itu, di babak 32 besar, pebulu tangkis berusia 20 tahun itu sudah langsung berhadapan dengan unggulan pertama turnamen, Shi Yuqi.

Jonatan Christie mengalahkan Kenta Nishimoto. (Foto: Puspa Perwitasari/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Jonatan Christie mengalahkan Kenta Nishimoto. (Foto: Puspa Perwitasari/Antara)

Bagi pebulu tangkis tunggal putra manapun, Yuqi bukanlah lawan yang mudah. Pria China itu merupakan tunggal putra terbaik kedua dunia dan di tahun 2018 dia baru saja memenangi gelar All England, India Terbuka, dan merengkuh medali perak di Kejuaraan Dunia.

Jika Anda lupa, Yuqi juga merupakan salah satu penentu keberhasilan Tim Putra China meraih emas nomor beregu Asian Games 2018. Kala itu, di partai final menghadapi Indonesia, pria berusia 22 tahun tersebut mengalahkan Anthony Ginting dalam sebuah partai bulu tangkis paling memorial untuk masyarakat Tanah Air di Asian Games 2018.

Jonatan nyatanya tak tertekan. Yuqi yang jago itu dihadapinya. Pebulu tangkis kelahiran Jakarta itu sukses memenangi pertarungan tiga gim dengan skor 21-19, 19-21, 21-17. Jonatan berhasil menyingkirkan unggulan pertama turnamen.

Di babak kedua, giliran jagoan Thailand, Khosit Phetpradab, yang coba menghalangi laju Jonatan. Dia memang sempat kesulitan karena kalah 17-21 di gim pertama. Namun, di dua gim berikutnya, Jonatan menang 21-18. Langkahnya sampai di perempat final.

Jonatan Christie di Asian Games 2018. (Foto:  ANTARA FOTO/INASGOC/Puspa Perwitasari)
zoom-in-whitePerbesar
Jonatan Christie di Asian Games 2018. (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Puspa Perwitasari)

Pada babak ini, wakil Hong Kong bernama Wong Wing Ki mencoba mengadang lajunya. Namun, Jonatan sekali lagi membuktikan bahwa Indonesia bisa berharap padanya. Di babak ini, pebulu tangkis berusia 20 tahun itu berhasil menang dua gim langsung dengan skor 21-11, 21-18.

Ujian berikutnya di babak semifinal datang dari unggulan kedelapan turnamen, Kenta Nishimoto. Ini adalah lawan yang berhasil dikalahkan Jonatan di semifinal nomor beregu, tapi situasi jelas berbeda sekarang. Ini nomor perorangan dan Nishimoto datang tanpa beban.

Benar saja. Jonatan mendapat perlawanan yang kelewat sengit dari Nishimoto. Meski berhasil menang 21-15 di gim pertama, dia kalah dengan skor serupa di gim kedua. Jonatan sekali lagi bisa membuktikan diri ketika mampu keluar dari tekanan dan menang dengan skor 21-19 di gim ketiga. Tiket final direngkuh.

Di final, dia harus berhadapan dengan unggulan empat turnamen, Chou Thien-chen. Pebulu tangkis asal Taiwan itu jelas merupakan lawan berat karena dia berperingkat enam dunia dan di babak semifinal berhasil mengandaskan perlawanan Anthony Ginting dengan meyakinkan.

Atlet bulutangkis Indonesia, Jonatan Christie saat melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta (28/08/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet bulutangkis Indonesia, Jonatan Christie saat melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta (28/08/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Namun, Jonatan menunjukkan bahwa dia melalui tekanan demi tekanan dengan lebih dewasa. Di partai final dan menghadapi lawan berat, dia memulai dengan menang 21-18 di gim pertama. Kendati begitu, saat gim kedua tiba, tekanan besar harus diterimanya usai kalah dengan skor 20-22 dari Chen.

Pada gim ketiga, dia menunjukkan kedewasaan dalam memenangi tekanan-tekanan itu. Apa yang disampaikan di Birmingham Arena terbukti. Jonatan fokus bermain, menyingkirkan tekanan yang ada, dan mencoba menekan lawan. Hasilnya, Chen kewalahan dan Indonesia ketambahan satu medali emas setelah Jonatan menang 21-15.

***

"Sebelum Asian Games 2018 ini saya benar-benar merasa ada di bawah, mungkin bisa di bilang terpuruk, terus juga di saat saya dalam kondisi itu banyak yang berkomentar negatif, itu yang rasanya membuat saya berpikir: Kita sudah berusaha tapi hasilnnya hanya sebatas itu," ini yang dikatakan Jonatan dalam konferensi pers selepas laga.

"Saya kemudian berpikir, saya lelah dan akhirnya saya bisa lepas dan keluar dari semua itu. Saya tidak hanya senang menenangi medali emas, tapi juga mulai berpikir lagi bahwa saya masih bisa (mendapat prestasi) lain," tambah dia.

Atlet bulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie setelah usai melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet bulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie setelah usai melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Saya tak tahu apa yang dilakukan Jonatan di hari sebelum laga, ritual apa yang dilakukannya. Main gim seperti Andrea Pirlo di hari sebelum ia memenangi Piala Dunia 2006? Entahlah. Tapi di Istora GBK, Selasa (28/2/2018) siang tadi, saya sudah melihat perwujudan dari apa yang dikatakan Jonatan. Di partai final tunggal putra itu, Jonatan berhasil membuktikan diri.

Beban, kritik, tekanan, hingga cemooh yang mengarah berhasil dijawabnya dengan keping medali emas. Ini adalah gelar terbesar sepanjang kariernya dan dengan gelar itu pula Jonatan ingin membuktikan bisa menjadi lebih besar lagi.