Jurnal: Bendera Indonesia dan Deja Vu di Sirkuit Sepang

Bagi saya, Sirkuit Internasional Sepang selalu menghadirkan memori serupa. Hanya momennya yang berbeda.
Mari memulainya dengan jejak saya di starting grid, tempat para rider MotoGP memulai balapan pada Minggu (4/11/2018) waktu setempat. Berkat kemurahan hati manajemen Castrol Indonesia, saya berdiri bersama para rider di sini.
Memang tak cukup sekadar akreditasi jurnalis untuk memasuki area tersebut. Anda membutuhkan logam bertuliskan 'grid' di ID. Saya mendapatkannya dari tim LCR Honda yang mengusung Castrol sebagai salah satu sponsor.
Dari area itu, saya bisa melihat dari dekat bagaimana persiapan Valentino Rossi sebelum merebut posisi terdepan, tetapi mengalami crash saat balapan menyisakan empat putaran. Atau ketenangan Marc Marquez yang terkena penalti, kemudian keluar sebagai juara berkat jatuhnya Rossi.
Rossi memang masih menjadi magnet di Sepang. Begitu banyak atribut bertuliskan "VR46" di tribune. Begitu pula untuk jurnalis. Di starting grid, salah seorang fotografer Vietnam bernama Dao Tuan tiba-tiba menanyakan kepada saya, "Di mana Rossi?"
"Bukan di sini. Coba jalan ke barisan depan. Dia start dari posisi kedua," begitu jawaban saya.
Saat itu, saya baru mengambil gambar Rossi, Johann Zarco yang menempati pole position, Marquez, dan Stefan Bradl yang menggantikan Cal Crutchlow sebagai pebalap LCR Honda.
Tak sempat mengambil gambar lain karena setelah menjawab pertanyaan dari fotografer Vietnam tersebut, fokus saya teralihkan ke arah tribune Main Grandstand. Di situ, penonton yang mayoritas orang Malaysia berteriak, "Hafizh, Hafizh, Hafizh!"
Bukan teriakan dukungan terhadap Hafizh Syahrin yang membuat saya terdistraksi, melainkan terbentangnya sebuah bendera Indonesia di tribune. Sebuah momen yang menghadirkan deja vu buat saya.
Ya, rangkaian MotoGP Malaysia bukanlah kali pertama saya menyambangi Sepang. Awal Oktober 2017, saya mengunjungi sirkuit ini untuk meliput pebalap Indonesia, Sean Gelael, yang memacu mobil Scuderia Toro Rosso di latihan bebas Formula 1 Malaysia. Itulah terakhir kali balapan F1 digelar di Negeri Jiran sehingga mengusung slogan 'Finale'.
Tahun lalu, saya tidak mendapatkan kemewahan menonton lewat tembok kaca di Corporate Suite, apalagi berdiri di starting grid. Saya menyaksikan kemenangan Lewis Hamilton di atas hamparan rumput di tribune K2.
Namun, momen yang menarik perhatian saya tahun lalu tetaplah sama, yakni bendera Indonesia. Kali ini, dibentangkan oleh penonton bernama Faiz Maruf Al Kautsar.

Kedatangan orang Indonesia ke Sepang demi menyaksikan balapan F1 atau MotoGP adalah perkara lumrah. Secara geografis, inilah sirkuit paling dekat dari Tanah Air. Dan, secara hitung-hitungan fulus, tiket ke Bandara Kuala Lumpur plus perjalanan darat menuju Sepang tak begitu mencekik dompet.
Yang membuat saya gereget, sampai kapan fenomena tersebut bertahan? Padahal, Indonesia sudah mampu menggelar multievent terbesar se-Asia alias Asian Games. Namun, perhelatan MotoGP di Tanah Air terus bergulir sebagai wacana sejak 2015.
Setiap melihat bendera Indonesia di Sepang, pikiran saya memang selalu mundur ke belakang. Saya masih ingat bagaimana Dorna dan pemerintah menggelar jumpa pers di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Mei tiga tahun lalu. Topiknya menyoal kans Indonesia masuk kalender MotoGP dan Sirkuit Sentul menjadi proyeksi venue.
Salah satu kawan yang paling saya ingat di liputan tiga tahun lalu adalah Scherazade Mulia Saraswati. Saya menjulukinya 'Kamus MotoGP' karena pengetahuan dan jaringan penggemar Rossi ini sungguh luar biasa. Maka tak heran jika saya kerap berkonsultasi kepada dia menyoal dunia balap, termasuk saat bersua di Media Centre Sirkuit Sepang.
Dalam jumpa pers di Kantor Kemenpar dulu, saya juga sempat berguru kepada Ade --demikian Scherazade disapa. Dia turut mengingatkan bahwa Rossi juga pernah memacu motornya di Indonesia. Momennya sudah lama, sih, yaitu pada 1996-1997 di kelas 125cc.
Ade pula yang mengimbau saya agar jangan terlalu berharap menyaksikan MotoGP di Sentul. Karena menilik fasilitas penunjang seperti akses dari bandara ke sirkuit masih jauh dari memenuhi syarat.
Namun, melalui laporan eksklusifnya, si 'Kamus MotoGP' malah memberikan saya dan orang Indonesia lainnya sebuah asa untuk menyaksikan Rossi kembali mengaspal lintasan di Indonesia.
Tepatnya Senin (5/11) pagi, seorang rekan dari Castrol Malaysia mengajak empat jurnalis Indonesia, termasuk kumparanSPORT, untuk berbincang di lobi Hotel Grand Hyatt Kuala Lumpur. Dia menunjukkan sebuah tautan berita tentang kemungkinan MotoGP digelar di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berita tersebut memuat peta rancangan sirkuit yang bakal dibangun di area seluas 131 hektar. Disebut bahwa CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta--sosok yang juga hadir dalam jumpa pers di Kantor Kemenpar tiga tahun lalu--telah melakukan survei langsung ke NTB.
Dari situ, saya yang tengah bergegas ke bandara memendam harapan. Semoga, kunjungan ke Sepang menjadi kali terakhir saya meliput MotoGP di luar Indonesia. Lebih puas pasti jika kesempatan berikutnya datang tanpa melalui gerbang imigrasi, melainkan cukup terbang menuju pulau lainnya di Indonesia.
Karena rekan-rekan kumparanSPORT yang mengawal Asian Games 2018 begitu menginspirasi saya. Seperti Karina Nur Shabrina yang merasa sangat bangga bisa meliput upacara pembukaan plus penutupan ajang internasional sekelas Asian Games di Tanah Air.
Sekadar berharap, itu saja yang bisa dilakukan oleh saya dan mungkin para penggemar MotoGP di Indonesia. Kalau keputusan, ya, pasti ada di tangan bapak-bapak yang hadir di Kantor Kemenpar tiga tahun lalu.
Tapi, semoga bapak-bapak itu juga ingat bahwa wacana sudah berkembang sejak 2015 atau saat Rossi masih bertaji. Musim 2018, rider Italia ini sudah kehilangan sentuhan dan tak pernah menaiki podium pertama. Masa orang Indonesia harus menunggu Rossi pensiun untuk menyaksikan MotoGP di negaranya sendiri?
